Peranan Bakat Dalam Proses Belajar
Jumat, 14 Oktober 2016
Pemprosesan Informasi Dalam Belajar
Pemprosesan Informasi Dalam Belajar
A. Konsep Sensasi, Atensi, Persepsi dan Memori
1.
Sensasi
Sensasi berasal dari
kata sense artinya alat penginderaan yang menghubungkan
organisme dengan lingkungannya. . Sedangkan menurut Ormrod (2009:272) Sensasi
adalah kemampuan orang untuk mendeteksi stimulti di lingkungan. Bila alat-alat
indera mengubah informasi menjadi impuls-impuls syaraf dengan bahasa yang
dipahami oleh otak maka terjadilah sensasi. Sensasi adalah pengalaman elementer
yang segera, tidak memerlukan penguraian verbal, simbolis atau konseptual dan
terutama sekali berhubungan dengan kegiatan alat indera. Fungsi alat indera
dalam menerima informasi sangat penting, melalui alat indera, manusia dapat
memahami kualitas fisik lingkungannya, memperoleh pengetahuan dan kemampuan
untuk berinteraksi dengan dunianya.
2.
Atensi
Atensi berasal dari
kata Attention yang artinya adalah perhatian. Atensi
adalah pemusatan pikiran, dalam bentuk yang jernih dan gamblang, terhadap
sejumlah objek stimulan atau sekelompok pikiran. Pemusatan (focalization)
kesadaran adalah intisari atensi. Atensi mengimplikasikan adanya pembagian
objek-objek lain agar kita sanggup menangani objek-objek secara selektif. Hal
ini sejalan dengan pendapat Santrock (2010:313) atensi adalah mengonsentrasikan
dan memfokuskan (memusatkan) sumber daya mental.
3.
Persepsi
Persepsi berasal
dari kata perception yang artinya tanggapan daya memahami
atau memahami sesuatu. Slameto (2010:102) mengidentifikasi persepsi
sebagai berikut:
“Persepsi adalah proses yang
menyangkut masuknya pesan atau informasi kedalam otak manusia. Melalui persepsi
manusia terus menerus mengadakan hubungan dengan lingkungannya. Hubungan ini
dilakukan lewat indranya, yaitu indra penglihatan, pendengar, peraba, perasa,
dan pencium”.
Persepsi merupakan tanggapan
yang dihasilkan dari pengamatan. Tanggapan adalah gambaran atau
berkas yang tinggal dalam ingatan setelah seseorang melakukan pengamatan.
Tanggapan ini akan memberikan pengaruh terhadap perilaku belajar siswa.
Pendapat ini mengandung makna bahwa dalam proses belajar mengajar akan timbul
suatu tanggapan dari siswa, tanggapan ini akan mempengaruhi perilaku siswa
selanjutnya. Dengan kata lain tingkah laku siswa dalam belajar ditentukan oleh
bagaimana tanggapannya tentang objek atau sesuai yang diamatinya.
4.
Memori
Memori atau ingatan adalah
retensi informasi. Para psikolog pendidikan mempelajari bagimana informasi
diletakan atau disimpan dalam memori, bagaimana ia dipertahankan atau disimpan
setelah disandikan (encoded), dan bagaimana ia ditemukan dan diungkapkan
kembaliuntuk tujuan tertentu dikemudian hari. Memori membuat diri kita merasa
berkesinambungan (Schacter, 2001 dalam Santrock, 2010:312).
Menurut Suyono (2012:77), ada
tiga macam sistem penyimpanan ingatan, yaitu:
a)
Memori sensori (sensory memory), suatu sistem mengingat stimulti
secara cepat sehingga dapat berlangsung analisis persepsi, di sini proses
berlangsung selama 3-5 detik, masukan utamanya dari penglihatan dan suara.
b)
Memori kerja (working memory), merupakan memori jangka pendek,
short-term memory (STM), mampu menyimpan 5-9 informasi dalam waktu sekitar
15-20 detik, sehingga cukup waktu bagi pengelolaan informasi. Dalam hal ini,
informasi yang diberi kode (decode) serta persepsi setiap individu akan
menentukan apa yang disimpan dalam memori kerja.
c)
Memori jangka panjang, longterm memory (LTM), berfungsi
menyimpan informasi yang sangat besar dalam waktu yang lama. Informasi yang
tersimpan di dalamnya dapat dalam bentuk verbal maupun visual.
Ada beberapa proses yang
berkaitan dengan memori. Santrock membaginya atas tiga, yaitu:
a)
Encoding, adalah proses pemasukan informasi ke dalam memori. Encoding memiliki
banyak kemiripan dengan atensi dan pembelajaran. Untuk mengawali proses
encoding, anak harus memperhatikan informasi.
b)
Penyimpanan (storage), adalah retensi informasi dari waktu ke
waktu.
c)
Pengambilan kembali (retrieval), adalah mengambil informasi dari
simpanan memori ketika dibutuhkan.
B. Faktor-Faktor yang Mempengaruhi Pemrosesan Informasi
Adapun faktor yang mempengaruhi pemrosesan informasi dalam belajar yaitu:
1. Faktor internal (psikologis
dan fisiologis) dan eksternal
2. Tidak semua individu mampu
melatih memori secara maksimal
3. Proses internal yang tidak
dapat diamati secara langsung.
4. Tingkat kesulitan mengungkap
kembali informasi-informsi yang telah disimpan dalam ingatan
5. Kemampuan otak tiap individu
tidak sama.
C. Pemamfaatan Pemrosesan Informasi dalam Belajar
Pemanfaatan pemprosesan informasi dalam belajar yaitu :
1.
Membantu terjadinya proses pembelajaran sehungga individu mampu
beradaptasi pada lingkungan yang selalu berubah.
2.
Menjadikan strategi pembelajaran dengan menggunakan cara berpikir yang
berorientasi pada proses lebih menonjol.
3.
Kapasilitas belajar dapat disajikan secara lengkap.
4.
Prinsip perbedaan individual terlayani.
D. Lupa dalam Belajar
Lupa
merupakan istilah yang sangat populer di masyarakat. Dari hari ke hari dan
bahkan setiap waktu pasti ada orang-orang tertentu yang lupa akan sesuatu,
entah hal itu tentang peristiwa atau kejadian di masa lampau atau sesuatu yang
akan dilakukan, mungkin juga sesuatu yang baru saja dilakukan. Fenomena dapat
terjadi pada siapapun juga, tak peduli apakah orang itu anak-anak, remaja,
orang tua, guru, pejabat, profesor, petani dan sebaginya (Djamarah,2008:206).
1.
Proses Terjadinya Lupa dalam Belajar
Daya ingatan kita tidak sempurna. Banyak hal-hal
yangpernah diketahui, tidak dapat diingat kembali atau dilupakan.
Dewasa ini ada empat cara untuk menerangkan proses
lupa keempatnya tidak saling bertentangan, melainkan saling mengisi.
a)
Apa yang telah kita ingat, disimpan dalam bagian tertentu diotak kalau
materi yang harus diingat itu tidak pernah digunakan, maka karena proses
metabolisme otak, lambat laun jejak materi itu terhapus dari otak sehingga kita
tidak dapat mengingatnya kembali. Jadi, karena tidak digunakan, materi itu
lenyap sendiri.
b)
Mungkin pula materi itu tidak lenyap begitu saja, melainkan mengalami
perubahan-perubahan secara sistematis, mengikuti prinsip-prinsip sebagai
berikut:
1)
Penghalusan: materi berubah bentuk ke arah bentuk yang lebih simatris,
lebih halus dan kurang tajam, sehingga bentuk yang asli tidak diingat lagi.
2)
Penegasan: bagian-bagian yang paling mencolok dari suatu hal adalah yang
paling mengesankan. Karena itu, dalam ingatan bagian-bagian ini dipertegas,
sehingga yang diingat hanyalah bagian-bagian yang mencolok, sedangkan bentuk
keseluruhan tidak begitu diingat.
3)
Asimilasi: bentuk yang mirip botol misalnya,
akan kita ingat sebagai botol, sekalipun bentuk itu bukan botol. Dengan
demikian, kita hanya ingat sebuah botol, tetapi tidak ingat bentuk yang asli.
Perubahan materi di sini disebabkan bagaimana wajah orang itu tidak kita ingat
lagi.
4)
Kalau mempelajari hal yang baru, kemungkinan hal-hal yang sudah kita
ingat, tidak dapat kita ingat lagi. Dengan kata lain, materi kedua menghambat
diingatnya kembali materi pertama. Hambatan seperti ini disebut hambatan
retroaktif. Sebaliknya, mungkin pula materi yang baru kita pelajari tidak dapat
masuk dalam ingatan, karena terhambat oleh adanya materi lain yang terlebih
dahulu dipelajari, hambatan seperti ini disebut hambatan proaktif.
c)
Ada kalanya kita melakukan sesuatu. Hal ini disebut represi.
Peristiwa-peristiwa mengerikan, menakutkan, penuh dosa, menjijikan dan sebagainya,
atau semua hal yang tidak dapat diterima oleh hati nurani akan kita lupakan
dengan sengaja (sekalipun proses lupa yang sengaja ini terkadang tidak kita
sadari, terjadi diluar alam kesadaran kita). Pada bentuknya yang ekstrim,
represi dapat menyebabkan amnesia, yaitu lupa nama sendiri, orang tua, anak dan
istri dan semua hal yang bersangkut paut dirinya sendiri. Amnesia ini dapat
itolong atau disembuhkan melalui psikoterapi atau melalui suatu peristiwa yang
sangat dramatis sehingga menimbulkan kejutan kejiwaan pada
penderita(Fauzi dan Mutmainah,2005: 52-54).
2.
Faktor-Faktor Penyebab Lupa
Menurut Ormrod
(2008:308-309), ada empat kemungkinan (faktor) penyebab lupa, yaitu:
a.
Kegagalan untuk memanggil kembali (inability to retrieve), adalah
kegagalan untuk menemukan informasi yang ada dalam memori jangka panjang.
b.
Kesalahan Rekonstruksi (reconstruction error), konstruksi “memori”
yang logis namu salah dengan menggabungkan informasi yang dipanggil dari memori
jangkan panjang dengan pengetahuan dan keyakinan umum seseorang tentang dunia.
c.
Interferensi, Fenomena dimana sesuatu yang disimpan dalam memori jangka
panjang menghambat kemampuan seseorang untuk mengingat sesuatu yang lain dengan
benar. Atau, kegagalan informasi karena terhalang dengan informasi lain.
d.
Kerusakan informasi (decay), pelemahan bertahap informasi yang
disimpan dalam memori jangka panjang, terutama jika informasi tersebut jarang
digunakan.
Selain itu, ada beberapa hal lain yang menyebabkan lupa
a.
Lupa dapat terjadi pada siswa karena perubahan situasi lingkungan antara
waktu belajar dengan waktu mengingat kembali. Jika seorang siswa hanya mengenal
atau mempelajari hewan jerapah atau kudanil lewat gambar-gambar yang ada di
sekolah misalnya, maka kemungkinan ia akan lupa menybut nama hewan-hewan tadi
ketika melihatnya di kebun binatang.
b.
Lupa dapat terjadi karena perubahan sikap dan minat siswa terhadap proses
belajar mengajar dengan tekun dan serius, tetapi karna sesuatu hal sikap dan
minat siswa tersebut menjadi sebaliknya (seperti karena ketidaksenangan kepada
guru) maka materi pelajaran itu akan mudah terlupakan.
c.
Lupa dapat terjadi karena materi pelajaran yang telah dikuasai tidak
pernah digunakan atau dihafalkan siswa. Menurut asumsi sebagian ahli, materi
yang diperlakukan demikian denga sendirinya akan masuk ke alam bawah sadar atau
mungkin juga bercampur aduk dengan materi pelajaran baru.
d.
Lupa tentu saja dapat terjadi karena perubahan urat syaraf otak. Seorang
siswa yang terserang penyakit tertentu seperti keracunan, kecanduan alkohol,
dan geger otak akan kehilangan ingatan item-item informasi yang ada dalam
memori permanennya.
3.
Kiat Mengurangi Lupa dalam Belajar
Kiat terbaik untuk
mengurangi lupa adalah dengan cara meningkatkan daya ingat akal siswa. Banyak
ragam kiat yang dapat dicoba siswa dalam meningkatkan daya ingatannya adalah
sebagai berikut:
a.
Over learning
Over learning (belajar lebih)
artinya upaya belajar yang melebihi batas penguasaan dasar atas materi
pelajaran tertentu. Overlearning terjadi apabila respons atau reaksi tertentu muncul
setelah siswa melakukan pembelajaran atau respons tersebut dengan cara di luar
kebiasaan. Banyak contoh yang dapat dipakai untuk overlearning, antara lain
pembacaan teks pancasila pada setiap hari senin dan sabtu memungkinkan ingatan
siswa terhadap P4 lebih kuat.
b.
Extra Study Time
Extra Study Time (tambahan waktu
belajar) ialah upaya penambahan alokasi waktu belajar materi tertentu berarti
siswa menambah jam belajar. Penambahan frekuensi belajar berarti siswa
meningkatkan kekerapan belajar materi tertentu. Kiat ini dipandang cukup
strategis karena dapat melindungi memori dari kelupaan.
c.
Mnemonic Device
Mnemonic device (muslihat memori) yang
sering juga disebut mnemonic itu berarti kiat khusus yang dijadikan “alat
pengait” mental untuk memasukkan item-item informasi ke dalam sistem akal
siswa.
d.
Pengelompokkan
Maksud kiat pengelompokkan (clustering)
ialah menata ulang item-item materi menjadi kelompok-kelompok kecil yang
dianggap lebih logis dalam arti bahwa item-item tersebut memiliki signifikansi
dan lafal yang sama atau sangat mirip.
e.
Latihan Terbagi
Lawan latihan terbagi
(distributed practice) adalah massed practice (latihan terkumpul) yang sudah
dianggap tidak efektif karena mendorong siswa melakukan cramming. Dalam latihan
terbagi siswa melakukan latihan-latihan waktu-waktu istirahat. Upaya demikian
dilakukan untuk menghindari camming, yakni belajar banyak materi secara
tergesa-gesa dalam waktu yang singkat. Dalam melaksanakan istributed practice,
siswa dapat menggunakan berbagai metode dan strategi belajar yang efisien.
f.
Pengaruh Letak Bersambung
Untuk memperoleh efek positif dari pengaruh letak
bersambung (the serial position effect), siswa dianjurkan menyusun daftar
kata-kata (nama, istilah dan sebagainya) yang diawali dan diakhiri dengan
kata-kata yang harus diingat. Kata-kata yang harus diingat siswa tersebut
sebaiknya ditulis dengan menggunakan huruf dan warna yang mencolok agar tampak
sangat berbeda dari kata-kata yang lainnya yang tidak perlu diingat. Dengan
demikian, kata yang ditulis pada awal yang akhir daftar tersebut memberi kesan
tersendiri dan diharapkan melekat erat dalam subsistem akal permanen siswa
(Syah, 1996: 160-164).
Langganan:
Postingan (Atom)
