PERBEDAAN INDIVIDU DALAM BELAJAR
PERBEDAAN INDIVIDU DALAM BELAJAR
A.
GAYA BELAJAR
a.
Pengertian.
Gaya belajar
adalah segala faktor yang mempermudah dan mendorong siswa/mahasiswa untuk
belajar dalam situasi yang telah ditentukan (Kosasih A Jahiri, 1978,h.7).
Gaya belajar adalah
kunci untuk mengembangkan kinerja dalam pekerjaan, di sekolah, dan dalam
situasi-situasi antar pribadi. Ketika menyadari bahwa bagaimana seseorang
menyerap dan mengolah informasi, belajar dan berkomunikasi menjadi sesuatu yang
mudah dan menyenangkan(Nunan, 1991: 168).
Setiap anak atau peserta didik memiliki cara belajar
sendiri yang di pandang efektif dalam belajar. Cara belajar atau kesenangan
belajar yang sering juga disebut gaya belajar (learning style) diartikan
sebagai karakteristik dan preferensi atau pilihan individu mengenai cara
mengumpulkan infomasi, menafsirkan, mengorganisasi, merespon, dan memikirkan
informasi tersebut.
Gaya belajar dapat dibedakan menjadi tiga. Pertama
Gaya belajar visual: yaitu gaya belajar yang lebih banya menggunakan alat indra
penglihatan sebagai alat untuk memperoleh pengetahuan. Karakteristik anak yang
memiliki gaya belajar visual ialah mudah memperoleh pengetahuan terhadap apa
yang dilihatnya, suka membaca, teliti, dan menyukai metode demonstrasi serta
kurang menyukai metode ceramah. Kedua Gaya belajar auditorial: yaitu gaya
belajar yang lebih banyak menggunakan indra pendengaran untuk memperoleh
pengetahuan. Karakteristik anak yang memiliki gaya belajar auditorial ialah
mudah memperoleh pengetahuan terhadap apa yang didengarnya, sulit menulis
tetapi mudah bercerita, senang bersuara keras ketika sedang membaca,
lebih suka gurauan dari pada membaca buku, dan menyukai metode ceramah. Ketiga
Gaya belajar kinestetik: yaitu gaya belajar yang lebih menekan geralk atau
praktek langsung atas apa yang sedang dipelajarinya. Karakteristik anak yang
memiliki gaya belajar kinestetik ialah suka mengerjakan sendiri atau praktek
langsung, banyak bererak, ketika membaca menggunakan jari sebagai penunjuk,
menyukai permainan yang menyibukkan, dan ingin selalu melakukan sesuatu.
Dengan adanya tiga gaya tersebut, guru dapat
mengidentifikasi gaya belajar peserta didiknya, sehingga dapat memberikan
layanan kepada peserta didiknya sesuai dengan gaya belajar masing-masing
peserta didik. Dengan demikian masing-masing peserta didik dapat belajar dengan
optimal.
b.
Dikotomi Gaya Belajar dan Berpikir
Dua dikotomi gaya yang paling banyak didiskusikan
dalam wacana tentang pembelajaran adalah gaya impulsif/reflektif dan
mendalam/dangkal.
Gaya impulsif/reflektif juga disebut sebagai tempo konseptual, yakni murid cenderung
bertindak cepat dan impulsif atau menggunakan lebih banyak waktu untuk
merespons dan merenungkan akurasi dari suatu jawaban (Kagan, 1965). Murid yang
impulsif seringkali lebih banyak melakukan kesalahan ketimbang murid yang
reflektif. Dibandingkan murid yang impulsif, murid yang reflektif lebih mungkin
melakukan tugas berikut :
·
Mengingat informasi yang terstruktur
·
Membaca dengan memahami dan
menginterpretasi teks
·
Memecahkan problem dan membuat keputusan
Dibandingkan murid yang impulsif, murid yang reflektif
juga lebih mungkin untuk menentukan sendiri tujuan belajar dan berkonsentrasi
pada informasi yang relevan. Murid reflektif biasanya standar kinerjanya
tinggi.
Gaya mendalam/dangkal. Maksudnya adalah sejauh mana murid mempelajari materi belajar dengan satu
cara yang membantu mereka untuk memahami makan materi tersebut (gaya mendalam),
atau sekedar mencari apa-apa yang perlu untuk dipelajari (gaya dangkal). Murid
yang belajar menggunakan gaya dangkal tidak bisa mengaitkan apa-apa yang mereka
pelajari dengan kerangka konseptual yang lebih luas. Mereka cenderung belajar
secara pasif, seringkali hanya mengingat informasi. Pelajar mendalam (deep
learner) lebih mungkin untuk secara aktif memahami apa-apa yang mereka pelajari
dan memberi makna pada apa yang perlu diingat. Jadi, pelajar mendalam
menggunakan pendekatan konstruktivis dalam aktivitas belajarnya. Selain itu,
pelajar mendalam lebih mungkin memotivasi diri sendiri untuk belajar,
sedangkan pelajar dangkal (surface learner) lebih mungkin akan termotivasi
belajar jika ada penghargaan dari luar, serta pujian dan tanggapan positif dari
guru (Snow, Corno, &Jackson, 1996)
B.
KEPRIBADIAN DAN TEMPERAMEN
a.
Kepribadian
Kepribadian atau
personalitas adalah pemikiran, emosi, dan perilaku tertentu yang menjadi ciri
dari seseorang dalam menghadapi dunianya. Lima faktor utama dalam kepribadian
yaitu openness, conscientiousness, extraversion, agreableness, dan neuroticsm.
1)
Openness (keterbukaan kepada pengalaman)
·
Imajinatif atau praktis
·
Tertarik pada variasi atau rutinitas
·
Indenpenden atau mudah menyesuaikan diri
2)
Conscientiousness (kepatuhan)
·
Rapi atau tidak rapi
·
Perhatian atau cereboh
·
Disiplin atau impulsif
3)
Extraversion
·
Terbuka secara sosial atau menyendiri
·
Suka bersenang atau bersedih
·
Kasih sayang atau sebaliknya
4)
Agreableness (kepekaan nurani)
·
Berhati lembut atau kasar
·
Percaya atau curiga
·
Membantu atau tidak kooperatif
5)
Neuroticism (stabilitas emosional)
·
Tenang atau cemas
·
Merasa aman atau tidak aman
·
Puas pada diri atau mengasihani diri
sendiri
Menurut konsep
interaksi orang-situasi, cara terbaik untuk mengkarakterisi kepribadian
individual bukan hanya berdasarkan pada ciri bawaan personal atau karakter
saja, namun juga dengan situasinya. Interaksi orang-situasi adalah pandangan
yang menyatakan bahwa cara terbaik untuk mengkonseptualisasikan kepribadian
bukan hanya dari segi ciri atau karakteristik pesonal saja, tetapi juga dari
segi situasinya. Teori interaksi orang-situasi memperkirakan bahwa murid yang
ekstravert akan mampu beradaptasi dengan baik jika dia diminta untuk bekerja
sama dengan murid lain, sedangkan murid yang introvert akan mampu
beradaptasi dengan lebih baik jika dia diminta mengerjakan tugas secara
sendirian. Murid ekstravert akan lebih senang apabila bersosialisasi dengan
banyak orang di sebuah pesta, sedangkan murid introvert lebih senang duduk
sendiri atau sekedar bercakap dengan satu teman. Kesimpulannya, jangan
menganggap bahwa kepribadian itu akan selalu membuat seseorang berperilaku
tertentu di semua situasi. Konteks atau situasi juga penting (Burger,2000;
Derlega, Winstead, & Jones, 1999). Pantau situasi dimana murid dengan
berbagai karakternya yang berbeda tampak merasa nyaman, dan beri mereka
kesempatan untuk belajar dalam situasi tersebut.
b.
Temperamen
Temperamen
adalah gaya perilaku seseorang dan cara khasnya dalam memberi tanggapan atau
respons. Klasifikasi yang paling terkenal adalah klasifikasi oleh Alexander
Chess dan Stella Thomas ( Chess & Thomas, 1997; Thomas & Chess, 19991).
Mereka percaya bahwa ada tiga tipe atau jenis tempramen:
·
“Anak mudah” (easy child) biasanya
memiliki mood positif, cepat membangun rutinitas, dan mudah beradaptasi dengan
pengalaman baru.
·
“Anak sulit” (difficult child)
cenderung bereaksi negatif, cenderung agresif, kurang kontrol diri, dan lamban
dalam menerima pengalaman baru.
·
“Anak lamban bersikap hangat”
(slow-to-warm-up child) biasanya beraktivitas lamban, agak negatif, menunjukan
kelambanan dalam beradaptasi, dan intensitas mood yang rendah.
Dalam satu studi, remaja bertempramen sulit biasanya
mudah tergoda oleh penyalahgunaan narkoba dan mudah stres (Tubman & Windle,
1995). Dalam studi lain, faktor temperamen yang diberi label”diluar
kendali”(mudah tersinggung dan terganggu) yang diketahui ada pada usia 3 sampai
5 tahun ternyata ada hubungannya dengan problem perilaku yang muncul pada usia
13 sampai 15 tahun(Caspi, dkk., 1995). Klasifikasi tempramen sekarang ini lebih
difokuskan pada;
·
sikap dan pendekatan positif
·
sikap negatif dan
·
usaha kontrol (pengaturan diri).
C.
SOSIAL EKONOMI DAN BUDAYA
a.
Sosial Ekonomi
Meliputi tingkat pendidikan orang tua, pekerjaan orang
tua, dan penghasilan orang tua. Tingkat orang tua berbeda satu dengan lainnya.
Meskipun tidak mutlak tingkat pendidikan ini dapat mempengaruhi sikap orang tua
terhadap pendidikan anak serta tingkat aspirasinya terhadap pendidikan anak.
Demikian juga dengan pekerjaan dan penghasilan orang tua yang berbeda-beda.
Perbedaan ini akan membawa implikasi pada berbedanya aspirasi orang tua
terhadap pendidikan anak, aspirasi anak terhadap pendidikannya, fasilitas yang
diberikan pada anak dan mungkin waktu disediakan untuk mendidik anak-anaknya.
Demikian juga perbedaan status ekonomi dapat membawa implikasi salah satunya
pada perbedaan pola gizi yang diterapkan dalam keluarga.
b.
Budaya
Merupakan pikiran, akal budi, hasil karya manusia,
atau dapat juga didefinisikan sebagai adat istiadat. Adanya nilai-nilai dalam
masyarkat memberitahu pada anggotanya tentang apa yang baik dan atau penting
dalam masyarakatnya. Nilai-nilai tersebut terjabarkan dalam suatu norma-norma.
Norma masing-masing masyarakat berbeda, maka perilaku yang muncul dari anggota
masing-masing masyarakat berbeda satu dengan lainnya.
Fungsi pendidikan dalam konteks kebudayaan dapat
dilihat dalam perkembangan kepribadian manusia. Tanpa kepribadian manusia tidak
ada kebudayaan, meskipun kebudayaan bukanlah sekadar jumlah
kepribadian-kepribadian. Para pakar antropologi, menunjuk kepada peranan
individu bukan hanya sebagai bidakbidak di dalam papan catur kebudayaan. Individu
adalah creator dan sekaligus manipulator kebudayaannya. Di dalam hal ini studi
kebudayaan mengemukakan pengertian “sebab-akibat sirkuler”yang berarti bahwa
antara kepribadian dan kebudayaan terdapat suatu interaksi yang saling
menguntungkan
Di dalam perkembangan kepribadian diperlukan
kebudayaan dan seterusnya kebudayaanakan dapat berkembang melalui
kepribadian–kepribadian tersebut. Inilah yang disebut sebab-akibat sirkuler
antara kepribadian dan kebudayaan. Hal ini menunjukkan kepada kita bahwa
pendidikan bukan semata-mata transmisi kebudayaan secara pasif tetapi perlu
mengembangkan kepribadian yang kreatif. Pranata sosial yang disebut sekolah
harus kondusif untuk dapat mengembangkan kepribadian yang kreatif tersebut.
Namun apa yang terjadi di dalam lembaga pendidikan yang disebut sekolah kita
ialah sekolah telah menjadi sejenis penjara yang memasung kreativitas peserta
didik.Kebudayaan sebenarnya adalah istilah sosiologis untuk tingkah-laku yang
bisa dipelajari. Dengan demikian tingkah laku manusia bukanlah diturunkan
seperti tingkah-laku binatang tetapi yang harus dipelajari kembali
berulang-ulang dari orang dewasa dalam suatu generasi. Di sini kita lihat
betapa pentingnya peranan pendidikan dalam pembentukan kepribadian manusia.Para
pakar yang menaruh perhatian terhadap pendidikan dalam kebudayaan mula-mulanya
muncul dari kaum behavioris dan psikoanalisis Para ahli psikologi behaviorisme
melihat perilaku manusia sebagai suatu reaksi dari rangsangan dari sekitarnya.
Di sinilah peran pendidikan di dalam pembentukan
perilaku manusia. Begitu pula psikolog aliran psikoanalis menganggap perilaku
manusia ditentukan oleh dorongan-dorongan yang sadar maupun tidak sadar ini
ditentukan antara lain oleh kebudayaan di mana pribadi itu hidup. John Gillin dalam
Tilaar (1999) menyatukan pandangan behaviorisme dan psikoanalis mengenai
perkembangan kepribadian manusia sebagai berikut.
·
Kebudayaan memberikan kondisi yang
disadari dan yang tidak disadari untuk belajar.
·
Kebudayaan mendorong secara sadar
ataupun tidak sadar akan reaksi-reaksi perilaku tertentu. Jadi selain
kebudayaan meletakkan kondisi, yang terakhir ini kebudayaan merupakan
perangsang-perangsang untuk terbentuknya perilaku-perilaku tertentu.
·
Kebudayaan mempunyai sistem “reward
and punishment” terhadap perilaku-perilaku tertentu. Setiap kebudayaan akan
mendorong suatu bentuk perilaku yang sesuai dengan system nilai dalam
kebudayaan tersebut dan sebaliknya memberikan hukuman terhadap
perilaku-perilaku yang bertentangan atau mengusik ketentraman hidup suatu
masyarakat budaya tertentu.
·
Kebudayaan cenderung mengulang
bentuk-bentuk kelakuan tertentu melalui prosesbelajar.
D.
PENDEKATAN PEMBELAJARAN SESUAI DENGAN
PERBEDAAN INDIVIDU
Keberagaman adalah untuk melayani kebutuhan belajar peserta didik tertentu atau
kelompok kecil pesertadidik, dari pola pembelajaran yang lebih khusus untuk seluruh kelas agar peserta didik menyukainya. Beberapa prinsip mendasar yang mendukung keberagaman.
a.
Kelas dengan kondisi peserta didik yang beragam.
Guru dan peserta didik memahami materi, cara mengelompokkan peserta didik, caramengases pembelajaran dan elemen kelas lainnya merupakan alat yang biasa.Digunakandalam berbagaicara untuk menunjukkan keberhasilan individu dan seluruh kelas.
b.
Keberagaman datang dari hasil penilaian yang efektif dan terus menerus dari kebutuhan belajarpeserta didik.
Dalam kelas yang bervariasi, perbedaan peserta didik diharapkan dapat dihargai dan Didokumentasikan sebagai dasar untuk merencana kan pembelajaran.
Prinsip ini mengingatkan kitaakan hubungan dekat antara penilaian dan tugas. Kita bisa mengajar lebih efektif jika kita tahu kebutuhan dan minat peserta didik.
Dalam kelas yang bervariasi, seorang guru melihat semua hal yan dikatakan peserta didik atau menciptakan informasi yang berguna untuk dipahami peserta didik.
c.
Semua peserta didik mempunyai pekerjaan yang sesuai.
Dalam kelas yang bervariasi, tujuan guru adalah agar setiap peserta didik
merasa tertantangterus, sehingga pekerjaannya menarik atau menyenangkan.
d.
Guru dan peserta didik dapat bekerja sama dalam pembelajaran.
Guru mengakses kebutuhan belajar, memfasilitasi pembelajaran dan merencanakan kurikulumyang efektif. Dalam kelas diferensiasi, guru mempelajari peserta didiknya dan terus melibatkan mereka untuk membuat keputusan tentang kelas. Hasilnya peserta didik menjadi pembelajar yanglebih mandiri.
Apa yang biasanya berubah dalam Kelasyang Beragam adalah bagaimana
peserta didik mendapatkan akses materi Pelajaran yang dipelajari. Beberapa cara gurubisa mendiferensiasi akses
terhadap isi termasuk dalam hal :
a.
Menggunakan objek dengan beberapa peserta didik untuk membantu temannya memahamikonsep matematika atau IPA;
b.
Menggunakan teks lebih dari satu sebagai bahan bacaan;
c.
Menggunakan variasi pengaturan mitra membaca untuk mendukung
dan memberikantantangan kepada peserta didik yang bekerja dengan materi teks ;
d.
Mengulang kembali pembelajaran untuk peserta didik yang membutuhkan dengan
cara lain; dan
e.
Menggunakan teks, tape recorder, poster dan video sebagai Cara Untuk menyampaikan konsep utama kepada berbagai peserta didik.
f.
Aktivitas. Suatu kegiatan yang efektif meliputi kemampuan menggunakanketerampilan untuk memahami ide utama dan mempunyai tujuan pembelajaran.
g.
Hasil/produk. Guru dapat membedakan hasil belajar yang dicapai peserta didik.
Tidak ada komentar:
Posting Komentar