DASAR-DASAR ILMU PENDIDIKAN
TUGAS
DASAR-DASAR ILMU PENDIDIKAN
Tentang
LANDASAN PENDIDIKAN
OLEH
NAMA :Asri
NIM/BP :16583/2010
JURUSAN :PEND. TEKNIK OTOMOTIF
FAKULTAS TEKNIK
UNIVERSITAS NEGERI PADANG
2015
LANDASAN PENDIDIKAN
1.
Landasan Filososfis
a.
Pengertian Landasan Filosofis
Landasan filosofis bersumber dari pandangan-pandanagan
dalam filsafat pendidikan, meyangkut keyakianan terhadap hakekat manusia,
keyakinan tentang sumber nilai, hakekat pengetahuan, dan tentang kehidupan yang
lebih baik dijalankan. Aliran filsafat yang kita kenal sampai saat ini
adalah Idealisme, Realisme, Perenialisme, Esensialisme, Pragmatisme dan
Progresivisme dan Ekstensialisme
1. Esensialisme
Esensialisme adalah mashab pendidikan yang
mengutamakan pelajaran teoretik (liberal arts) atau bahan ajar esensial.
2. Perenialisme
Perensialisme adalah aliran pendidikan yang
megutamakan bahan ajaran konstan (perenial) yakni kebenaran, keindahan, cinta
kepada kebaikan universal.
3. Pragmatisme dan Progresifme
Prakmatisme adalah aliran filsafat yang memandang
segala sesuatu dari nilai kegunaan praktis, di bidang pendidikan, aliran ini
melahirkan progresivisme yang menentang pendidikan tradisional.
4. Rekonstruksionisme
Rekonstruksionisme adalah mazhab filsafat pendidikan
yang menempatkan sekolah/lembaga pendidikan sebagai pelopor perubahan
masyarakat.
5. Eksistensialis
Filsafat pendidikan Eksistensialis berpendapat bahwa
kenyataan atau kebenaran adalah eksistensi atau adanya individu manusia itu
sendiri. Adanya manusia di dunia ini tidak punya tujuan dan kehidupan menjadi
terserap karena ada manusia. Manusia adalah bebas. Akan menjadi apa orang itu
ditentukan oleh keputusan dan komitmennya sendiri.
b. Pancasila sebagai Landasan Filosofis
Sistem Pendidkan Nasional
Pasal 2 UU RI No.2 Tahun 1989 menetapkan bahwa
pendidikan nasional berdasarkan pancasila dan UUD 1945. sedangkan Ketetapan MPR
RI No. II/MPR/1978 tentang P4 menegaskan pula bahwa Pancasila adalah jiwa
seluruh rakyat indonesia, kepribadian bangsa Indonesia, pandangan hidup bangsa
Indonesia, dan dasar negara Indonesia.
2.
Landasan Sosiologis
a.
Pengertian Landasan Sosiologis
Dasar sosiolagis berkenaan dengan perkembangan,
kebutuhan dan karakteristik masayarakat.Sosiologi pendidikan merupakan analisi
ilmiah tentang proses sosial dan pola-pola interaksi sosial di dalam sistem
pendidikan. Ruang lingkup yang dipelajari oleh sosiolagi pendidikan
meliputi empat bidang:
1. Hubungan sistem pendidikan
dengan aspek masyarakat lain.
2. hubunan kemanusiaan.
3. Pengaruh sekolah pada
perilaku anggotanya.
4. Sekolah dalam
komunitas,yang mempelajari pola interaksi antara sekolah dengan kelompok sosial
lain di dalam komunitasnya.
b. Masyarakat indonesia sebagai Landasan
Sosiologis Sistem Pendidikan Nasional
Perkembangan masyarakat Indonesia dari masa ke masa
telah mempengaruhi sistem pendidikan nasional. Hal tersebut sangatlah wajar,
mengingat kebutuhan akan pendidikan semakin meningkat dan komplek.
Berbagai upaya pemerintah telah dilakukan untuk
menyesuaikan pendidikan dengan perkembangan masyarakat terutama dalam hal
menumbuhkembangkan KeBhineka tunggal Ika-an, baik melalui kegiatan jalur
sekolah (umpamanya dengan pelajaran PPKn, Sejarah Perjuangan Bangsa, dan muatan
lokal), maupun jalur pendidikan luar sekolah (penataran P4, pemasyarakatan P4
nonpenataran)
3. Landasan legalitas
Kata landasan dalam hukum berarti melandasi atau
mendasari atau titik tolak.Sementara itu kata hukum dapat dipandang sebagai
aturan baku yang patut ditaati. Aturan baku yang sudah disahkan oleh pemerintah
ini , bila dilanggar akan mendapatkan sanksi sesuai dengan aturan yang berlaku
pula. Landasan hukum dapat diartikan peraturan baku sebagai tempat terpijak
atau titik tolak dalam melaksanakan kegiatan – kegiatan tertentu, dalam hal ini
kegiatan pendidikan.
a. Pendidikan
menurut Undang-Undang 1945
Undang – Undang Dasar 1945 adalah merupakan hukum
tertinggi di Indonesia. Pasal – pasal yang bertalian dengan pendidikan dalam
Undang – Undang Dasar 1945 hanya 2 pasal, yaitu pasal 31 dan Pasal 32. Yang
satu menceritakan tentang pendidikan dan yang satu menceritakan tentang
kebudayaan. Pasal 31 Ayat 1 berbunyi : Tiap – tiap warga Negara berhak
mendapatkan pengajaran. Dan ayat 2 pasal ini berbunyi : Pemerintah mengusahakan
dan menyelenggarakan satu sistem pengajar Pasal 32 pada Undang – Undang Dasar
berbunyi : Pemerintah memajukan kebudayaan nasional Indonesia yang diatur
dengan Undang – Undang.
b. Undang-Undang
RI Nomor 2 Tahun 1989 tentang Pendidikan Nasional
Tidak semua pasal akan dibahas dalam makalah ini. Yang
dibahas adalah pasal – pasal penting terutama yang membutuhkan penjelasan lebih
mendalam serta sebagai acuan untuk mengembangkan pendidikan. Pertama – tama
adalah Pasal 1 Ayat 2 dan Ayat 7. Ayat 2 berbunyi sebagai berikut : Pendidikan
nasional adalah pendidikan yang berakar pada kebudayaan nasional yang
berdasarkan pada Pancasila dan Undang – Undang Dasar 45. Undang – undang ini
mengharuskan pendidikan berakar pada kebudayaan nasional yang berdasarkan pada
pancasila dan Undang – Undang dasar 1945, yang selanjutnya disebut kebudayaan
Indonesia saja. Ini berarti teori – teori pendidikan dan praktek – praktek
pendidikan yang diterapkan di Indonesia, tidak boleh tidak haruslah berakar
pada kebudayaan Indonesia.“Selanjutnya Pasal 1 Ayat 7 berbunyi : Tenaga
Pendidik adalah anggota masyarakat yang mengabdikan diri dalam penyelenggaraan
pendidikan. Menurut ayat ini yang berhak menjadi tenaga kependidikan adalah
setiap anggota masyarakat yang mengabdikan dirinya dalam penyelenggaraan
pendidikan. Sedang yang dimaksud dengan Tenaga Kependidikan tertera dalam pasal
27 ayat 2, yang mengatakan tenaga kependidikan mencakup tenaga pendidik,
pengelola/kepala lembaga pendidikan, penilik/pengawas, peneliti, dan pengembang
pendidikan, pustakawan, laporan, dan teknisi sumber belajar.”
4.
Landasan Kultural
a.
Pengertian Landasan Kultural
Kebudayaan dan pendidikan mempunyai hubungan timbal
balik, sebab kebudayaan dapat dilestarikan/ dikembangkan dengan jalur
mewariskan kebudayaan dari generasi ke generasi penerus dengan jalan
pendidikan, baiksecara formal maupun informal.
Anggota masyarakat berusaha melakukan
perubahan-perubahan yang sesuai dengan perkembangan zaman sehingga terbentuklah
pola tingkah laku, nlai-nilai, dan norma-norma baru sesuai dengan tuntutan
masyarakat. Usaha-usaha menuju pola-pola ini disebut transformasi kebudayaan.
Lembaga sosial yang lazim digunakan sebagai alat transmisi dan transformasi
kebudayaan adalah lembaga pendidikan, utamanya sekolah dan keluarga.
b. Kebudayaan sebagai Landasan Sistem
Pendidkan Nasional
Pelestarian dan pengembangan kekayaan yang unik di
setiap daerah itu melalui upaya pendidikan sebagai wujud dari kebineka tunggal
ikaan masyarakat dan bangsa Indonesia. Hal ini harsulah dilaksanakan dalam
kerangka pemantapan kesatuan dan persatuan bangsa dan negara indonesia sebagai
sisi ketunggal-ikaan.
5.
Landasan Psikologis
a.
Pengertian Landasan Filosofis
Dasar psikologis berkaitan dengan prinsip-prinsip
belajar dan perkembangan anak. Pemahaman etrhadap peserta didik, utamanya yang
berkaitan dengan aspek kejiwaan merupakan salah satu kunci keberhasilan
pendidikan. Oleh karena itu, hasil kajian dan penemuan psikologis sangat
diperlukan penerapannya dalam bidang pendidikan.
Sebagai implikasinya pendidik tidak mungkin
memperlakukan sama kepada setiap peserta didik, sekalipun mereka memiliki
kesamaan. Penyusunan kurikulum perlu berhati-hati dalam menentukan jenjang
pengalaman belajar yang akan dijadikan garis-garis besar pengajaran serta
tingkat kerincian bahan belajar yang digariskan.
b. Perkembangan Peserta Didik sebagai Landasan
Psikologis
Pemahaman tumbuh kembang manusia sangat penting
sebagai bekal dasar untuk memahami peserta didik dan menemukan keputusan dan
atau tindakan yang tepat dalam membantu proses tumbuh kembang itu secara
efektif dan efisien.
6. Landasan Ilmiah dan
Teknologis
a. Pengertian Landasan IPTEK
Kebutuhan pendidikan yang mendesak cenderung memaksa
tenaga pendidik untuk mengadopsinya teknologi dari berbagai bidang teknologi
ke dalam penyelenggaraan pendidikan. Pendidikan yang berkaitan erat
dengan proses penyaluran pengetahuan haruslah mendapat perhatian yang
proporsional dalam bahan ajaran, dengan demikian pendidikan bukan hanya
berperan dalam pewarisan IPTEK tetapi juga ikut menyiapkan manusia yang sadar
IPTEK dan calon pakar IPTEK itu. Selanjutnya pendidikan akan dapat mewujudkan
fungsinya dalam pelestarian dan pengembangan iptek tersebut.
b. Perkembangan IPTEK sebagai Landasan
Ilmiah
Iptek merupakan salah satu hasil pemikiran manusia
untuk mencapai kehidupan yang lebih baik, yang dimualai pada permulaan
kehidupan manusia. Lembaga pendidikan, utamanya pendidikan jalur sekolah harus
mampu mengakomodasi dan mengantisipasi perkembangan iptek. Bahan ajar
sejogjanya hasil perkembangan iptek mutahir, baik yang berkaitan dengan hasil
perolehan informasi maupun cara memproleh informasi itu dan manfaatnya bagi
masyarakat.
7. Landasan Sejarah
Sejarah adalah keadaan masa lampau dengan segala macam
kejadian atau kegiatan yang dapat didasari oleh konsep – konsep tertentu.
Sejarah pendidikan di Indonesia. Pendidikan di Indonesia sudah ada sebelum
Negara Indonesia berdiri. Sebab itu sejarah pendidikan di Indonesia juga cukup
panjang. Pendidikan itu telah ada sejak zaman kuno, kemudian diteruskan dengan
zaman pengaruh agama Hindu dan Budha, zaman pengaruh agama Islam, pendidikan
pada zaman kemerdekaan. Pada waktu bangsa Indonesia berjuang merintis
kemerdekaan ada tiga tokoh pendidikan sekaligus pejuang kemerdekaan, yang
berjuang melalui pendidikan. Mereka membina anak-anak dan para pemuda melalui
lembaganya masing-masing untuk mengembalikan harga diri dan martabatnya yang
hilang akibat penjajahan Belanda. Tokoh-tokoh pendidik itu adalah Mohamad
Safei, Ki Hajar Dewantara, dan Kyai Haji Ahmad Dahlan (TIM MKDK, 1990). Mohamad
Syafei mendirikan sekolah INS atau Indonesisch Nederlandse School di Sumatera
Barat pada Tahun 1926. Sekolah ini lebih dikenal dengan nama Sekolah Kayutanam,
sebab sekolah ini didirikan di Kayutanam. Maksud ulama Syafei adalah mendidik
anak-anak agar dapat berdiri sendiri atas usaha sendiri dengan jiwa yang
merdeka. Tokoh pendidik nasional berikutnya yang akan dibahas adalah Ki Hajar
Dewantara yang mendirikan Taman Siswa di Yogyakarta. Sifat, system, dan metode
pendidikannya diringkas ke dalam empat keemasan, yaitu asas Taman Siswa, Panca
Darma, Adat Istiadat, dan semboyan atau perlambang.Asas Taman Siswa dirumuskan
pada Tahun 1922, yang sebagian besar merupakan asas perjuangan untuk menentang
penjajah Belanda pada waktu itu. Tokoh ketiga adalah Ahmad Dahlan yang
mendirikan organisasi Agama Islam pada tahun 1912 di Yogyakarta, yang kemudian
berkembang menjadi pendidikan Agama Islam. Pendidikan Muhammadiyah ini sebagian
besar memusatkan diri pada pengembangan agama Islam, dengan beberapa cirri
seperti berikut (TIM MKDK, 1990). Asas pendidikannya adalah Islam dengan tujuan
mewujudkan orang-orang muslim yang berakhlak mulia, cakap, percaya kepada diri
sendiri, dan berguna bagi masyarakat serta Negara.
Ada lima butir yang dijadikan dasar pendidikan yaitu :
1. Perubahan
cara berfikir
2. Kemasyarakatan
3. Aktivitas
4. Kreativitas
5. Optimisme
Sejarah pendidikan merupakan bahan pembanding untuk
memajukan pendidikan suatu bangsa. Umur sejarah pendidikan dunia dimulai dari
zaman Hellenisme (150-500 SM), zaman Humanisme atau Renaissance, dan zaman
reformasi dan kontra reformasi (1600-an). Namun pada zaman ini belum banyak
memberikan kontribusinya kepada pendidikan zaman sekarang.
Gerakan pendidikan yang sangat pengaruh terhadap
pendidikan saat ini adalah
1. Paham Realisme
Pada masa ini pendidikan diarahkan kepada kehidupan
dunia dan bersumber dari keadaan di dunia pula. Gerakan ini didorong oleh
berkembangnya ilmu-ilmu pengetahuan alam, seperti penemuan-penemuan baru dalam
ilmu falak tentang planet-planet dan bumi mengitari matahari serta
penemuan-penemuan daerah baru dalam mengelilingi dunia. Tokoh dalam gerakan
pendidikan ini adalah Francis Bacon (abad 17) dan Johann Amos Comenius.
2. Paham Rasionalisme
Paham ini dipelopori oleh John Locke (abad 18). Aliran
ini bertujuan memberikan kekuasaan bagi manusia untuk berpikir sendiri dan
bertindak untuk dirinya. Karena itu latihan-latihan sangat diperlukan untuk
memperkuat akal dan rasio. Keyakinan mereka adalah akal merupakan sumber
pengetahuan, atau pengetahuan adalah sebagai hasil pengolahan akal. Teori yang
terkenal adalah teori Tabularasa atau a blank sheet of paper.Mendidik
adalah menulisi kertas putih itu. Manusia tidak mewarisi pengetahuan tetapi
membentuk pengetahuannya sendiri.
3. Paham Naturalis
Aliran naturalis muncul sebagai akibat dari reaksi
terhadap aliran rasionalis. Tokoh pendirinya adalah J.J. Rousseau. Naturalisme
menentang kehidupan yang tidak wajar sebagai akibat dari rasionalisme, seperti
gaya hidup yang diperhalus, cara hidup yang dibuat-buat, sampai dengan korupsi.
Anak-anak dipandang sebagai orang dewasa yang kecil. Naturalisme menginginkan
keseimbangan antara kekuatan rasio dengan hati.
4. Paham Developmentalis
Aliran ini berkembang pada abad ke-19. aliran ini
memandang bahwa proses pendidikan sebagai suatu proses perkembangan jiwa.
Pendidikan adalah suatu proses perkembangan yang berlangsung dalam setiap
individu. Tokoh-tokohnya antara lain Pestalozzi, Johann Frederich Herbart,
Friedrich Wilhelm Froebel dan Stanley Hall (Pidarta, 1997 : 115)
5. Paham Nasionalisme
Paham ini muncul sebagai upaya membentuk
patriot-patriot bangsa, mempertahankan bangsa dari imperealis, antara lain
perang-perang yang dilakukan oleh kaisar Napoleon. Tokoh-tokohnya antara lain :
La Chalotais, Fichte, Jefferson.
6. Paham Liberalisme dan Positivisme
Aliran ini dibuktikan dengan munculnya sekolah-sekolah
yang dipakai alat untuk memperkuat kedudukan penguasa pemerintahan tokohnya
Adam Smith. Aliran positivisme dengan tokohnya Auguste Comte, mereka percaya
kepada kebenaran yang dapat diamati oleh pancaindera. Akibatnya kepercayaan
terhadap agama semakin lemah.
7. Paham Sosial
Muncul sebagai reaksi terhadap aliran liberalisme,
positivisme dan individualisme. Tokohnya adalah Paul Natorp dan George
Kerschensteiner, serta John Dewey. Aliran ini berpendapat bahwa masyarakat
mempunyai arti yang lebih esensial daripada individu.
9.
Landasan Ekonomi
Landasan Ekonomi pendidikan adalah asumsi-asumsi yang
bersumber dari kaidah-kaidah ekonomi yang dijadikan titik tolak dalam
pendidikan. Contoh: “Kalkulasi ekonomi selalu berkenaan dengan modal, produksi,
distribusi, persaingan, untung/laba dan rugi’’. Implikasinya, pendidikan
dipandang sebagai penanaman modal pada diri manusia (human investment) untuk
mempertinggi mutu tenaga kerja sehingga dapat meningkatkan produksi. Selain
itu, pemilihan sekolah atau jurusan oleh seseorang akan ditentukan dengan
mempertimbangkan kemampuan biaya/modal yang dimilikinya, prospek pekerjaan
serta gaji yang mungkin diperolehnya setelah lulus dan bekerja. Jika sekolah ingin
laku (banyak memperoleh siswa), maka harus mempunyai daya saing tinggi dalam
hal prestasi.
Tidak ada komentar:
Posting Komentar