Kamis, 02 Maret 2017

KEJENUHAN, DAN TRANSFER DALAM BELAJAR

KEJENUHAN, DAN TRANSFER DALAM BELAJAR

A.     Kejenuhan Dalam Belajar
1.      Pengertian kejenuhan dalam belajar
Secara harfiah, arti jenuh ialah padat atau penuh sehingga tidak mampu lagi memuat apa pun. Selain itu, jenuh juga dapat berarti jemu atau bosan. Dalam belajar, disamping siswa sering mengalami kelupaan, ia juga terkadang mengalami peristiwa negatif lainnya yang disebut jenuh belajar yang dalam bahasa psikologi lazim disebut learning plateau atau plateau (baca: pletou) saja. Peristiwa jenuh ini kalau dialami seorang siswa yang sedang dalam proses belajar (kejenuhan belajar) dapat membuat siswa tersebut merasa telah memubazirkan usahanya. Kejenuhan belajar ialah rentang waktu tertentu yang digunakan untuk belajar, tetapi tidak mendatangkan hasil (Reber, 1988). Seorang siswa yang mengalami kejenuhan belajar merasa seakan-akan pengetahuan dan kecakapan yang diperoleh dari belajar tidak ada kemajuan. Tidak adanya kemajuan hasil belajar ini pada umumnya tidak berlangsung selamanya, tetapi dalam rentang waktu tertentu saja, misalnya seminggu. Namun tidak sedikit siswa yang mengalami rentang waktu yang membawa kejenuhan itu berkali-kali dalam satu periode belajar tertentu.
Seorang siswa yang sedang dalam keadaan jenuh sistem akalnya tidak dapat bekerja sebagaimana yang diharapkan dalam memproses item-item informasi atau pengalaman baru, sehingga kemajuan belajarnya seakan-akan “jalan di tempat”. Apabila kemajuan belajar yang jalan ditempat ini kita gambarkan dalam bentuk kurva, yang akan tampak adalah garis mendatar yang lazim disebut plateau. Kejenuhan belajar dapat melanda seorang siswa yang kehilangan motivasi dan konsolidasi salah satu tingkat keterampilan tertentu sebelum sampai pada tingkat keterampilan berikutnya.
2.      Faktor penyebab kejenuhan dalam belajar
Kejenuhan dalam bidang apa saja pada umumnya disebabkan oleh aktifitas rutin yang dilakukan dengan cara yang monoton atau tidak berubah-ubah, dalam waktu lama. Dengan demikian kejenuhan belajar biasanya lebih sering menghinggapi pelajar atau  mahasiswa yang sejak SD sudah menjadi pelajar yang rajin. Berbagai penyebab kejenuhan belajar yang perlu diketahui di antaranya adalah sebagai berikut:
a.    Belajar dilakukan dengan metode yang tidak bervariasi.
b.    Belajar hanya dilakukan ditempat tertentu saja. Misalnya di kamar tidur.
c.    Kondisi ruang belajar yang tidak berubah-ubah, terutama di rumah.
d.    Kurang melakukan aktifitas rekreasi atau hiburan untuk menetralisir kelelahan berpikir setelah beajar.
e.    Adanya ketegangan mental yang kuat dan berlarut-larut di saat belajar.
Ketegangan mental tsb bisa timbul dari beban pelajaran yang terlalu berat, target untuk mencapai prestasi puncak, guru / dosen yang terlalu galak / killer, dan hal-hal lain yang menimbulkan ketegangan mental.
3.      Cara mengatasi kejenuhan dalam belajar
a.      Belajar dengan metode yang bervariasi. Misalnya dengan membuat ringkasan bahan pelajaran sejak awal semester.
b.      Belajar di beberapa tempat yang cukup nyaman seperti ruang tidur, ruang khusus belajar (kalau ada), ruang tamu, di rumah teman untuk belajar bersama, dll.
c.       Mengadakan perubahan fisik di ruang belajar.
d.      Menciptakan suasana yang menyenangkan di ruang belajar. Misalnya belajar sambil mendengar music instrumental yang tenang.
e.      Melakukan aktifitas rekreasi secara berkala.
f.        Menghindari adanya ketegangan mental di saat belajar.
g.      Melakukan aktifitas meditasi untuk menetralisir kejenuhan belajar dan menetralisir berbagai kondisi mental yang negative lainnya seperti stress, rasa cemas, tidak PD, dan menanamkan kondisi ketenangan sampai ke alam bawah sadar.
Perlu juga diketahui bahwa meditasi bukan hanya bisa menetralisir berbagai kondisi mental yang negative dan menanamkan kondisi ketenangan jiwa, tapi juga bisa mengkondisikan rasa segar dan nyaman pada badan, sehingga semangat beraktifitas dalam kehidupan sehari-hari juga bisa ditingkatkan.
B.     Tranfer Dalam Belajar
1.      Pengertian transfer dalam belajar
Menurut L.D. Crow dan A. Crow, transfer belajar adalah pemindahan-pemindahan kebiasaan berfikir, perasaan atau pekerjaan, ilmu pengetahuan atau keterampilan, dari suatu keadaan ke keadaan belajar yang lain. Pengetahuan dan keterampilan siswa sebagai hasi belajar pada masa lalu seringkali mempengaruhi proses belajar yang sedang dialaminya sekarang. Tranfer dalam belajar yang biasa disebut dengan tranfer belajar (tranfer of learning) itu mengandung arti pemindahan keterampilan hasil belajar dari suatu situasi ke situasi berikutnya (Reber: 1988). Kata “pemindahan keterampilan” tidak berkonotasi hilangnya keterampilan melakukan sesuatu pada masa lalu karena digantikan dengan keterampilan baru pada masa sekarang. Oleh sebab itu, definisi diatas harus dipahami sebagai pemindahan pengaruh atau pengaruh keterampilan melakukan sesuatu terhadap tercapainya keterampilan melakukan sesuatu lainnya. Setiap pemindahan pengaruh (tranfers) seperti yang disebut diatas pada umumnya selalu membawa dampak baik itu positif ataupun negatif terhadap aktifitas dan hasil pembelajaran materi pelajaran lain atau keterampilan lain.
2.      Ragam transfer belajar
Pada perkembangan awal, transfer belajar terbagi menjadi dua yaitu transfer positif dan transfer negatif. Dikatakan transfer positif, apabila membawa efek positif terhadap kegiatan belajar selanjutnya, sedangkan dikatakn transfer negatif, jika membawa efek negatif terhadap kegiatan belajar selanjutnya. Menurut Theory of Identical Element yang dikembangkan oleh E. L. Thorndike, transfer positif akan terjadi apabila terjadi kesamaan elemen antara materi yang lama dengan materi yang baru. Contoh seorang siswa yang telah menguasai matematika akan mudah mempelajari statistika, seseorang yang telah mampu untuk naik sepeda maka ia akan mudah untuk belajar naik sepeda bermotor. Sedangkan trasfer negatif terjadi ketika keterampilan yang telah dikuasai menjadi penghambat belajar keterampilan lainnya. Contoh seorang yang terbiasa untuk mengetik dengan satu jari, akan mengalami kesulitan ketika harus belajar mengetik dengan sepuluh jari. Pada perkembangan selanjutnya, Gagne, seorang education psychologist membedakan transfer belajar menjadi empat kategori yaitu
a.       Transfer positif, yaitu transfer yang berefek baik terhadap kegiatan belajar selanjutnya. Tranfer ini dapat terjadi jika seorang guru membantu untuk belajar dalam situasi tertentu yang mempermudah siswa belajar dalam situasi lainnya. Dalam konteks ini, Barlow mendefinisikan transfer positif adalah belajar dalam suatu situasi yang dapat membantu belajar dalam situasi-situasi lain.
b.      Transfer negatif, yaitu transfer negatif yaitu transfer yang berefek buruk terhadap kegiatan belajar selanjutnya. Tranfer ini dapat terjadi jika seorang siswa belajar dalam situasi tertentu yang memiliki pengaruh merusak terhadap keterampilan yang dipelajari dalam situasi berikutnya.
c.       Transfer vertikal, yaitu transfer yang berefek baik terhadap kegiatan belajar pengetahuan/keterampilan yang lebih tinggi. Tranfer ini dapat terjadi apabila seorang siswa belajar dalam situasi yang tertentu yang dapat meyebabkan siswa tadi mampu untuk menguasai pengetahuan/keterampilan yang lebih rumit. Contohnya, ketika seorang anak SD belajar mengenai penjumlahan dan pengurangan maka ia akan lebih mudah belajar perkalian di kelas berikutnya.
d.      Transfer lateral, yaitu transfer yang berefek baik terhadap kegiatan belajar pengetahuan/keterampilan yang sederajat. Tansfer ini akan terjadi ketika seorang siswa telah mampu menggunakan materi yang dipelajarinya untuk mempelajari materi yang sama kerumitannya dalam situasi-situasi yang lain. Contohnya, seorang siawa STM yang telah menguasai teknologi “X” dari sekolahnya akan mudah menggunakan teknologi itu di tempat kerjanya.
3.      Transfer positif dalam belajar
Transfer yang berefek lebih baik terhadap kegiatan belajar selanjutnya. Transfer positif yakni belajar dalam situasi yang dapat membangtu belajar dalam situasi-situasi lain. “Memperoleh keuntungan’ berarti bahwa pemindahan atau pengalihan hasil belajar itu berperanan positif, yaitu mempermudah dan menolong dalam menghadapi tugas belajar yang lain dalam rangka kurikul di keskolah atau dalam mengatur kehidupan seharihari, transfer belajar demikian tersebut disebut “transfer positif”.
Transfer positif, akan mudah terjadi pada diri seorang siswa apabila situasi belajarnya dibuat sama atau mirip dengan situasi sehari-sehari yang akan ditempati ssiwa tersebut kelak dalam mengaplikasikan pengetahuan dan ketrampilan yang telah dipelajari di sekolah.  Misalnya, siswa yang telah pandai membaca Al-Qur’an akan secara otomatis mudah belajar Bahasa Arab, karena ada kesamaan elemen (sama-sama bertulisan arab). Pengetahuan tentang letak geografis suatu daerah, akan sangat membantu dalam memahami masalah perekonomian yang dihadapi oleh penghuni daerah itu, ketrampilan mengendarai sepeda motor akan mempermudah belajar mengendarai kendaraan roda empat. 





















Daftar Pustaka
Syah, Muhibbin. 2010. Psikologi Pendidikan. Bandung: PT Remaja Rosdakarya Offset.
Wahib, Abdul & Mustaqim. 1991. Psikologi Pendidikan. Jakarta: PT Melton Putra.
Purwanto, M. Ngalim. 1990. Psikologi Pendidikan. Bandung: PT Remaja Rosdakarya Offset.


Tidak ada komentar:

Posting Komentar