1.
Konsep
Inteligensi/Kecerdasan
a. Pengertian Intelegensi
Konsep
Intelegensi menimbulkan kontroversi dan debat panas, sering kali sebagai reaksi
terhadap gagasan bahwa setiap orang punya kapasitas mental umum yang dapat
diukur dan dikuantifikasikan dalam angka.
1) Inteligensi adalah suatu istilah yang popular. Hampir
semua orang sudah mengenal istilah tersebut, bahkan mengemukakannya.
2) Menurut David Wechsler, inteligensi adalah kemampuan
untuk bertindak secara terarah, berpikir secara rasional, dan menghadapi
lingkungannya secara efektif.
3) Beberapa pakar menyebutkan bahwa intelegensi sebagai
keahlian untuk memecahkan masalah.
4) Intelegensi merupakan potensi bawaan yang sering
dikaitkan dengan berhasil tidaknya anak belajar disekolah. Dengan kata lain,
intelegensi dianggap sebagai faktor yang menentukan berhasil atau tidaknya anak
disekolah.
5) Kecerdasan (Inteligensi) secara umum dipahami pada dua
tingkat yakni: kecerdasan sebagai suatu kemampuan untuk memahami informasi yang
membentuk pengetahuan dan kesadaran.
Sternberg dalam Santrock mengatakan bahwa secara umum
intelegensi dibedakan menjadi 3 diantaranya:
a. Inteligensi Analitis
b.
Inteligensi Kreatif
c.
Inteligensi Praktis
2.
Klasifiksi IQ
Intelligence Quotient (IQ) adalah skor yang diperoleh dari sebuah alat
tes kecerdasan (Bunda Lucy, 2010:51). Semakin tinggi hasil tes yang
didapat oleh seseorang maka semakin tinggi pula taraf kecerdasan intelektual
yang dimilikinya.
Intelligence Quotient atau yang biasa disebut dengan IQ merupakan
istilah dari pengelompokan kecerdasan manusia yang pertama kali diperkenalkan
oleh Alferd Binet, ahli psikologi dari Perancis pada awal abad ke-20. Kemudian
Lewis Ternman dari Universitas Stanford berusaha membakukan test IQ yang
dikembangkan oleh Binet dengan mengembangkan norma populasi, sehingga
selanjutnya test IQ tersebut dikenal sebagai test Stanford-Binet. Pada masanya
kecerdasan intelektual (IQ) merupakan kecerdasan tunggal dari setiap individu
yang pada dasarnya hanya berkaitan dengan aspek kognitif dari setiap masing-masing
individu tersebut. Tes Stanford-Binet ini banyak digunakan untuk mengukur
kecerdasan anak-anak sampai usia 13 tahun.
IQ tinggi ditandai dengan ingatan yang kuat (As’adi
Muhammad, 2010:51). IQ yang tinggi memudahkan seorang murid belajar dan memahami
berbagai ilmu. Daya tangkap yang kurang merupakan penyebab kesulitan belajar
pada seorang murid, disamping faktor lain, seperti gangguan fisik (demam,
lemah, sakit-sakitan) dan gangguan emosional. Awal untuk melihat IQ seorang
anak adalah pada saat ia mulai berkata-kata. Ada hubungan langsung antara
kemampuan bahasa si anak dengan IQ-nya. Apabila seorang anak dengan IQ tinggi
masuk sekolah, penguasaan bahasanya akan cepat dan banyak.
Rumus
kecerdasan umum, atau IQ yang ditetapkan oleh para ilmuwan adalah
|
Usia Mental Anak
|
x 100 = IQ
|
|
Usia Sesungguhnya
|
Contoh : Misalnya anak pada usia 3 tahun telah
mempunyai kecerdasan anak-anak yang rata-rata baru bisa berbicara seperti itu
pada usia 4 tahun. Inilah yang disebut dengan Usia Mental. Berarti IQ si anak
adalah 4/3 x 100 = 133.
Interpretasi atau penafsiran dari IQ
adalah sebagai berikut :
|
TINGKAT KECERDASAN
|
IQ
|
|
Genius
|
Di atas 140
|
|
Sangat Super
|
120 – 140
|
|
Super
|
110 – 120
|
|
Normal
|
90 -110
|
|
Bodoh
|
80 – 90
|
|
Perbatasan
|
70 – 80
|
|
Moron / Dungu
|
50 – 70
|
3.
Konsep Multiple Intelligence
(Kemajemukan Inteligensi)
Multiple
Intelligence (Kecerdasan Majemuk). Teori
tersebut mencoba memperbaiki pandangan umum di dunia psikologi dan dunia
pendidikan yang mengatakan bahwa semua anak adalah sama, sehingga semua anak
harus dididik dengan cara yang sama, mata pelajaran yang sama dan harus
memiliki cita-cita yang sama. Semua serba seragam itulah nuansa pembelajaran
Mono Intelligence. Sebaliknya Howard Gardner melihat bahwa setiap anak adalah
unik, karena uniknya itulah maka setiap anak (setiap orang) itu berbeda, karena
berbeda itulah maka sebaiknya pendidikan dan pelatihan yang (efektif) diberikan
pun harus berbeda-beda pula. Dengan demikian bidang keahlian dan bidang
ketrampilannya pun berbeda-beda dan itu adalah fakta. Howard Gardner
berpendapat bahwa setiap anak adalah cerdas pada bidangnya masing-masing, dan
tidak ada anak yang cerdas pada semua bidang.
Kecerdasan merupakan salah satu faktor utama yang
menentukan sukses gagalnya peserta didik belajar di sekolah. Peserta didik yang
mempunyai taraf kecerdasan rendah atau di bawah normal sukar diharapkan
berprestasi tinggi. Tetapi tidak ada jaminan bahwa dengan taraf kecerdasan
tinggi seseorang secara otomatis akan sukses belajar di sekolah.
Selain penjelasan bentuk kecerdasan, juga dikaitkan
dengan pelajaran yang diajarkan di sekolah serta tokoh atau profesi yang memiliki
kecerdasan tersebut.
1. Kecerdasan Verbal (Bahasa)
Bentuk kecerdasan ini dinampakkan oleh kepekaan akan
makna dan urutan kata serta kemampuan membuat beragam penggunaan bahasa untuk
menyatakan dan memaknai arti yang kompleks.
Berkaitan dengan pelajaran bahasa. William
Shakespeare, Martin Luther King Jr, Soekarno, Putu Wijaya, Taufiq Ismail,
Hilman “Lupus” Hariwijaya merupakan tokoh yang berhasil menunjukkan kecerdasan
ini hingga puncak, demikian pula para jurnalis hebat, ahli bahasa, sastrawan,
orator pasti memiliki kecerdasan ini.
2. Kecerdasan Logika/Matematika
Bentuk kecerdasan ini termasuk yang paling mudah
distandarisasikan dan diukur. Kecerdasan ini sebagai pikiran analitik dan
sainstifik, dan bisa melihatnya dalam diri ahli sains, programmer komputer, akuntan,
banker dan tentu saja ahli matematika.
3. Kecerdasan Spasial/Visual
Bentuk kecerdasan ini umumnya terampil menghasilkan
imaji mental dan menciptakan representasi grafis, mereka sanggup berpikir tiga
dimensi, mampu mencipta ulang dunia visual.
4. Kecerdasan Tubuh/Kinestetik
Bentuk kecerdasan ini memungkinkan terjadinya hubungan
antara pikiran dan tubuh yang diperlukan untuk berhasil dalam aktivitas2 seperti menari, melakukan
pantomim, berolahraga, seni bela diri dan memainkan drama.
5. Kecerdasan Musical/Ritmik
Bentuk kecerdasan ini mendengarkan pola musik dan
ritmik secara natural dan kemudian dapat memproduksinya. Bentuk kecerdasan ini
sangat menyenangkan, karena musik memiliki kapasitas unutk mengubah kesadaran
kita, menghilangkan stress dan meningkatkan fungsi otak.
6. Kecerdasan Intrapersonal
Bentuk kecerdasan ini merupakan kemampuan untuk
memahami dan mengartikulasikan cara kerja terdalam dari karakter dan
kepribadian. Kita sering menamai kecerdasan ini dengan kebijaksanaan.
Berkaitan dengan jurusan psikologi atau filsafat.
Tokoh2 sukses yang dapat dikenalkan untuk memperkaya kecerdasan ini
adalah para pemimpin keagamaan dan para psikolog.
7. Kecerdasan Spiritual
Bentuk kecerdasan ini dapat dipandang sebagai sebuah
kombinasi dan kesadaran interpersonal dan kecerdasan intrapersonal dengan
sebuah komponen “nilai” yang ditambahkan padanya.
Kecerdasan spiritual merupakan kecerdasan rohaniah,
yang menuntun diri kita menjadi manusia yang utuh, berada pada bagian yang
paling dalam diri kita.
Dengan beragamnya kecerdasan manusia, menjadikan peran
guru amat penting untuk memberikan arahan pada apa yang cocok dan sesuai bagi
para siswanya.
4.
Usaha Guru Membantu Siswa Dalam Belajar
Sesuai Dengan Potensinya
a.
Pengertian Pendidikan, Pengajaran dan Potensi
Dalam sebuah proses pembelajaran terdiri atas
berbagai unsur, mulai dari guru, siswa, materi pelajaran, strategi dan metode
pengajaran serta media pembelajaran. Proses belajar yang dialami
siswa merupakan bagian dari pendidikan dan pengajaran. Pendidikan pada hakikat
untuk perkembangan individu. Sesuai dengan Undang-Undang Nomor 20 tahun
2003 tentang Sistem Pendidikan Nasional (UU Sisdiknas), pendidikan adalah usaha
sadar dan terencana untuk mewujudkan suasana belajar dan proses pembelajaran
agar peserta didik secara aktif mengembangkan potensi dirinya untuk memiliki
kekuatan spiritual keagamaan, pengendalian diri, kepribadian, kecerdasan,
akhlak mulia, serta keterampilan yang dibutuhkan.
b.
Pentingnya Pembelajaran dengan Mengoptimalkan Potensi
Proses belajar yang dilalui seseorang secara umum
bertujuan untuk perubahan perilaku agar lebih baik dan berkembang. Pelaksanaan proses belajar itu
sendiri sebenarnya melibatkan seluruh potensi seseorang. Aspek pribadi yaitu
kognisi, afeksi dan perilaku, masing-masing memberi kontribusi untuk
tercapainya tujuan belajar yang diinginkan. Proses belajar yang dialami
siswa/mahasiswa tidak hanya sebatas transfer ilmu dari guru/dosen (teaching
oriented learning), tetapi yang lebih penting adalah bagaimana siswa dapat
memaknai proses belajarnya, siswa dapat menggali dan mengotimalkan seluruh
potensi yang ia miliki untuk mencapai tujuan pembelajaran yang dicita-citakan
c.
Peranguru dalam Pengembangan
Potensi Siswa
Guru
memegang peranan yang sangat strategis terutama dalam membentuk watak bangsa
serta mengembangkan potensi siswa. Kehadiran guru tidak tergantikan oleh unsur
yang lain, lebih-lebih dalam masyarakat kita yang multikultural dan
multidimensional, dimana peranan teknologi untuk menggantikan tugas-tugas guru
sangat minim.Guru memiliki perana yang sangat penting dalam menentukan
keberhasilan pendidikan. Guru yang profesional diharapkan menghasilkan lulusan
yang berkualitas. Profesionalisme guru sebagai ujung tombak di dalam
implementasi kurikulum di kelas yang perlumendapat perhatian(Depdiknas,2005). Dalam
proses belajar mengajar, guru mempunyai tugas untuk mendorong, membimbing, dan
memberi fasilitas belajar bagi siswa untuk mencapai tujuan. Guru mempunyai
tanggung jawab uuntuk melihat segala sesuatu yang terjadi dalam kelas untuk
membantu proses perkembangan siswa.
Tidak ada komentar:
Posting Komentar