Kamis, 02 Maret 2017

PERBEDAAN INDIVIDU DALAM BELAJAR

PERBEDAAN INDIVIDU DALAM BELAJAR


PERBEDAAN INDIVIDU DALAM BELAJAR

A.    GAYA BELAJAR
a.    Pengertian.
Gaya belajar adalah segala faktor yang mempermudah dan mendorong siswa/mahasiswa untuk belajar dalam situasi yang telah ditentukan (Kosasih A Jahiri, 1978,h.7).
Gaya belajar adalah kunci untuk mengembangkan kinerja dalam pekerjaan, di sekolah, dan dalam situasi-situasi antar pribadi. Ketika menyadari bahwa bagaimana seseorang menyerap dan mengolah informasi, belajar dan berkomunikasi menjadi sesuatu yang mudah dan menyenangkan(Nunan, 1991: 168).
Setiap anak atau peserta didik memiliki cara belajar sendiri yang di pandang efektif dalam belajar. Cara belajar atau kesenangan belajar yang sering juga disebut gaya belajar (learning style) diartikan sebagai karakteristik dan preferensi atau pilihan individu mengenai cara mengumpulkan infomasi, menafsirkan, mengorganisasi, merespon, dan memikirkan informasi tersebut.
Gaya belajar dapat dibedakan menjadi tiga. Pertama Gaya belajar visual: yaitu gaya belajar yang lebih banya menggunakan alat indra penglihatan sebagai alat untuk memperoleh pengetahuan. Karakteristik anak yang memiliki gaya belajar visual ialah mudah memperoleh pengetahuan terhadap apa yang dilihatnya, suka membaca, teliti, dan menyukai metode demonstrasi serta kurang menyukai metode ceramah. Kedua Gaya belajar auditorial: yaitu gaya belajar yang lebih banyak menggunakan indra pendengaran untuk memperoleh pengetahuan. Karakteristik anak yang memiliki gaya belajar auditorial ialah mudah memperoleh pengetahuan terhadap apa yang didengarnya, sulit menulis tetapi mudah bercerita, senang bersuara keras ketika sedang membaca,  lebih suka gurauan dari pada membaca buku, dan menyukai metode ceramah. Ketiga Gaya belajar kinestetik: yaitu gaya belajar yang lebih menekan geralk atau praktek langsung atas apa yang sedang dipelajarinya. Karakteristik anak yang memiliki gaya belajar kinestetik ialah suka mengerjakan sendiri atau praktek langsung, banyak bererak, ketika membaca menggunakan jari sebagai penunjuk, menyukai permainan yang menyibukkan, dan ingin selalu melakukan sesuatu.
Dengan adanya tiga gaya tersebut, guru dapat mengidentifikasi gaya belajar peserta didiknya, sehingga dapat memberikan layanan kepada peserta didiknya sesuai dengan gaya belajar masing-masing peserta didik. Dengan demikian masing-masing peserta didik dapat belajar dengan optimal.

b.    Dikotomi Gaya Belajar dan Berpikir
Dua dikotomi gaya yang paling banyak didiskusikan dalam wacana tentang pembelajaran adalah gaya impulsif/reflektif dan mendalam/dangkal.
Gaya impulsif/reflektif juga disebut sebagai tempo konseptual, yakni murid cenderung bertindak cepat dan impulsif atau menggunakan lebih banyak waktu untuk merespons dan merenungkan akurasi dari suatu jawaban (Kagan, 1965). Murid yang impulsif seringkali lebih banyak melakukan kesalahan ketimbang murid yang reflektif. Dibandingkan murid yang impulsif, murid yang reflektif lebih mungkin melakukan tugas berikut :
·      Mengingat informasi yang terstruktur
·      Membaca dengan memahami dan menginterpretasi teks
·      Memecahkan problem dan membuat keputusan
Dibandingkan murid yang impulsif, murid yang reflektif juga lebih mungkin untuk menentukan sendiri tujuan belajar dan berkonsentrasi pada informasi yang relevan. Murid reflektif biasanya standar kinerjanya tinggi.
Gaya mendalam/dangkal. Maksudnya adalah sejauh mana murid mempelajari materi belajar dengan satu cara yang membantu mereka untuk memahami makan materi tersebut (gaya mendalam), atau sekedar mencari apa-apa yang perlu untuk dipelajari (gaya dangkal). Murid yang belajar menggunakan gaya dangkal tidak bisa mengaitkan apa-apa yang mereka pelajari dengan kerangka konseptual yang lebih luas. Mereka cenderung belajar secara pasif, seringkali hanya mengingat informasi. Pelajar mendalam (deep learner) lebih mungkin untuk secara aktif memahami apa-apa yang mereka pelajari dan memberi makna pada apa yang perlu diingat. Jadi, pelajar mendalam menggunakan pendekatan konstruktivis dalam aktivitas belajarnya. Selain itu, pelajar mendalam  lebih mungkin memotivasi diri sendiri untuk belajar, sedangkan pelajar dangkal (surface learner) lebih mungkin akan termotivasi belajar jika ada penghargaan dari luar, serta pujian dan tanggapan positif dari guru (Snow, Corno, &Jackson, 1996)
B.     KEPRIBADIAN DAN TEMPERAMEN
a.    Kepribadian
Kepribadian atau personalitas adalah pemikiran, emosi, dan perilaku tertentu yang menjadi ciri dari seseorang dalam menghadapi dunianya. Lima faktor utama dalam kepribadian yaitu openness, conscientiousness, extraversion, agreableness, dan neuroticsm.
1)   Openness (keterbukaan kepada pengalaman)
·      Imajinatif atau praktis
·      Tertarik pada variasi atau rutinitas
·      Indenpenden atau mudah menyesuaikan diri
2)   Conscientiousness (kepatuhan)
·      Rapi atau tidak rapi
·      Perhatian atau cereboh
·      Disiplin atau impulsif
3)   Extraversion
·      Terbuka secara sosial atau menyendiri
·      Suka bersenang atau bersedih
·      Kasih sayang atau sebaliknya
4)   Agreableness (kepekaan nurani)
·      Berhati lembut atau kasar
·      Percaya atau curiga
·      Membantu atau tidak kooperatif
5)   Neuroticism (stabilitas emosional)
·      Tenang atau cemas
·      Merasa aman atau tidak aman
·      Puas pada diri atau mengasihani diri sendiri
Menurut konsep interaksi orang-situasi, cara terbaik untuk mengkarakterisi kepribadian individual bukan hanya berdasarkan pada ciri bawaan personal atau karakter saja, namun juga dengan situasinya. Interaksi orang-situasi adalah pandangan yang menyatakan bahwa cara terbaik untuk mengkonseptualisasikan kepribadian bukan hanya dari segi ciri atau karakteristik pesonal saja, tetapi juga dari segi situasinya. Teori interaksi orang-situasi memperkirakan bahwa murid yang ekstravert akan mampu beradaptasi dengan baik jika dia diminta untuk bekerja sama dengan murid lain, sedangkan  murid yang introvert akan mampu beradaptasi dengan lebih baik jika dia diminta mengerjakan tugas secara sendirian. Murid ekstravert akan lebih senang apabila bersosialisasi dengan banyak orang di sebuah pesta, sedangkan murid introvert lebih senang duduk sendiri atau sekedar bercakap dengan satu teman. Kesimpulannya, jangan menganggap bahwa kepribadian itu akan selalu membuat seseorang berperilaku tertentu di semua situasi. Konteks atau situasi juga penting (Burger,2000; Derlega, Winstead, & Jones, 1999). Pantau situasi dimana murid dengan berbagai karakternya yang berbeda tampak merasa nyaman, dan beri mereka kesempatan untuk belajar dalam situasi tersebut.

b.    Temperamen
Temperamen adalah gaya perilaku seseorang dan cara khasnya dalam memberi tanggapan atau respons. Klasifikasi yang paling terkenal adalah klasifikasi oleh Alexander Chess dan Stella Thomas ( Chess & Thomas, 1997; Thomas & Chess, 19991). Mereka percaya bahwa ada tiga tipe atau jenis tempramen:
·      “Anak mudah” (easy child) biasanya memiliki mood positif, cepat membangun rutinitas, dan mudah beradaptasi dengan pengalaman baru.
·       “Anak sulit” (difficult child) cenderung bereaksi negatif, cenderung agresif, kurang kontrol diri, dan lamban dalam menerima pengalaman baru.
·      “Anak lamban bersikap hangat” (slow-to-warm-up child) biasanya beraktivitas lamban, agak negatif, menunjukan kelambanan dalam beradaptasi, dan intensitas mood yang rendah.
Dalam satu studi, remaja bertempramen sulit biasanya mudah tergoda oleh penyalahgunaan narkoba dan mudah stres (Tubman & Windle, 1995). Dalam studi lain, faktor temperamen yang diberi label”diluar kendali”(mudah tersinggung dan terganggu) yang diketahui ada pada usia 3 sampai 5 tahun ternyata ada hubungannya dengan problem perilaku yang muncul pada usia 13 sampai 15 tahun(Caspi, dkk., 1995). Klasifikasi tempramen sekarang ini lebih difokuskan pada;
·      sikap dan pendekatan positif
·       sikap negatif dan
·      usaha kontrol (pengaturan diri).

C.     SOSIAL EKONOMI DAN BUDAYA
a.    Sosial Ekonomi
Meliputi tingkat pendidikan orang tua, pekerjaan orang tua, dan penghasilan orang tua. Tingkat orang tua berbeda satu dengan lainnya. Meskipun tidak mutlak tingkat pendidikan ini dapat mempengaruhi sikap orang tua terhadap pendidikan anak serta tingkat aspirasinya terhadap pendidikan anak. Demikian juga dengan pekerjaan dan penghasilan orang tua yang berbeda-beda. Perbedaan ini akan membawa implikasi pada berbedanya aspirasi orang tua terhadap pendidikan anak, aspirasi anak terhadap pendidikannya, fasilitas yang diberikan pada anak dan mungkin waktu disediakan untuk mendidik anak-anaknya. Demikian juga perbedaan status ekonomi dapat membawa implikasi salah satunya pada perbedaan pola gizi yang diterapkan dalam keluarga.

b.    Budaya
Merupakan pikiran, akal budi, hasil karya manusia, atau dapat juga didefinisikan sebagai adat istiadat. Adanya nilai-nilai dalam masyarkat memberitahu pada anggotanya tentang apa yang baik dan atau penting dalam masyarakatnya. Nilai-nilai tersebut terjabarkan dalam suatu norma-norma. Norma masing-masing masyarakat berbeda, maka perilaku yang muncul dari anggota masing-masing masyarakat berbeda satu dengan lainnya.
Fungsi pendidikan dalam konteks kebudayaan dapat dilihat dalam perkembangan kepribadian manusia. Tanpa kepribadian manusia tidak ada kebudayaan, meskipun kebudayaan bukanlah sekadar jumlah kepribadian-kepribadian. Para pakar antropologi, menunjuk kepada peranan individu bukan hanya sebagai bidakbidak di dalam papan catur kebudayaan. Individu adalah creator dan sekaligus manipulator kebudayaannya. Di dalam hal ini studi kebudayaan mengemukakan pengertian “sebab-akibat sirkuler”yang berarti bahwa antara kepribadian dan kebudayaan terdapat suatu interaksi yang saling menguntungkan
Di dalam perkembangan kepribadian diperlukan kebudayaan dan seterusnya kebudayaanakan dapat berkembang melalui kepribadian–kepribadian tersebut. Inilah yang disebut sebab-akibat sirkuler antara kepribadian dan kebudayaan. Hal ini menunjukkan kepada kita bahwa pendidikan bukan semata-mata transmisi kebudayaan secara pasif tetapi perlu mengembangkan kepribadian yang kreatif. Pranata sosial yang disebut sekolah harus kondusif untuk dapat mengembangkan kepribadian yang kreatif tersebut. Namun apa yang terjadi di dalam lembaga pendidikan yang disebut sekolah kita ialah sekolah telah menjadi sejenis penjara yang memasung kreativitas peserta didik.Kebudayaan sebenarnya adalah istilah sosiologis untuk tingkah-laku yang bisa dipelajari. Dengan demikian tingkah laku manusia bukanlah diturunkan seperti tingkah-laku binatang tetapi yang harus dipelajari kembali berulang-ulang dari orang dewasa dalam suatu generasi. Di sini kita lihat betapa pentingnya peranan pendidikan dalam pembentukan kepribadian manusia.Para pakar yang menaruh perhatian terhadap pendidikan dalam kebudayaan mula-mulanya muncul dari kaum behavioris dan psikoanalisis Para ahli psikologi behaviorisme melihat perilaku manusia sebagai suatu reaksi dari rangsangan dari sekitarnya.
Di sinilah peran pendidikan di dalam pembentukan perilaku manusia. Begitu pula psikolog aliran psikoanalis menganggap perilaku manusia ditentukan oleh dorongan-dorongan yang sadar maupun tidak sadar ini ditentukan antara lain oleh kebudayaan di mana pribadi itu hidup. John Gillin dalam Tilaar (1999) menyatukan pandangan behaviorisme dan psikoanalis mengenai perkembangan kepribadian manusia sebagai berikut.
·           Kebudayaan memberikan kondisi yang disadari dan yang tidak disadari untuk belajar.
·           Kebudayaan mendorong secara sadar ataupun tidak sadar akan reaksi-reaksi perilaku tertentu. Jadi selain kebudayaan meletakkan kondisi, yang terakhir ini kebudayaan merupakan perangsang-perangsang untuk terbentuknya perilaku-perilaku tertentu.
·           Kebudayaan mempunyai sistem “reward and punishment” terhadap perilaku-perilaku tertentu. Setiap kebudayaan akan mendorong suatu bentuk perilaku yang sesuai dengan system nilai dalam kebudayaan tersebut dan sebaliknya memberikan hukuman terhadap perilaku-perilaku yang bertentangan atau mengusik ketentraman hidup suatu masyarakat budaya tertentu.
·           Kebudayaan cenderung mengulang bentuk-bentuk kelakuan tertentu melalui prosesbelajar.


D.    PENDEKATAN PEMBELAJARAN SESUAI DENGAN PERBEDAAN INDIVIDU

Keberagaman adalauntuk melayani kebutuhan belajar peserta didik tertentu atau kelompok kecil pesertadidik, dari polpembelajaran yang lebih khusus untuk seluruh kelaaga pesert didik  menyukainya. Beberap prinsi mendasa yang  mendukung keberagaman.
a.    Kelas dengan kondisi peserta didik yang beragam.
Guru dan peserta didik memahami materi, cara mengelompokkan  peserta didik, caramengases pembelajaran dan elemen kelas lainnya merupakan alat yang biasa.Digunakandalam berbagaicara untuk menunjukkan keberhasilan individu dan seluruh kelas.
b.    Keberagaman datang dari hasil penilaian yang efektif dan terus menerus dari kebutuhan belajarpeserta didik.
Dalam kelas yang bervariasi perbedaan peserta didik diharapkan dapat diharga dan Didokumentasikan sebagadasauntuk merencana kan pembelajaran.
Prinsiini mengingatkan kitaakan hubungan dekat antara penilaian dan tugas. Kita bisa mengajalebi efektijika kita  tahu kebutuha da mina pesert didik.
Dalam  kela yang bervariasi, seorang guru melihat semua hayan dikatakan peserta didik atamenciptakan informasi yang berguna untuk dipahami peserta didik.
c.    Semua peserta didik mempunyai pekerjaan yang sesuai.
Dalam kelas yang bervariasi, tujuaguru adalah agar setiap peserta didik 
merastertantangterus, sehingga pekerjaannya menarik atau menyenangkan.
d.   Guru dan peserta didik dapat bekerja sama dalam pembelajaran.
Guru mengakses kebutuhan belajar, memfasilitasi pembelajaran damerencanakan kurikulumyang efektif. Dalakelas diferensiasi, guru mempelajari peserta  didiknya dan terus melibatkan mereka  untuk membua keputusa tentang kelas. Hasilnya peserta didik menjadi pembelajar yanglebih mandiri.

Apa yan biasany berubah dalam Kelasyang Beragam adalah bagaimana 
peserta didimendapatkan akses materi Pelajaran yang dipelajari. Beberapa cara gurubisa mendiferensiasi akses
terhadap isi termasuk dalam hal :

a.    Menggunaka obje denga beberap pesert didi untuk  membant temannya memahamikonsep matematika atau IPA;
b.    Menggunakan teks lebih dari satu sebagai bahan bacaan;
c.     Menggunakan    variasi    pengaturan    mitra    membaca    untuk    mendukung damemberikantantangan kepada peserta didik yang bekerja dengan materi teks ;
d.   Mengulang kembali pembelajaran untuk peserta didik yang membutuhkan dengan cara lain; dan
e.    Menggunakan teks, tape recorder, poster dan videsebagai Cara Untuk menyampaikan konsep utama kepada berbagai peserta didik.
f.     Aktivitas.    Suatu    kegiatan    yang    efektif    meliputi    kemampuan    menggunakanketerampilan untuk memahami ide utama dan mempunyai tujuan pembelajaran.
g.    Hasil/produk. Guru dapat membedakan hasil belajar yang dicapai peserta didik.






















Tidak ada komentar:

Posting Komentar