DASAR-DASAR ILMU PENDIDIKAN
TUGAS
DASAR-DASAR ILMU PENDIDIKAN
tentang
Hakikat ilmu pendidikan
OLEH
NAMA : Asri
NIM/BP : 16583/2010
JURUSAN :PEND. TEKNIK OTOMOTIF
FAKULTAS TEKNIK
UNIVERSITAS NEGERI PADANG
2015
A.
PENGERTIAN
PENDIDIKAN
Pendidikan adalah usaha sadar dan terencana untuk
mewujudkan suasana belajar dan proses pembelajaran agar peserta didik secara
aktif mengembangkan potensi dirinya untuk memiliki kekuatan spiritual
keagamaan, pengendalian diri, kepribadian, kecerdasan, akhlak mulia, serta
keterampilan yang diperlukan dirinya dan masyarakat. Pendidikan meliputi
pengajaran keahlian khusus, dan juga sesuatu yang tidak dapat dilihat tetapi
lebih mendalam yaitu pemberian pengetahuan, pertimbangan dan kebijaksanaan.
Salah satu dasar utama pendidikan adalah untuk mengajar kebudayaan melewati
generasi. Kehidupan suatu bangsa erat sekali kaitannya dengan tingkat pendidikan.
Pendidikan bukan hanya sekedar mengawetkan budaya dan meneruskannya dari
generasi ke generasi, akan tetapi juga diharapkan dapat mengubah dan mengembangkan
pengetahuan.
Pendidikan bukan hanya
menyampaikan keterampilan yang sudah dikenal, tetapi harus dapat meramalkan
berbagai jenis keterampilan dan kemahiran yang akan datang, dan sekaligus
menemukan cara yang tepat dan cepat supaya dapat dikuasai oleh anak didik.
Pendidikan merupakan usaha yang
sengaja secara sadar dan terencana untuk membantu meningkatkan perkembangan
potensi dan kemampuan anak agar bermanfaat bagi kepentingan hidupnya sebagai
seorang individu dan sebagai warga negara/masyarakat, dengan memilih isi
(materi), strategi kegiatan, dan teknik penilaian yang sesuai. Dilihat dari
sudut perkembangan yang dialami oleh anak, maka usaha yang sengaja dan
terencana tersebut ditujukan untuk membantu anak dalam menghadapi dan
melaksanakan tugas-tugas perkembangan yang dialaminya dalam setiap periode
perkembangan. Dengan kata lain, pendidikan dipandang mempunyai peranan yang
besar dalam mencapai keberhasilan dalam perkembangan anak.
Branata (1988) mengungkapkan
bahwa Pendidikan ialah usaha yang sengaja diadakan, baik langsung maupun secara
tidak langsung, untuk membantu anak dalam perkembangannya mencapai kedewasaan.
Pendapat diatas seajalan dengan pendapat Purwanto (1987 :11) yang menyatakan
bahwa Pendidikan adalah pimpinan yang diberikan dengan sengaja oleh orang
dewasa kepada anak-anak, dalam pertumbuhannya (jasmani dan rohani) agar berguna
bagi diri sendiri dan bagi masyarakat.
Kleis (1974) memberikan batasan
umum bahwa :
”pendidikan adalah pengalaman
yang dengan pengalaman itu, seseorang atau kelompok orang dapat memahami
seseuatu yang sebelumnya tidak mereka pahami. Pengalaman itu terjadi karena ada
interaksi antara seseorang atau kelompok dengan lingkungannya. Interaksi itu
menimbulkan proses perubahan (belajar) pada manusia dan selanjutnya proses
perubahan itu menghasilkan perkembangan (development) bagi kehidupan seseorang
atau kelompok dalam lingkungannya”.
Proses belajar akan menghasilkan
perubahan dalam ranah kognitif (penalaran, penafsiran, pemahaman, dan penerapan
informasi), peningkatan kompetensi (keterampilan intelektual dan sosial), serta
pemilihan dan penerimaan secara sadar terhadap nilai, sikap, penghargaan dan
perasaan, serta kemauan untuk berbuat atau merespon sesuatu rangsangan (stimuli).
Orang yakin dan percaya untuk
menanggulangi kemiskinan, cara utama adalah dengan memperbesar jumlah penduduk
yang bersekolah dan terdidik dengan baik. Dengan kata lain, pendidikan
dipandang sebagai jalan menuju kemakmuran.
Manusia dilahirkan dalam keadaan
yang tidak berdaya sama sekali. Dia sangat membutuhkan bantuan yang penuh
perhatian dan kasih sayang dari orang tuanya, terutama ibunya, supaya dia dapat
hidup terus dengan sempurna, jasmani dan rohani. Orang tualah yang pertama dan
utama bertanggung jawab terhadap pendidikan anaknya. Dalam ilmu jiwa dikenal
dengan istilah pertumbuhan dan perkembangan, yaitu supaya anak sempurna dalam
pertumbuhan dan perkembangannya.
Pertumbuhan ialah
perubahan-perubahan yang terjadi pada jasmani; bertambah besar dan tinggi.
Perkembangan lebih luas dari pertunbuhan ialah perubahan-perubahan yang terjadi
pada rohani dan jasmaniah. Dengan kata lain, perkembangan merupakan suatu
rentetan perubahan yang sifatnya menyeluruh dalam interaksi anak dan
lingkungannya.
Oleh karena itu Idris (1982:10)
mengemukakan bahwa :
”Pendidikan adalah serangkaian
kegiatan komunikasi yang bertujuan, antara manusia dewasa dengan si anak didik
yang secara tatap muka atau dengan menggunakan media dalam rangka memebrikan
bantuan terhadap perkembangan anak seutuhnya, dalam arti supaya dapat
mengembangkan potensinya semaksimal mungkin, agar menjadi manusia dewasa yang
bertanggung jawab. Potensi disini ialah potensi fisik, emosi, sosial, sikap,
moral, pengetahuan, dan keterampilan.”
B.
PENGERTIAN
ILMU PENDIDIKAN
Perkembangan pemikiran manusia dalam memberikan
batasan tentang makna dan pengertian pendidikan, setiap saat selalu menunjukkan
adanya perubahan. Perubahan itu didasarkan atas berbagai temuan dan perubahan
di lapangan yang berkaitan dengan semakin bertambahnya komponen sistem
pendidikan yang ada. Berkembangnya pola pikir para ahli pendidikan, pengelola
pendidikan dan pengamat pendidikan yang membuahkan teori-teori baru. Kemajuan
alat teknologi turut andil dalam mewarnai perubahan makna dan pengertian
pendidikan tersebut. Pada saat yang sama, proses pembelajaran dan pendidikan
selalu eksis dan terus berlangsung. Karena itu, bisa jadi pandangan seseorang
tentang makna atau pengertian pendidikan yang dianut oleh suatu negara
tertentu, pada saat yang berbeda dan di tempat yang berbeda makna dan
pengertian pendidikan itu justru tidak relevan. Namun demikian, selama belum
ada teori dan temuan baru tentang makna dan pengertian pendidikan, maka teori
dan temuan yang telah ada masih relevan untuk dimanfaatkan sebagai acauan.
Ilmu Pendidikan adalah dua kata yang dipadukan,
yakni Ilmu dan Pendidikan yang masing-masing
memiliki arti dan makna tersendiri. Dalam Kamus Besar Bahasa Indonesia terbitan
Balai Pustaka disebutkan, bahwa Ilmu adalah Pengetahuan
tentang sesuatu bidang yang disusun secara bersistem menurut metode tertentu,
yang dapat digunakan untuk menerangkan gejala tertentu di bidang (pengetahuan)
itu.
Senada dengan Nur Ubiyati yang mengemukakan, bahwa
Ilmu ialah suatu kumpulan pengetahuan yang tersusun secara sistematis
dan mempunyai metode-metode tertentu yang bersifat ilmiah. Ada lagi
yang mengemukakan, bahwa Ilmu adalah suatu uraian yang tersusun dengan
lengkap tentang salah satu dari keberadaan. Uraian tersebut adalah tentang
segi-segi dari keberadaan tertentu. Segi-segi ini saling berkait, mempunyai
hubungan sebab akibat, tersusun logis dan diperoleh melalui cara atau metode
tertentu.
Endang Saifuddin Anshari, mengatakan bahwa Ilmu berasal
dari kata bahasa Arab “‘Alima” yang memiliki pengertian “Tahu”.
Dan dalam bahasa Inggris dan Perancis disebut dengan “Science”, dalam
bahasa Jerman “Wissenscaft” dan dalam bahasa Belanda “Wetenschap”.
Yang kesemuanya sama memiliki arti “tahu”. “Science” berasal
“scio, scire (bahasa Latin) yang berarti “tahu”.
Jadi, baik “ilmu”maupun “science” secara etimologis berarti
“pengetahuan”. Namun, secara terminologis “ilmu”
dan “science” itu semacan pengetahuan yang mempunyai
ciri-ciri, tanda-tanda dan syarat-syarat yang khas. Jadi, ilmu adalah semacam
pengetahuan yang mempunyai ciri, tanda dan syarat tertentu, yaitu sistematik,
rasional, empiris, umum dan kumulatif, lukisan dan keterangan yang lengkap dan
konsisten mengenai hal-hal yang distudinya dalam ruang dan waktu sejauh
jangkauan pemikiran dan penginderaan manusia.
Mohammad Hatta menjelaskan, bahwa tiap-tiap ilmu
adalah pengetahuan yang teratur tentang pekerjaan hukum kausal dalam satu
golongan masalah yang sama tabiatnya, maupun menurut kedudukannya tampak dari
luar, maupun menurutnya bangunnya dari dalam.
Prof. Drs. Harsoyo menjelaskan, bahwa ilmu itu
merupakan akumulasi pengetahuan yang disistemasikan, juga merupakan pendekatan
atau suatu metode pendekatan terhadap seluruh dunia empiris, yaitu dunia
yang terikat oleh faktor ruang dan waktu, dunia yang pada prinsipnya dapat
diamati oleh panca indera manusia. Dan merupakan suatu cara menganalisa yang
mengizinkan kepada ahli-ahlinya untuk menyatakan sesuatu proposisi dalam bentuk
“jika …., Maka … “.
Berdasarkan uraian di atas, maka bisa diambil suatu
kesimpulan bahwa ilmu adalah usaha pemahaman manusia yang
disusun dalam satu sistema mengenai kenyataan, struktur, pembagian,
bagian-bagian dan hukum-hukum tentang hal-ihwal yang diselidiki (alam, manusia
dan agama) sejauh yang dapat dijangkau daya pemikiran yang dibantu penginderaan
manusia itu, yang kebenarannya diuji secara empiris, riset dan eksperimental
Sedangkan arti Pendidikan, adalah
merupakan proses upaya meningkatkan nilai peradaban individu atau
masyarakat dari suatu keadaan tertentu menjadi suatu keadaan yang lebih baik.
Serta dalam Undang-undang RI Nomor 20 tahun 2003 tentang Sistem Pendidikan
Nasional pada Bab I Pasal 1 dikemukakan, bahwa Pendidikan adalah usaha
sadar dan terrencana untuk mewujudkan suasana belajar dan proses pembelajaran
agar peserta didik secara aktif mengembangkan potensi dirinya untuk memiliki
kekuatan spritual keagamaan, pengendalian diri, kepribadian, kecerdasan, akhlak
mulia serta keterampilan yang diperlukan dirinya, masyarakat, bangsa dan
negara.
Sedangkan dalam dalam Kamus Besar Bahasa Indonesia
(1994) Kata Pendidikan diartikan sebagai proses
perubahan sikap dan tata laku seseorang atau kelompok orang dalam usaha
mendewasakan manusia melalui upaya pengajaran dan pelatihan. Sedangkan
dalam Kamus Besar Bahasa Indonesia terbitan Balai Pustaka menjelaskan, bahwa
kata Pendidikan berasal dari kata dasardidik, yang
artinya memelihara dan memberi latihan (ajaran, tuntunan, pimpinan)
mengenai akhlak dan kecerdasan pikiran. Sedangkan arti dari Pendidikan adalah Proses
pengubahan sikap dan tata laku seseorang atau kelompok orang dalam usaha
mendewasakan manusia melalui upaya pengajaran dan pelatihan; proses, cara, dan
perbuatan mendidik.
Menurut Redja Mudyahardjo, bahwa Ilmu Pendidikan merupakan sebuah
sistem pengetahuan tentang pendidikan yang diperoleh melalui riset. Oleh
karena pengetahuan yang dihasilkan riset tersebut disajikan dalam bentuk
konsep-konsep pendidikan, maka Ilmu Pendidikan dapat pula dibataskan sebagai
sebuah sistem konsep pendidikan yang dihasilkan melalui riset. Dengan mengutipMay
Brodbeck dalam Ligic and scientific Method in research,
yang dimuat dalam Handbook of Research on teaching, yang
menjelaskan bahwa setiap ilmu berisi sejumlah besar istilah yang disebut
konsep, yang tidak lain merupakan apa yang kita pikirkan berdasarkan
pengalaman. Sehingga unsur yang menjadi isi setiap ilmu termasuk Ilmu
Pendidikan adalah konsep. Keseluruhan konsep yang menjadi isi
sebuah ilmu ditata secara sistematis menjadi suatu kesatuan. Sekelompok konsep
yang berkenaan dengan sekelompok hal, yang merupakan satu kesatuan disebut
skema konseptual. Dan setiap ilmu termasuk Ilmu Pendidikan, terbentuk dari
beberapa skema konseptual yang merupakan bagian-bagian atau komponen-komponen
isi ilmu. Dengan singkat dapat dikatakan bahwa organisasi isi Ilmu Pendidikan,
sebagai sebuah sistem konsep, terbentuk dari unsur-unsur yang berupa
konsep-konsep tentang variabel-variabel pendidikan, dan bagian-bagian yang
berupa skema-skema konseptual tentang komponen-komponen pendidikan.
Menurut Ngalim Purwanto, bahwa ada dua istilah yang
hampir sama bentuknya, yaituPaedagogie dan Paedagogiek. Paedagogie artinya pendidikan sedangkan Paedagogiek adalah ilmu
pendidikan. Paedagogiek atau ilmu pendidikan ialah
ilmu pengetahuan yang menyelidiki, merenungkan tentang gejala-gejala perbuatan
mendidik. Paedagogiek berasal dari bahasa Yunani,
yakni Paedagogiayang berarti ‘pergaulan dengan anak-anak’.
Sedangkan Paedagogos ialah ‘orang yang menjadi pelayan
atau bujang pada zaman Yunani Kuno yang pekerjaannya mengantar dan menjemput
anak-anak ke dan dari sekolah’. Selain itu juga, di rumah anak-anak
tersebut paedagogos selalu mengawasi dan menjaga mereka. Jadi,
pendidikan pada zaman Yunani Kuno diserahkan pada paedagogos.Paedagogos berasal
dari kata paedos (anak) dan agoge (saya membimbing,
memimpin). Perkataanpaedagogos yang mulanya berarti ‘rendah’
(pelayan, bujang), sekarang dipakai untuk pekerjaan mulia.Paedagoog
(pendidik atau ahli didik) ialah seseorang yang tugasnya membimbing
anak dalam pertumbuhanya agar dapat berdiri sendiri.
Hal ini senada dengan Taqiyudin M. Yang menjelaskan,
bahwa di lingkungan Yunani Kuno, terdapat dua kata yang memiliki fungsi yang
berbeda, yakni Paedagogie dan Andragogi. KataPaedagogie pada
awalnya berarti “Pergaulan bersama anak-anak”. Arti ini bermula
dari cerita yang berkembang bahwa konon, di lingkungan masyarakat Yunani Kuno
terdapat seseorang atau sekelompok orang yang pekerjaan utamanya adalah
mengantar dan menjemput anak-anak sekolah. Karena setiap hari mereka bertemu dan
bergaul dengan anak majikannya itu, sehingga mereka makin tahu dan memahami
sifat, sikap dan karakter anak yang diantar jemputnya itu. Bahkan pergaulan
mereka tidak hanya pada saat-saat antar jemput saja, melainkan ketika mereka di
rumah majikannya pun ditugasi untuk membimbing dan mengawasi anak-anak
majikannya. Hasil dari pengetahuan dan pemahaman terhadap sikap, sifat dan
karakter anak majikannya itu, lama kelamaan mereka jadi dekat dan cenderung
menjadi orang tua kedua (second parent) baik di sekolah maupun di rumah.
Sehingga mereka lebih tahu tentang kemampuan, kemauan dan bakat ‘anaknya’
itu. Bekal inilah kemudian menjadikan tugas mereka semakin banyak, yaitu
antar jemput, mengawasi, membimbing dan membelajari apa yang belum diketahui
oleh anak majikannya. Sehingga sebutan bagi mereka yang dekat dengan anak-anak
dan mengetahui banyak tentang dunia anak dalam bahasa Yunani kuno disebut agogos.
Lebih lanjut Taqiyudin M. menjelaskan, bahwa
kata Paedagogos terdiri dari dua kata, yakni ‘paedos’ yang
berarti ‘anak’ dan ‘agoge’ yang berarti ‘saya
membimbing’. Karena itulah sehingga sistem pendidikan bagi anak-anak pada jaman
Yunani Kuno ditangani oleh para paedagog. Perkembangan berikutnya,
pekerjaan para paedagog ini tidak hanya bermanfaat bagi
anak-anak, tetapi bermanfaat juga bagi orang dewasa yang telah lanjut usia (adult).
Dalam bahasa Yunani Kuno, orang lanjut usia(lansia) disebut andra.
Dan bagi lansia yang mendapat bimbingan dari paedagog disebut andragogosyang
berarti “pembimbingan yang diberikan kepad orang dewasa”. Baik
kata paedagogos maupunandragogos, keduanya semakna
dengan kata education dalam bahasa Inggris yang berarti memberi
peningkatan (to give rise to) dan mengembangkan (to
develop). Kata education dalam arti sempit adalah ‘suatu
bentuk proses perbuatan untuk memperoleh pengetahuan’.
Wasti Sumanto dan Hendyat Soetopo dengan mengutip
pendapat Crow&Crow menjelaskan, bahwa pendidikan adalah proses
pengalaman yang memberikan pengertian, pandangan (insight) dan
penyesuaian bagi seseorang yang menyebabkan ia menjadi semakin berkembang.
Dan menurut Good V. Carter dalam
bukunya ‘Dictionary of Education’ menjelaskan,
bahwaPendidikan adalah:
“The Aggragate of all the process by mean of wich a
person develops abilities, attitudas and other from of behavior of positive
value in society in wich he lives” (Kumpulan dari semua proses yang
memungkinkan seseorang mengembangkan kemampuan, sikap dan bentuk-bentuk
perilaku yang bernilai positif di dalam masyarakat dimana ia hidup). Dan pada
bagian lain di katakan, bahwaPendidikan itu adalah: “The social
process by wich people are subjected to the influence of a selected and
controlled envirenment, so that they may attain social competence and optimum
individual development”. (Proses sosial ketika seseorang dihadapkan pada
pengaruh lingkungan yang terpilih dan terkontrol sehingga mereka dapat
memperoleh kemampuan sosial dan perkembangan individu secara optimal”.
Andrias Harefa dengan mengutip perkataan Pater Drost,
yang mengatakan, bahwa pendidikan kata Latin untuk mendidik adalah educare yang
berasal dari kata e-ducare yang berarti menggiring ke luar.
Jadi, educare dapat diartikan sebagai usaha pemuliaan. Jadi,
pemuliaan manusia atau pembentukan manusia. Maka proses pendidikan sebagai
proses pembentukan yang berbentuk proses informal. Tidak ada pendidikan formal,
karena itu tidak ada pendidikan formal, karena itu tidak mungkin. Seluruh
proses pemuliaan, ialah pembentukan moral manusia muda hanya mungkin lewat
interaksi informal antara dia dan lingkungan hidup manusia muda itu. Jadi,
kesimpulan yang paling mendasar, ialah bahwa lembaga pertama dan utama
pembentukan dan pendidikan adalah keluarga. Dan salah satu bantuan yang
diberikan kepada orang tua oleh masyarakat adalah pembentukan manusia
muda pada bidang intelektual. Dan proses pembentuan ini berlangsung dalam
lembaga yang disebut sekolah. Yang didalamnya terdapat proses kegiatan belajar
mengajar atau dengan kata lain pembiasaan atau pembelajaran. Yang pembelajaran
itu membantu pelajar mengembangkan potensi intelektual yang ada padanya.
Selain itu juga, banyak pakar pendidikan yang
menjelaskan pengertian Pendidikan diantaranya ada yang menjelaskan, bahwa
pendidikan itu adalah segala usaha orang dewasa dalam pergaulan dengan
anak-anak untuk memimpin perkembangan jasmani dan rohaninya ke arah kedewasaan.
Senada juga dengan pendapat bahwa pada umumnya pendidikan dapat
diartikan sebagai suatu proses bantuan yang diberikan oleh orang dewasa
kepada anak yang belum dewasa untuk mencapai kedewasaannya. Pendidikan juga
bisa disebut sebagai usaha manusia untuk menyiapkan dirinya untuk
kehidupan yang bermakna.
Berdasarkan uraian di atas, maka bisa diambil suatu
pemahaman, bahwa Pendidikan itu adalahsuatu proses bantuan yang
diberikan oleh orang dewasa kepada anak yang belum dewasa untuk mencapai
kedewasaannya, dan sebagai usaha manusia untuk menyiapkan dirinya untuk
kehidupan yang bermakna. Atau juga bisa diartikan suatu usaha yang dilakukan
orang dewasa dalam situasi pergaulan dengan anak-anak melalui proses perubahan
yang dialami anak-anak dalam bentuk pembelajaran atau pelatihan dan perubahan
itu meliputi pemikiran (kognitif), perasaan (afektif) dan keterampilan
(psikomotorik).
Jadi, Ilmu pendidikan adalah suatu
kumpulan pengetahuan atau konsep yang tersusun secara sistematis dan mempunyai
metode-metode tertentu yang bersifat ilmiah yang menyelidiki, merenungkan
tentang gejala-gejala perbuatan mendidik atau suatu proses bantuan yang
diberikan oleh orang dewasa kepada anak yang belum dewasa untuk mencapai
kedewasaannya dalam rangka mempersiapkan dirinya untuk kehidupan yang bermakna.
C. PERANAN DAN KEDUDUKAN ILMU
PENDIDIKAN DALAM PENYELENGGARAAN
PENDIDIKAN
1. PERANAN ILMU PENDIDIKAN
DALAM PENYELENGGARAAN PENDIDIKAN
Ilmu pendidikan mempunyai
Peranan sebagai perantara dalam membentuk masyarakat yang mempunyai
landasan individual, sosial dan nsurei dalam penyelenggaraan pendidikan. Pada
skala mikro pendidikan bagi individu dan kelompok kecil beralngsung dalam skala
nsurei tebatas seperti antara nsurei sahabat, antara seorang guru dengan satu
atau sekelompok kecil siswanya, serta dalam keluarga antara suami dan isteri,
antara orang tua dan anak serta anak lainnya. Pendidikan dalam skala mikro
diperlukan agar manusia sebagai individu berkembang semua potensinya dalam arti
perangkat pembawaanya yang baik dengan lengkap.
Pendidikan Nasional berdasarkan Pancasila
dan Undang-Undang Dasar 1945. Pendidikan Nasional berfungsi untuk mengembangkan kemampuan
serta meningkatkan mutu kehidupan dan martabat manusia Indonesia dalam rangka
upaya mewujudkan tujuan nasional dan Penyelenggaraan pendidikan.Pendidikan
Nasional bertujuan mencerdaskan kehidupan bangsa dan mengembangkan manusia
Indonesia seutuhnya, yaitu manusia yang beriman dan bertaqwa terhadap Tuhan
Yang Maha Esa dan berbudi pekerti luhur, memiliki pengetahuan dan keterampilan
, kesehatan jasmani dan rohani, kepribadian yang mantap dan mandiri serta rasa
tanggung jawab kemasyarakatan dan kebangsaan.
Pendidikan
diselenggarakan secara demokratis dan berkeadilan serta tidak diskriminatif
dengan menjunjung tinggi hak asasi manusia, nilai keagamaan, nilai kultural,
dan kemajemukan bangsa.Pendidikan diselenggarakan sebagai satu kesatuan yang
sistemik dengan sistem terbuka dan multimakna. Pendidikan
sistem terbuka: fleksibilitas pilihan dan waktu penyelesaian program lintas
satuan dan jalur pendidikan. Pendidikan multimakna: proses pendidikan yang
diselenggarakan dengan berorientasi pada pembudayaan, pemberdayaan, pembentukan
watak dan kepribadian, serta berbagai kecakapan hidup.
2. KEDUDUKAN ILMU PENDIDIKAN DALAM PENYELENGGARAAN PENDIDIKAN
Ilmu pendidikan adalah ilmu yg mempelajari serta
memproses pengubahan sikap dan tata laku seseorang atau kelompok orang dalam
usaha mendewasakan manusia melalui upaya pengajaran dan pelatihan; proses,
cara, pembuatan mendidik. Ilmu pendidikan sebagai suatu ilmu harus dapat
bersifat:
a. Empiris,
karena objeknya dijumpai dalam dunia pengalaman.
b. Rokhaniah,
karena situasi pendidikan berdasar atas tujuan manusia
tidak membiarkan peserta
didik kepada keadaan alamnya
c. Normatif,
karena berdasar atas pemilihan antara yang baik dan yang buruk.
d. Histories, karena memberikan uraian teoritis tentang sitem-sistem pendidikan sepanjang jaman dengan mengingat latar belakang kebudayaan dan filsafat yang berpengaruh pada jaman tertentu.
d. Histories, karena memberikan uraian teoritis tentang sitem-sistem pendidikan sepanjang jaman dengan mengingat latar belakang kebudayaan dan filsafat yang berpengaruh pada jaman tertentu.
e.
Praktis, karena memberikan pemikiran tentang masalah dan ketentuan pendidikan
yang langsung
ditujukan kepada perbuatan mendidik. Kedudukan ilmu pendidikan
itu berada di tengah-tengah ilmu yang lain dalam penyelenggaraan pendidikan.
Ilmu pendidikan ialah suatu llmu pengetahuan yang membahas masalah yamg
berhubungan dengan pendidikan, sedangkan, definisi yang terpenting dari suatu
pendidikan itu sendiri yaitu:
Meningkatkan pengetahuan,
pengertian, kesadaran, dan toleransi.
Meningkatkan questioning skills
dan kemampuan menganalisakan sesuatu - termasuk pendidikannya.
Meningkatkan kedewasaan individu. Untuk perkembangan Negara, diperlukan pendidikan yang menghargai kreativitas dan supaya negara dapat membuat sesuatu yang baru dan lebih baik, dan tidak hanya meng-copy dari negara lain. Pendidikan adalah fenomena yang fundamental atau asasi dalam hidup manusia dimana ada kehidupan disitu pasti ada pendidikan Pendidikan sebagai gejala sekaligus upaya memanusiakan manusia itu sendiri. Dalam perkembangan adanya tuntutan adanya pendidikan lebih baik, teratur untuk mengembangkan potensi manusia, sehingga muncul pemikiran teoritis tentang pendidikan. Pendidikan adalah upaya sadar untuk mengembangkan potensi-potensi yang dimiliki manusia, melahirkan teori-teori pendidikan.
Meningkatkan kedewasaan individu. Untuk perkembangan Negara, diperlukan pendidikan yang menghargai kreativitas dan supaya negara dapat membuat sesuatu yang baru dan lebih baik, dan tidak hanya meng-copy dari negara lain. Pendidikan adalah fenomena yang fundamental atau asasi dalam hidup manusia dimana ada kehidupan disitu pasti ada pendidikan Pendidikan sebagai gejala sekaligus upaya memanusiakan manusia itu sendiri. Dalam perkembangan adanya tuntutan adanya pendidikan lebih baik, teratur untuk mengembangkan potensi manusia, sehingga muncul pemikiran teoritis tentang pendidikan. Pendidikan adalah upaya sadar untuk mengembangkan potensi-potensi yang dimiliki manusia, melahirkan teori-teori pendidikan.
3. SIFAT-SIFAT ILMU PENDIDIKAN
Ilmu pendidikan termasuk ilmu
pengetahuan empiris yang diangkat dari pengalaman pendidikan, kemudian disusun
secara teoritis untuk digunakan secara praktis. Dengan menempatkan kedudukan
ilmu pendidikan di dalam sistematika ilmu pengetahuan, maka ilmu pendidikan
juga dapat dikatakan sebagai ilmu pengetahuan yang membicarakan masalah –
masalah yang berhubungan dengan pendidikan. Sebagai mana setiap ilmu mempunyai
sifat masing-masing begitu juga dengan ilmu pendidikan. Sifat ilmu
pendidikan diantaranya adalah ilmu pendidikan sebagai Ilmu Normatif dan ilmu
pendidikan
sebagai Ilmu Teoritis dan Praktis:
Ilmu Pendidikan Sebagai Ilmu
Normatif
Ilmu pendidikan itu selalu
berurusan dengan soal siapakah “manusia” itu. Pembahasan mengenai siapakah
manusia itu biasanya termask bidang filsafat, yaitu filsafat antropologi.
Pandangan filsafat tentang manusia sangat besar pengaruhnya terhadap konsep
serta praktik-praktik pendidikan. Karena pandangan filsafat itu menentukan
nilai-nilai luhur yang dijunjung tinggi oleh seorang pendidik atau suatu bangsa
yang melakukan pendidikan.
Nilai yang dijunjung tinggi ini
dijadikan norma untuk menentukan ciri-ciri manusia yang ingin dicapai melalui
praktik pendidikan. Nilai-nilai tidak diperoleh hanya dari praktik dan
pengalaman mendidik, tetapi secara normative bersumber dari norma masyarakat,
norma filsafat dan pandangan hidup, malah dari keyakinan keagamaan yang dianut
oleh seseorang. Ilmu Pendidikan Sebagai Ilmu yang Bersifat Teoritis dan
PraktisDalam ilmu mendidik teoritis para cerdik pandai mengatur dan
mensistemkan di dalam sewa pikirnya masalah yang tersusun sebagai pola
pemikiran pendidikan. Jadi dari praktik-praktik pendidikan disusun
pemikiran-pemikiran secara teoritis. Pemikiran-pemikiran teoritis inilah yang
disusun dalam satu system pendidikan yang biasa disebut Ilmu Mendidik Teoritis.
Terdapat hubungan antara ilmu mendidik teoritis, sistematis dan histories. Apa sajakah yang dapat disumbangkan sejarah pendidikan bagi teori pendidikan maupun praktik pendidikan?. Meskipun ilmu mendidik sistematis mendahului ilmu mendidik histories, akan tetapi ilmu mendidik histories juga memberikan bantuan dan memperkaya ilmu mendidik sistematis.Selanjutnya adalah bagaimana hubungan antara ilmu mendidik histories dan ilmu mendidik praktis. Seorang maha guru ilmu mendidik JM. Guning berkata : teori tanpa praktek adalah baik pada human cerdik cendikiawan dan praktek tanpa teori hanya terdapat pada orang gila dan penjahat – penjahat namun alangkah lebih sempurnanya ilmu pendidikan itu dilakukan dengan cara teori dan praktek secara bersama-sama. Untuk lebih memahami bahwa ilmu pendidikan itu adalah yang memerlukan pemikiran yang teoritis , adalah bahwa setiap pendidik memerlukan kritik- kritik sumbangan pemikiran dari para ahli/ orang lain, ia dapat belajar dari catatan-catatan kritik saran dari orang lain, yang pada akhirnya dapat dikatakan bahwa ia belajar berdasarkan teori.
Terdapat hubungan antara ilmu mendidik teoritis, sistematis dan histories. Apa sajakah yang dapat disumbangkan sejarah pendidikan bagi teori pendidikan maupun praktik pendidikan?. Meskipun ilmu mendidik sistematis mendahului ilmu mendidik histories, akan tetapi ilmu mendidik histories juga memberikan bantuan dan memperkaya ilmu mendidik sistematis.Selanjutnya adalah bagaimana hubungan antara ilmu mendidik histories dan ilmu mendidik praktis. Seorang maha guru ilmu mendidik JM. Guning berkata : teori tanpa praktek adalah baik pada human cerdik cendikiawan dan praktek tanpa teori hanya terdapat pada orang gila dan penjahat – penjahat namun alangkah lebih sempurnanya ilmu pendidikan itu dilakukan dengan cara teori dan praktek secara bersama-sama. Untuk lebih memahami bahwa ilmu pendidikan itu adalah yang memerlukan pemikiran yang teoritis , adalah bahwa setiap pendidik memerlukan kritik- kritik sumbangan pemikiran dari para ahli/ orang lain, ia dapat belajar dari catatan-catatan kritik saran dari orang lain, yang pada akhirnya dapat dikatakan bahwa ia belajar berdasarkan teori.

Tidak ada komentar:
Posting Komentar