MAKALAH
ILMU KEALAMAN
DASAR
(IAD)
oleh
asri
PENDIDIKAN
TEKNIK OTOMOTIF
FAKULTAS
TEKNIK
UNIVERSITAS
NEGERI PADANG
2013
KATA PENGANTAR
Rasa syukur yang dalam penulis sampaikan ke hadiran
Allah SWT, karena berkat kemurahanNya
makalah ini dapat penulis selesaikan sesuai yang diharapkan. Dalam makalah ini
penulis membahas tentang “Alam pikiran
manusia dan perkembangannya“.
Makalah ini dibuat dalam rangka memperdalam pemahaman tentang mata kuliah Ilmu kealama dasar
yang sedang penulis ambil pada semester ini .
Dalam
penyusunan makalah ini, penulis tidak lupa mengucapkan terima kasih kepada
semua pihak yang telah membantu penulis dalam menyelesaikan makalah ini baik
itu moril atau materil .
Makalah
ini diharapkan dapat menambah pengetahuan pembaca mengenai “Alam pikiran manusia dan perkembangannya“.baik itu dalam
perkuliahan maupun dalam kehidupan langsung. Penulis merasa makalah ini belumlah
sempurna dan penulis mengharapkan saran dan masukannya.
Padang, 26 februari
2013
Penulis
ALAM
PIKIRAN MANUSIA DAN PERKEMBANGANNYA
A. PENDAHULUAN
Manusia merupakan makhluk hidup ciptaan tuhan
yang paling berhasil dalam persaingan hidup di bumi ini, meski banyak keterbatasan
fisik,seperti ukuran, kekuatan, kecepatan, dan panca inderanya, bila dibandingkan
dengan penghuni bumi lainnya. Keberhasilan itu disebabkan oleh manusia memiliki
kemampuan otak yang lebih baik daripada makhluk lainnya, yang memungkinkan lebih
mudah untuk beradabtasi dengan lingkungannya.
B. HAKEKAT MANUSIA DAN
SIFAT KEINGINTAHUANNYA
Manusia dengan kemampuan berpikir dan
bernalar, dengan akal serta nuraninya memungkinkan utnuk selaluberbuat yang
lebih baik dan bijaksana untuk dirinya maupun lingkungannya.
1.
Kelebihan Manusia dari Penghuni
Bumi Lainnya.
Manusia sebagai
makhluk yang memiliki kelebihan dibandingkan dengan penghuni bumi lainnya.
Beberapa kelebihan manusia dari pada makhluk lainnya antara lain :
a. Manusia sebagai
makhluk berpikir dan bijaksana ( Homo sapiens ) yang dicerminkan dalam tindakan
dan perilakunya terhadap lingkungannya.
b. Manusia sebagai
pembuat alat karena sadar akan keterbatasan inderanya.
c. Manusia dapat
berbicara ( Homo Langues ) baik secara lisan maupun tulisan.
d.
Manusia dapat hidup bermasyarakat ( Homo sosius ) dan
berbudaya ( Homo Humanis ).
e.
Manusia dapat mengadakan usaha ( Homo Economicus )
f.
Manusia mempunyai kepercayaan dan beragama ( Homo religious
)
2. Rasa Ingin Tahu dan Terbentuknnya Ilmu
Pengetahuan Alam
suatu ciri khas manusia. Manusia mempunyai
rasa ingin tahu tentang benda-benda di sekelilingnya, alam sekitarnya, angkasa
luar, bahkan tentang dirinya sendiri.
pertumbuhan
atau gerakan, namun gerakan itu terbatas pada mempertahankan kelestarian
hidupnya yang bersifat tetap. Misalnya, daun-daun yang selalu cenderung untuk
mencari sinar matahari atau akar-akar yang selalu cenderung untuk mencari air
yang kaya mineral untuk kebutuhan hidupnya. Kecenderungan semacam ini nampak
berlangsung sepanjang zaman. Bagaimana
dengan makhluk-makhluk hidup seperti tumbuh tumbuhan dan binatang? Sebatang
pohon misalnya, menunjukkan tanda-tanda
Bagaimana
dengan binatang yang menunjukkan adanya kehendak berpindah (eksplorasi) dari
satu tempat ke tempat yang lain? Misalnya ikan, burung, harimau atau binatang
yang sangat dekat dengan manusia yaitu monyet? Tentunya burung-burung bergerak
dari satu tempat didorong oleh suatu keinginan, antara lain rasa ingin tahu.
-
Ingin tahu apakah di sana ada cukup makanan untuk disantap
sendiri atau bersama yang lain.
-
Ingin tahu apakah disuatu tempat cukup aman untuk membuat
sarang.
Setelah
mengadakan eksplorasi tentu mereka menjadi tahu. Itulah “pengetahuan” dari
burung tadi. Burung juga memiliki “pengetahuan” bagaimana caranya membuat
sarang di atas pohon. Burung manyar atau burung tempua begitu pandai menganyam
sarangnya yang begitu indah bergelantungan pada daun kelapa, namun
pengetahuannya itu ternyata tidak berubah-ubah dari zaman ke zaman.
Bagaimana
dengan monyet yang begitu pandai? Bila kita perhatikan baik-baik kehidupan
monyet-monyet tersebut, ternyata kehendak mereka ingin mengeksplorasi alam
sekitar itu didorong oleh rasa ingin tahu yang tetap sepanjang zaman atau yang
oleh Isaac Asimov (1972) disebut sebagai “Idle Curiousity” atau “Instinct”
Instink itu berpusat pada satu hal saja yaitu untuk mempertahankan kelestarian
hidupnya.
Untuk
itu mereka perlu makan, melindungi diri dan berkembang biak.
Bagaimana dengan manusia? manusia juga memiliki instink seperti yang dimiliki oleh hewan dan tumbuh-tumbuhan, Namun, manusia memiliki kelebihan, yaitu “kemampuan berpikir” dengan kata lain “curiousity-nya” tidak “idle” tidak tetap seperti itu sepanjang zaman.
Bagaimana dengan manusia? manusia juga memiliki instink seperti yang dimiliki oleh hewan dan tumbuh-tumbuhan, Namun, manusia memiliki kelebihan, yaitu “kemampuan berpikir” dengan kata lain “curiousity-nya” tidak “idle” tidak tetap seperti itu sepanjang zaman.
Manusia
memiliki rasa ingin tahu yang berkembang atau dengan kata lain, manusia
mempunyai kemampuan berpikir. Ia bertanya terus setelah tahu tentang “apa”-nya,
mereka juga ingin tahu “bagaimana” dan “mengapa” begitu.
Manusia mampu menggunakan pengetahuannya yang
terdahulu untuk dikombinasikan dengan pengetahuannya yang baru, menjadi
pengetahuannya yang lebih baru. Hal demikian itu berlangsung berabad-abad
lamanya, sehingga terjadi suatu akumulasi pengetahuan. Sebagai ilustrasi, kita
bayangkan saja manusia purba zaman dulu yang hidup di gua-gua atau di atas
pohon. Namun karena kemampuannya berpikir tidak semata-mata didorong oleh
sekedar kelestarian hidupnya tetapi juga untuk membuat hidupnya lebih
menyenangkan, maka mereka mampu membuat rumah di atas tiang-tiang kayu yang
kokoh dan bahkan sekarang manusia mampu membuat istana atau gedung-gedung
pencakar langit. Bandingkan dengan burung tempua dengan sarangnya yang indah
yang nampak tak mengalami perubahan sepanjang masa. Demikianlah juga dengan
harimau yang hidup dalam gua-gua atau monyet yang membuat sarang di atas pohon
tidak mengalami perubahan sepanjang zaman.Rasa ingin tahu yang terus berkembang
dan seolah-olah tanpa batas itu menimbulkan perbendaharaan pengetahuan pada
manusia itu sendiri.
Hal ini tidak saja meliputi
kebutuhan-kebutuhan praktis untuk hidupnya sehari-hari seperti bercocok tanam
atau membuat panah atau lembing yang lebih efektif untuk berburu, tetapi
pengetahuan manusia juga berkembang sampai kepada hal hal yang menyangkut
keindahan. Dengan selalu berlangsungnya perkembangan pengetahuan itu, tampak
lebih nyata bahwa manusia berbeda dengan hewan. Manusia merupakan makhluk hidup
yang berakal serta mempunyai derajat yang tinggi bila dibandingkan dengan hewan
atau makhluk lainnya.
3.
Sifat Keingintahuan Manusia
Manusia
dengan rasa ingin tahunya yang besar ,selalu berusaha mencari keterangan
tentang fenomena alam yang teramati . Untuk menjawab semua rasa ingin tahu
manusia sering mereka – reka jawaban mereka sendiri . Pengetahuan seperti inilah
yang disebut pseudo science. Ilmu pengetahuan juga berkembang sesuai dengan
zamannya dan sejalan dengan cara berpikir dan alat bantu yang ada pada saat itu
.Cara memperoleh sains semu ( pseudo sains ), antara lain:
a)
Mitos
b)
Wahyu
c)
Otoritas dan tradisi
d)
Prasangka
e)
Instuisi
f)
Penemuan kebetulan
g)
Cara-cara ralat (trial and error)
C.
PERKEMBANGAN
MANUSIA DAN TUBUH MANUSIA
Fisik manusia mengalami proses pertumbuhan
sedikit demi sedikit. Tubuh manusia mulai berkembang sejak dari rahim ibunya
sampai manusia tersebut dilahirkan dan terus berkembang sampai masa dewasa.
Perkembangan fisik tubuh manusia ini dapat mengarah ke bentuk tubuh pria dan
wanita, tergantung pada tipe kromosom sel tubuhnya. Perubahan Morfologis wanita
pada masa fubertas berbeda dengan laki –laki ,seperti pinggul membesar,pinggang
meramping ,terbentuknnya payudara serta datnagnya siklus haid.Perbedaan bentuk
dan genital itu dapat dimaklumi , ini diciptakan karena masing-masing mempunyai
peran biologis yang berbeda.
Manusia
sebagai makhluk memiliki ciri-ciri :
1.
Memiliki organ tubuh yang kompleks
dan sangat khusus terutama otaknya.
2.
Mengadakan pertukaran zat, yakni adanya zat yang masuk dan
keluar.
3.
Memberikan tanggapan terhadap
rangsangan.
4.
Memiliki potensi berkembang biak
5.
Tumbuh dan bergerak
6.
Berinteraksi dengan lingkungan
7.
Mati
Tegaknya jalan manusia, dengan kepalanya
tertonggok di atas badannya dengan baik, maka perkembangan otaknya baik.
Tempurung kepala manusia relatif lebih besar dibandingkan dengan binatang
menyusui lainnya yang jalannya masih horizontal. Manusia memiliki sistem syaraf
sentral yang berpusat di otaknya, di samping sistem syaraf periferi yang ada di
seluruh tubuh. Selain secara biologis keadaan otak manusia demikian, otak perlu
selalu memperoleh latihan berpikir terus menerus , sehingga memiliki ketajaman.
Dalam kondisi otak demikianlah, manusia
memiliki sifat ingin tahu. Dalam benaknya manusia selalu bertanya karena
keingintahunan : apa sesungguhnya (know why).
Seseorang merasa kurang puas, bila apa yang
ingin diketahui tidak terjawab. Sebagai contoh adalah perkembangan rasa ingin
tahu anak-anak terhadap suatu benda, maka pertanyaan yang diajukan oleh anak
pada usia dua tahun adalah “apa” nama benda tersebut, misalnya benda tersebut
adalah pensil. Pertanyaan selanjutnya yang akan muncul pada usia menjelang
masuk TK adalah “bagaimana” menggunakannya. Setelah usianya lebih dewasa lagi
maka mungkin akan muncul pertanyaan lain yaitu “mengapa” pensil dapat digunakan
untuk menulis. Dengan mendapatkan jawaban yang sesuai dengan usia saat pertanyaan
itu diajukan, maka anak tersebut akan mendapatkan pengetahuan baru dan
sekaligus hasrat ingintahunya terjawab. Pada anak remaja rasa ingin
tahu membuatnya gelisah dan berusaha keras dan akhirnya ia dapat tahu,
sedangkan di kalangan ilmuwan keingintahuannya mendorongnya terus, sehingga
teka-teki yang ada dalam otaknya dapat terjawab.
D.
PERKEMBANGAN SIFAT DAN PIKIRAN
MANUSIA
Bila dibandingkan dengan hewan, maka tubuh
manusia lemah, sedangkan rohaninya, yaitu akal budi dan kemauannya sangat kuat.
Manusia tidak dapat terbang seperti burung, tidak dapat berenang secepat buaya,
tidak mampu mengangkat benda berat seperti gajah, dan sebagainya, tetapi dengan
akal budinya dan kemauannya, manusia dapat menjadi makhluk yang lebih dari
makhluk lain. Kelebihan manusia itu karena memiliki akal budi dan kemauan yang
keras sehingga dapat mengendalikan jasmaninya.
Manusia sebagai makhluk berpikir dibekali
hasrat ingin tahu tentang benda dan peristiwa yang terjadi di sekitarnya
termasuk juga ingin tahu tentang dirinya sendiri. Rasa ingin tahu inilah
mendorong manusia untuk memahami dan menjelaskan gejala-gejala alam, baik alam
besar (makrokosmos) mapun alam kecil (mikrokosmos), serta berusaha memecahkan
masalah yang dihadapi.
Dorongan rasa ingin tahu dan usaha untuk
memahami dan memecahkan masalah yang dihadapi, menyebabkan manusia dapat
mengumpulkan pengetahuan.
Rasa ingin tahu yang terdapat pada manusia ini menyebabkan pengetahuan mereka menjadi berkembang. Setiap hari mereka berhubungan dan mengamati benda-benda dan peristiwa-peristiwa yang terjadi dialam sekitarnya.
Rasa ingin tahu yang terdapat pada manusia ini menyebabkan pengetahuan mereka menjadi berkembang. Setiap hari mereka berhubungan dan mengamati benda-benda dan peristiwa-peristiwa yang terjadi dialam sekitarnya.
Pengamatan-pengamatan yang ditangkap melalui
panca indera-nya merupakan objek rasa ingin tahunya. Manusia tidak akan merasa
puas jika belum memperoleh jawaban mengenai hal-hal yang diamatinya. Mereka
berusaha mencari jawabannya dan untuk itu mereka harus berpikir. Rasa ingin
tahunya terus berlanjut. Bukan hanya “apa”-nya saja yang ingin diketahui
jawabannya, tetapi juga jawaban dari “bagaimana” dan kemudian berlanjut
“mengapa” tentang hal-hal yang bersangkutan dengan benda-benda dan
peristiwa-peristiwa yang diamatinya.
E.
SEJARAH PENGETAHUAN YANG DIPEROLEH
MANUSIA
Ilmu pengetahuan juga berkembang sesuai
dengan zamannya dan sejalan dengan cara berpikir dan alat bantu yang ada pada
saat itu. Sebagai contoh adalah pada zaman Babilonia dan Yunani, karena
keterbatasan alat indera manusia (sebagai alat bantu utama) maka landasan ilmu
pengetahuan zaman ini sebagian berasal dari pengamatan maupun pengalaman namun
sebagian lainnya berupa dugaan, imajinasi, kepercayaan aataupun “mitos.”
Sebagai contoh adalah tentang pertanyaan hujan yang sering dijawab sebagaibocornya
atap langit. Pengetahuan semacam ini disebut sebagai “pseudo science” yaitu
mirip sains tapi bukan sains (pengetahuan semu). Suatu pola pikir yang lebih
maju dari mitos adalah penggabungan antara pengamatan, pengalaman dan akal
sehat, logika atau rasional. Oleh karena itu berkembanglah faham
“rasionalisme,” yaitu pertanyaan akan dijawab dengan logika atau hal-hal yang masuk
akal. Lebih lanjut dikenal dengan “metode deduksi” yaitu penarikan suatu kesimpulan
didasarkan pada sesuatu yang bersifat umum menuju kepada yang khusus. Sedangkan
“metode induksi” merupakan dasar dari perkembangan metode ilmiah sekarang yang
intinya adalah bahwa pengambilan kesimpulan dilakukan berdasarkan data
pengamatan atau eksperimentasi yang diperoleh. Untuk melakukan eksperimen maka
manusia perlu menciptakan alat Bantu atau instrumentasi pengamatan. Peralatan instrumentasi
yang tercipta akan berkembang menjadi lebih sempurna dan bahkan dimungkinkan
pengembangannya menjadi peralatan produksi atau industri.
Metode ini kemungkinan dapat dipengaruhi oleh
alat pendukung pengamatan yang digunakan. Semakin canggih alat yang digunakan
maka akurasi datanya semakin tinggi dan memungkinkan penarikan kesimpulannya
juga akan lebih tajam.
Berlandaskan pada pengetahuan tentang
beberapa rahasia alam yang diperolehnya, manusia kemudian berusaha untuk
menguasai dan memanfaatkan pengetahuannya untuk memperbaiki kualitas dan
pemenuhan kebutuhan hidupnya. Berdasarkan hal itulah mulailah dikembangkan
pengetahuan praktis yang dapat dimanfaatkan untuk memenuhi kehidupan sosialnya.
Pengetahuan ini selanjutnya disebut sebagai teknologi yang merupakan penerapan
IPA dalam kehidupan sehari-hari. Perkembangan teknologi, produksi dan industri
secara tidak langsung akan diikuti dengan perubahan pola hidup manusia.
Perubahan ini juga semakin mendorong rasa ingin tahu manusia ke arah yang lebih
kompleks. Dengan demikian manusia akan terus berusaha mengetahui segala rahasia
alam semesta yang belum terungkap.
F.
RANGKUMAN
Ilmu pengetahuan bermula dari rasa ingin tahu.
Hewan juga mempunyai “rasa ingin tahu” akan tetapi tidak berkembang atau
disebut “idle curiousity” atau “instinct.” Segala aktivitasnya didorong oleh
instink itu dengan tujuan untuk melestarikan hidupnya. Untuk itulah mereka
mencari makan, melindungi diri dan berkembang biak.
Manusia mempunyai rasa ingin tahu yang berkembang.
Manusia mempunyai rasa ingin tahu yang berkembang.
Akumulasi
dari segala yang mereka dapat dari usahanya mendapatkan jawaban dari
keingintahuannya itu merupakan “pengetahuan”-nya. Pengetahuan manusia selalu berkembang.
Ia selalu tidak puas dengan fakta tetapi ingin tahu juga tentang “apa,”
“bagaimana” dan “mengapa” demikian.
Berlandaskan pada pengetahuan tentang beberapa rahasia alam yang diperolehnya, manusia kemudian berusaha untuk menguasai dan memanfaatkan pengetahuannya untuk memperbaiki kualitas dan pemenuhan kebutuhan hidupnya.
Berlandaskan pada pengetahuan tentang beberapa rahasia alam yang diperolehnya, manusia kemudian berusaha untuk menguasai dan memanfaatkan pengetahuannya untuk memperbaiki kualitas dan pemenuhan kebutuhan hidupnya.