Jumat, 14 Oktober 2016

Peranan Bakat Dalam Proses Belajar

Peranan Bakat Dalam Proses Belajar



Peranan Bakat Dalam Proses Belajar


Psikologi Pendidikan





 





Oleh
A S R I
Nim / Bp : 16583 / 2010
Jurusan Teknik Otomotif
Program Studi S1 Pendidikan Teknik Otomotif



UNIVERSITAS NEGERI PADANG
2016





Peranan Bakat Dalam Proses Belajar

A.    Pengertian Bakat
Bakat atau aptitude merupakan kecakapan potensial yang bersifat khusus, yaitu khusus dalam sesuatu bidang atau kemampuan tertentu. Seseorang lebih berbakat dalam bidang bahasa sedang yang lain dalam matematika, yang lain lagi lebih menunjukkan bakatnya dalam sejarah, dan sebagainya.
Bakat dapat diartikan sebagi kemampuan bawaan yang merupakan potensi yang masih perlu dikembangkan atau dilatih. Kemampuan adalah daya untuk melakukan suatu tindakan sebagai hasil dari pembawaan dan latihan. Kemampuan menunjukkan bahwa suatu tindakan dapat dilaksanakan sekarang, sedangkan bakat memerlukan latihan dan pendidikan agar suatu tindakan dapat dilakukan di masa yang akan datang.
Bakat bukanlah merupakan sifat tunggal, melainkan merupakam sekelompok sifat yang secara bertimgkat membentuk bakat. Bakat baru muncul bila ada kesempatan untuk berkembang atau dikembangkan. Sehingga mungkin saja seseorang tidak mengetahui dan mengembangkan bakatnya sehingga tetap merupakan kemampuan yang latent.
Banyak para ahli mengemukakan tentang definisi bakat. Diantaranya adalah menurut W. B Michael bakat merupakan suatu kapasitas atau potensi yang belum dipengaruhi oleh pengalaman atau belajar, bakat berkenaan dengan kemungkinan menguasai sesuatu pola tingkah laku dalam aspek kehidupan tertentu.
Guillford memberikan definisi sedikit berbeda, menurutnya bakat banyak sekali, sebanyak perbuatan atau aktivitas individu. Ada tiga komponen dari bakat menurut Guillford, yaitu komponen: Intelektual, perseptual dan psikomotor. Komponen intelektual terdiri atas beberapa aspek, yaitu aspek pengenalan, ingatan, dan evaluasi. Komponen perseptual juga meliputi beberapa aspek, yaitu pemusatan perhatian, ketajaman indra, orientasi ruang dan waktu, keluasan dan dan kecepatan mempersepsi. Komponen psikomotor terdiri atas aspek-aspek rangsangan, kekuatan dan kecepatan gerak, ketepatan, koordinasi gerak dan kelenturan.



Ahli-ahli lain yang mengemukakan pengertian bakat diantaranya yaitu:
         S.C. Utami Munandar (1985)
Bakat (aptitude) pada umumnya diartikan sebagai kemampuan bawaan sebagai potensi yang masih perlu dikembangkan dan dilatih agar dapat terwujud.
         Kartini Kartono (1979)
Bakat mencakup segala faktor yang ada pada individu sejak awal pertama dari kehidupannya yang kemudian menumbuhkan perkembangan keahlian, kecakapan, dan keterampilan khusus tertentu. Bakat bersifat laten potensial (dalam arti dapat mekar berkembang). 
         Suganda Pubakawatja (1982)
Bakat sebagai benih dari suatu sifat, yang baru akan nampak nyata, jika mendapat kesempatan atau kemungkinan untuk berkembang.
         William B.Michael
Bakat adalah kemampuan individu melakukan tugas, sedikit atau tidak tergantung pada latihan sebelumnya.
         Bingham
Bakat adalah kondisi atau seperangkat sifat-sifat yang dianggap sebagai tanda kemampuan individu untuk menerima latihan (respon).

B.     Jenis-jenis Bakat
Menurut Rahayu (2), ada dua jenis bakat, yaitu diantaranya:
1.      Bakat umum,
merupakan kemampuan yang berupa potensi dasar yang bersifat umum, artinya setiap orang memiliki.
2.      Bakat khusus,
merupakan kemampuan yang berupa potensi khusus, artinya tidak semua orang memiliki misalnya bakat seni, memimpin, berceramah, olahraga. Bakat khusus ini terbagi lagi menjadi beberapa macam, diantaranya:
·    Bakat Verbal, yaitu bakat tentang konsep-konsep yang diungkapkan dalam bentuk kata-kata.
·    Bakat Numerikal, yaitu bakat tentang konsep-konsep dalam bentuk angka. 
·    Bakat bahasa (linguistik), yaitu bakat tentang penalaran analitis bahasa (ahli sastra) misalnya untuk jurnalistik, stenografi, penyiaran, editing, hukum, pramuniaga dan lain-lainnya.
·    Bakat kecepatan, ketelitian, klerikal, yaitu bakat tentang tugas tulis menulis, ramu-meramu untuk laboratorium, kantor dan dalam kerohanian.
·    Bakat Relasi Ruang (spasial), yaitu bakat untuk mengamati, menceritakan pola dua dimensi atau berpikir dalam 3 dimensi. Mempunyai kepekaan yang tajam terhadap detail visual dan dapat menggambarkan sesuatu dengan begitu hidup, melukis atau membuat sketsa ide secara jelas, serta dengan mudah menyesuaikan orientasi dalam ruang tiga dimensi.
·    Bakat Mekanik, yaitu bakat tentang prinsip-prinsip umum IPA, tata kerja mesin, perkakas dan alat-alat lainnya.
·    Bakat Abstrak, yaitu bakat yang bukan kata maupun angka tetapi berbentuk pola, rancangan, diagram, ukuran-ukuran, bentuk-bentuk dan posisi-posisinya.
·     Bakat Skolastik, yaitu kombinasi kata-kata (logika) dan angka-angka. (Termasuk didalamnya kemampuan dalam penalaran, mengurutkan, berpikir dalam pola sebab-akibat, menciptakan hipotesis, mencari keteraturan konseptual atau pola numerik, pandangan hidupnya umumnya bersifat rasional).
Berdasarkan cara berfungsinya, bakat dibedakan menjadi dua jenis, yaitu:
1.    Bakat yang berhubungan dengan kemampuan atau kemahiran di bidang pekerjaan tertentu, seperti bakat musik.
2.     Bakat khusus tertentu yang diperlukan sebagai perantara untuk mewujudkan kemampuan tertentu. Misalnya bakat melihat ruang (dimensi) diperlukan untuk mewujudkan bakat insinyur.
Bakat juga digolongkan menurut fungsi dan aspek-aspek yang terlibat dan yang terlihat dalam berbagai macam prestasi, yaitu:
1.     Bakat psikofisik
Bakat psikofisik adalah kemampuan yang berakar pada jasmaniah sebagai dasar bakat tersebut. Seperti kemampuan motorik, ketangkasan, kekuatan badan, kelincahan jasmani, keterampilan jari, dan anggota tubuh lainnya.
2.     Bakat kejiwaan yang bersifat umum
Bakat kejiwaan yang bersifat umum adalah kemampuan ingatan daya khayal atau imajinasi dan inteligensi.

3.     Bakat kejiwaan yang khas dan majemuk
Bakat kejiwaan yang khas adalah bakat yang terarah pada suatu bidang yang terbatas, seperti bakat bahasa, bakat melukis, bakat musik, bakat seni, bakat ilmu, dan lain-lain. Sedangkan bakat majemuk seperti bakat hukum, bakat pendidik, bakat psikologi, bakat kedokteran, bakat ekonomi, bakat politik, dan lain sebagainya.
4.     Bakat yang lebih berdasarkan pada alam perasaan dan kemauan
Bakat yang berdasarkan alam perasaan dan kemauan adalah bakat yang berhubungan dengan watak, seperti kemampuan bersosial, kemampuan mengasihi, kemampuan merasakan dan menghayati perasaan orang lain, dan sebagainya.

C.    Faktor-faktor yang Mempengarui Perkembangan Bakat
1.    Faktor internal.
         Minat, minat merupakan motif asli yang muncul dari dalam diri individu itu sendiri.
         Motif Berprestasi, anak-anak yang mumpunyai keinginan yang kuat menjadi seseorang yang berprestasi maka dengan dorongan dan latihan maka anak tersebut dapat mengoptimalkan bakat yang dia miliki. Sebaliknya meskipun anak tersebut mendapat dukungan dan latihan tanpa ada motif berprestasi maka pengembangan bakat yang ia miliki tidak akan maksimal.
         Keberanian mengambil resiko, resiko adalah hal yang biasa dalam menjalankan suatau hal. Resiko bentuknya bermacam-macam. Contoh kita punya bakat dalam hal bela diri tapi kita takut mengambil resiko seperti patah tangan, bibir sobek kena pukul, dan sebagainya maka tidak akan pernah mungkin kita bisa jadi pesilat atau petarung yang baik.
         Keuletan menghadapi tantangan, Ulet artinya pantang menyerah dan tidak takut gagal. Seseorang yang bisa menganggap bahawa kegagalan itu adalah hal yang biasa maka ia akan punya jiewa yang kuat untuk menghadapi segala masalah yang akan muncul.
         Pengaruh unsur genetik, khususnya yang berkaitan dengan fungsi otak bila dominan otak sebelah kiri , bakatnya sangat berhubungan dengan masalah verbal, intelektual, teratur, dan logis dan bila dominan dengan otak kanan berhubungan dengan masalah spasial, non verbal, estetik, artistik serta atletis.

2.    Faktor eksternal
         Latihan: Bakat adalah sesuatu yang sudah dimiliki secara alamiah, yang mutlak memerlukan latihan untuk membangkitkan dan mengembangkannya.
         Kesempatan maksimal untuk mengembangkan diri tidak semua orang didunia ini bisa punya kesempatan untuk mengembangkan diri. Jika kita mau meleihat sebenarnya banyak sekali anak-anak disekeliling kita yang berbakat dalam suatu hal, mereka juga memiliki minat dan motifasi yang kuat tapi tetap saja tidak jadi apa-apa. Salah satu hal yang menyebabkan itu terjadi karena tidak ada kesempatan atau tidak pernah mereka diberi kesempatan untuk mencoba.
         Sarana dan Prasarana
         Dukungan dan dorongan dari keluarga.
         Lingkungan tempat tinggal
         Pola asuh orang tua

D.    Usaha Guru Untuk Mengenali dan Mengembangkan Bakat
Beberapa hal yang perlu dilakukan orang tua, guru atau lingkungan terdekat anak untuk mengambangkan bakat dan minat adalah:
1.                  sejak usia dini cernati berbagai kelebihan, ketrampilan dan kemampuan yang tampak menonjol pada anak.
2.     bantu anak dalam meyakini dan fokus pada kelebihan dirinya.
3.      Kembangkan konsep diri positif pada anak.
4.      Perkaya anak dengan berbagai wawasan, pengetahuan, serta pengalaman di berbagai bidang.
5.      Usahakan berbagai cara untuk meningkatkan minat anak untuk belajar dan menekuni bidang-bidang yang menjadi kelebihannya.
6.      Tingkatkan motivasi anak untuk mengembangkan dan melatih kemampuannya.
7.      Stimulasi anak untuk meluaskan kemampuannya dari satu bakat ke bakat yang lain.
8.      Berikan penghargaan dan pujian untuk setiap usaha yang dilakukan anak.
9.      Sediakan fasilitas atau sarana untuk mengembangkan bakat anak.
10.  Dukung anak untuk mengatasi berbagai kesulitan dan hambatan dalam mengembangkan bakatnya.
11.  Mejalin hubungan baik antara orang tua, guru, dengan anak atau remaja.

Pemprosesan Informasi Dalam Belajar

Pemprosesan Informasi Dalam Belajar

A.   Konsep Sensasi, Atensi, Persepsi dan Memori
1.    Sensasi
Sensasi berasal dari kata sense artinya alat penginderaan yang menghubungkan organisme dengan lingkungannya. . Sedangkan menurut Ormrod (2009:272) Sensasi adalah kemampuan orang untuk mendeteksi stimulti di lingkungan. Bila alat-alat indera mengubah informasi menjadi impuls-impuls syaraf dengan bahasa yang dipahami oleh otak maka terjadilah sensasi. Sensasi adalah pengalaman elementer yang segera, tidak memerlukan penguraian verbal, simbolis atau konseptual dan terutama sekali berhubungan dengan kegiatan alat indera. Fungsi alat indera dalam menerima informasi sangat penting, melalui alat indera, manusia dapat memahami kualitas fisik lingkungannya, memperoleh pengetahuan dan kemampuan untuk berinteraksi dengan dunianya.

2.    Atensi
Atensi berasal dari kata Attention yang artinya adalah perhatian. Atensi adalah pemusatan pikiran, dalam bentuk yang jernih dan gamblang, terhadap sejumlah objek stimulan atau sekelompok pikiran. Pemusatan (focalization) kesadaran adalah intisari atensi. Atensi mengimplikasikan adanya pembagian objek-objek lain agar kita sanggup menangani objek-objek secara selektif.  Hal ini sejalan dengan pendapat Santrock (2010:313) atensi adalah mengonsentrasikan dan memfokuskan (memusatkan) sumber daya mental.

3.    Persepsi
Persepsi berasal dari kata perception yang artinya tanggapan daya memahami atau memahami sesuatu. Slameto (2010:102) mengidentifikasi persepsi sebagai berikut:
“Persepsi adalah proses yang menyangkut masuknya pesan atau informasi kedalam otak manusia. Melalui persepsi manusia terus menerus mengadakan hubungan dengan lingkungannya. Hubungan ini dilakukan lewat indranya, yaitu indra penglihatan, pendengar, peraba, perasa, dan pencium”.
Persepsi merupakan tanggapan yang dihasilkan dari pengamatan. Tanggapan adalah gambaran atau berkas yang tinggal dalam ingatan setelah seseorang melakukan pengamatan. Tanggapan ini akan memberikan pengaruh terhadap perilaku belajar siswa. Pendapat ini mengandung makna bahwa dalam proses belajar mengajar akan timbul suatu tanggapan dari siswa, tanggapan ini akan mempengaruhi perilaku siswa selanjutnya. Dengan kata lain tingkah laku siswa dalam belajar ditentukan oleh bagaimana tanggapannya tentang objek atau sesuai yang diamatinya.

4.    Memori
Memori atau ingatan adalah retensi informasi. Para psikolog pendidikan mempelajari bagimana informasi diletakan atau disimpan dalam memori, bagaimana ia dipertahankan atau disimpan setelah disandikan (encoded), dan bagaimana ia ditemukan dan diungkapkan kembaliuntuk tujuan tertentu dikemudian hari. Memori membuat diri kita merasa berkesinambungan (Schacter, 2001 dalam Santrock, 2010:312).

Menurut Suyono (2012:77), ada tiga macam sistem penyimpanan ingatan, yaitu:
a)     Memori sensori (sensory memory), suatu sistem mengingat stimulti secara cepat sehingga dapat berlangsung analisis persepsi, di sini proses berlangsung selama 3-5 detik, masukan utamanya dari penglihatan dan suara.
b)     Memori kerja (working memory), merupakan memori jangka pendek, short-term memory (STM), mampu menyimpan 5-9 informasi dalam waktu sekitar 15-20 detik, sehingga cukup waktu bagi pengelolaan informasi. Dalam hal ini, informasi yang diberi kode (decode) serta persepsi setiap individu akan menentukan apa yang disimpan dalam memori kerja.
c)     Memori jangka panjang, longterm memory (LTM), berfungsi menyimpan informasi yang sangat besar dalam waktu yang lama. Informasi yang tersimpan di dalamnya dapat dalam bentuk verbal maupun visual.

Ada beberapa proses yang berkaitan dengan memori. Santrock membaginya atas tiga, yaitu:
a)     Encoding, adalah proses pemasukan informasi ke dalam memori. Encoding memiliki banyak kemiripan dengan atensi dan pembelajaran. Untuk mengawali proses encoding, anak harus memperhatikan informasi.
b)     Penyimpanan (storage), adalah retensi informasi dari waktu ke waktu.
c)      Pengambilan kembali (retrieval), adalah mengambil informasi dari simpanan memori ketika dibutuhkan.

B.   Faktor-Faktor yang Mempengaruhi Pemrosesan Informasi
Adapun faktor yang mempengaruhi pemrosesan informasi dalam belajar yaitu:
1.      Faktor internal (psikologis dan fisiologis) dan eksternal
2.      Tidak semua individu mampu melatih memori secara maksimal
3.      Proses internal yang tidak dapat diamati secara langsung.
4.      Tingkat kesulitan mengungkap kembali informasi-informsi yang telah disimpan dalam ingatan
5.      Kemampuan otak tiap individu tidak sama.

C.   Pemamfaatan Pemrosesan Informasi dalam Belajar
Pemanfaatan pemprosesan informasi dalam belajar yaitu :
1.      Membantu terjadinya proses pembelajaran sehungga individu mampu beradaptasi pada lingkungan yang selalu berubah.
2.      Menjadikan strategi pembelajaran dengan menggunakan cara berpikir yang berorientasi pada proses lebih menonjol.
3.      Kapasilitas belajar dapat disajikan secara lengkap.
4.      Prinsip perbedaan individual terlayani.

D.   Lupa dalam Belajar
Lupa merupakan istilah yang sangat populer di masyarakat. Dari hari ke hari dan bahkan setiap waktu pasti ada orang-orang tertentu yang lupa akan sesuatu, entah hal itu tentang peristiwa atau kejadian di masa lampau atau sesuatu yang akan dilakukan, mungkin juga sesuatu yang baru saja dilakukan. Fenomena dapat terjadi pada siapapun juga, tak peduli apakah orang itu anak-anak, remaja, orang tua, guru, pejabat, profesor, petani dan sebaginya (Djamarah,2008:206).

1.    Proses Terjadinya Lupa dalam Belajar
Daya ingatan kita tidak sempurna. Banyak hal-hal yangpernah diketahui, tidak dapat diingat kembali atau dilupakan.
Dewasa ini ada empat cara untuk menerangkan proses lupa keempatnya tidak saling bertentangan, melainkan saling mengisi.
a)     Apa yang telah kita ingat, disimpan dalam bagian tertentu diotak kalau materi yang harus diingat itu tidak pernah digunakan, maka karena proses metabolisme otak, lambat laun jejak materi itu terhapus dari otak sehingga kita tidak dapat mengingatnya kembali. Jadi, karena tidak digunakan, materi itu lenyap sendiri.
b)     Mungkin pula materi itu tidak lenyap begitu saja, melainkan mengalami perubahan-perubahan secara sistematis, mengikuti prinsip-prinsip sebagai berikut:
1)    Penghalusan: materi berubah bentuk ke arah bentuk yang lebih simatris, lebih halus dan kurang tajam, sehingga bentuk yang asli tidak diingat lagi.
2)    Penegasan: bagian-bagian yang paling mencolok dari suatu hal adalah yang paling mengesankan. Karena itu, dalam ingatan bagian-bagian ini dipertegas, sehingga yang diingat hanyalah bagian-bagian yang mencolok, sedangkan bentuk keseluruhan tidak begitu diingat.
3)     Asimilasi: bentuk yang mirip botol misalnya, akan kita ingat sebagai botol, sekalipun bentuk itu bukan botol. Dengan demikian, kita hanya ingat sebuah botol, tetapi tidak ingat bentuk yang asli. Perubahan materi di sini disebabkan bagaimana wajah orang itu tidak kita ingat lagi.
4)    Kalau mempelajari hal yang baru, kemungkinan hal-hal yang sudah kita ingat, tidak dapat kita ingat lagi. Dengan kata lain, materi kedua menghambat diingatnya kembali materi pertama. Hambatan seperti ini disebut hambatan retroaktif. Sebaliknya, mungkin pula materi yang baru kita pelajari tidak dapat masuk dalam ingatan, karena terhambat oleh adanya materi lain yang terlebih dahulu dipelajari, hambatan seperti ini disebut hambatan proaktif.
c)     Ada kalanya kita melakukan sesuatu. Hal ini disebut represi. Peristiwa-peristiwa mengerikan, menakutkan, penuh dosa, menjijikan dan sebagainya, atau semua hal yang tidak dapat diterima oleh hati nurani akan kita lupakan dengan sengaja (sekalipun proses lupa yang sengaja ini terkadang tidak kita sadari, terjadi diluar alam kesadaran kita). Pada bentuknya yang ekstrim, represi dapat menyebabkan amnesia, yaitu lupa nama sendiri, orang tua, anak dan istri dan semua hal yang bersangkut paut dirinya sendiri. Amnesia ini dapat itolong atau disembuhkan melalui psikoterapi atau melalui suatu peristiwa yang sangat dramatis sehingga menimbulkan kejutan kejiwaan pada penderita(Fauzi dan Mutmainah,2005: 52-54).

2.  Faktor-Faktor Penyebab Lupa
Menurut Ormrod (2008:308-309), ada empat kemungkinan (faktor) penyebab lupa, yaitu:
a.     Kegagalan untuk memanggil kembali (inability to retrieve), adalah kegagalan untuk menemukan informasi yang ada dalam memori jangka panjang.
b.     Kesalahan Rekonstruksi (reconstruction error), konstruksi “memori” yang logis namu salah dengan menggabungkan informasi yang dipanggil dari memori jangkan panjang dengan pengetahuan dan keyakinan umum seseorang tentang dunia.
c.      Interferensi, Fenomena dimana sesuatu yang disimpan dalam memori jangka panjang menghambat kemampuan seseorang untuk mengingat sesuatu yang lain dengan benar. Atau, kegagalan informasi karena terhalang dengan informasi lain.
d.     Kerusakan informasi (decay), pelemahan bertahap informasi yang disimpan dalam memori jangka panjang, terutama jika informasi tersebut jarang digunakan.
Selain itu, ada beberapa hal lain yang menyebabkan lupa
a.     Lupa dapat terjadi pada siswa karena perubahan situasi lingkungan antara waktu belajar dengan waktu mengingat kembali. Jika seorang siswa hanya mengenal atau mempelajari hewan jerapah atau kudanil lewat gambar-gambar yang ada di sekolah misalnya, maka kemungkinan ia akan lupa menybut nama hewan-hewan tadi ketika melihatnya di kebun binatang.
b.     Lupa dapat terjadi karena perubahan sikap dan minat siswa terhadap proses belajar mengajar dengan tekun dan serius, tetapi karna sesuatu hal sikap dan minat siswa tersebut menjadi sebaliknya (seperti karena ketidaksenangan kepada guru) maka materi pelajaran itu akan mudah terlupakan.
c.      Lupa dapat terjadi karena materi pelajaran yang telah dikuasai tidak pernah digunakan atau dihafalkan siswa. Menurut asumsi sebagian ahli, materi yang diperlakukan demikian denga sendirinya akan masuk ke alam bawah sadar atau mungkin juga bercampur aduk dengan materi pelajaran baru.
d.     Lupa tentu saja dapat terjadi karena perubahan urat syaraf otak. Seorang siswa yang terserang penyakit tertentu seperti keracunan, kecanduan alkohol, dan geger otak akan kehilangan ingatan item-item informasi yang ada dalam memori permanennya.

3.  Kiat Mengurangi Lupa dalam Belajar
Kiat terbaik untuk mengurangi lupa adalah dengan cara meningkatkan daya ingat akal siswa. Banyak ragam kiat yang dapat dicoba siswa dalam meningkatkan daya ingatannya adalah sebagai berikut:

a.     Over learning
Over learning (belajar lebih) artinya upaya belajar yang melebihi batas penguasaan dasar atas materi pelajaran tertentu. Overlearning terjadi apabila respons atau reaksi tertentu muncul setelah siswa melakukan pembelajaran atau respons tersebut dengan cara di luar kebiasaan. Banyak contoh yang dapat dipakai untuk overlearning, antara lain pembacaan teks pancasila pada setiap hari senin dan sabtu memungkinkan ingatan siswa terhadap P4 lebih kuat.
b.     Extra Study Time
Extra Study Time (tambahan waktu belajar) ialah upaya penambahan alokasi waktu belajar materi tertentu berarti siswa menambah jam belajar. Penambahan frekuensi belajar berarti siswa meningkatkan kekerapan belajar materi tertentu. Kiat ini dipandang cukup strategis karena dapat melindungi memori dari kelupaan.
c.      Mnemonic Device
Mnemonic device (muslihat memori) yang sering juga disebut mnemonic itu berarti kiat khusus yang dijadikan “alat pengait” mental untuk memasukkan item-item informasi ke dalam sistem akal siswa.
d.     Pengelompokkan
Maksud kiat pengelompokkan (clustering) ialah menata ulang item-item materi menjadi kelompok-kelompok kecil yang dianggap lebih logis dalam arti bahwa item-item tersebut memiliki signifikansi dan lafal yang sama atau sangat mirip.
e.     Latihan Terbagi
Lawan latihan terbagi (distributed practice) adalah massed practice (latihan terkumpul) yang sudah dianggap tidak efektif karena mendorong siswa melakukan cramming. Dalam latihan terbagi siswa melakukan latihan-latihan waktu-waktu istirahat. Upaya demikian dilakukan untuk menghindari camming, yakni belajar banyak materi secara tergesa-gesa dalam waktu yang singkat. Dalam melaksanakan istributed practice, siswa dapat menggunakan berbagai metode dan strategi belajar yang efisien.
f.       Pengaruh Letak Bersambung
Untuk memperoleh efek positif dari pengaruh letak bersambung (the serial position effect), siswa dianjurkan menyusun daftar kata-kata (nama, istilah dan sebagainya) yang diawali dan diakhiri dengan kata-kata yang harus diingat. Kata-kata yang harus diingat siswa tersebut sebaiknya ditulis dengan menggunakan huruf dan warna yang mencolok agar tampak sangat berbeda dari kata-kata yang lainnya yang tidak perlu diingat. Dengan demikian, kata yang ditulis pada awal yang akhir daftar tersebut memberi kesan tersendiri dan diharapkan melekat erat dalam subsistem akal permanen siswa (Syah, 1996: 160-164).