Motivasi Dalam Belajar
A. Pengertian
Motivasi
Istilah motivasi berasal dari kata bahasa
Latin movere yang berarti ”menggerakan”. Berdasarkan pengertian ini makna
motivasi menjadi berkembang. Wlodkowski (1985) menjelaskan motivasi sebagai
suatu kondisi yang menyebabkan atau menimbulkan perilaku tertentu dan yang
memberi arah dan ketahanan (persistence pada tingkah laku tersebut.
Ames dan Ames (1984) didefinisikan
motivasi sebagai perspektif yang dimiliki seseorang mengenai dirinya sendiri
dan lingkunganya. Sebagai contoh, seorang siswa yang percaya bahwa dirinya
memiliki kemampuan yang diperlukan untuk melakukan suatu tugas, akan
termotivasi untuk melakukan tugas tersebut. Konsep diri yang positif ini
menjadi motor penggerak bagi kemaunnya.
Motivasi juga dapat dijelaskan sebagai
”tujuan yang ingin dicapai melalui perilaku tertentu”(Cropley, 1985 ). Dalam
konsep ini, siswa akan berusaha mencapai suatu tujuan karena dirangsang oleh
manfaat atau keuntungan yang akan diperoleh. Motivasi siswa tercermin melalui
ketekunan yang tidak mudah patah untuk mencapai sukses, meskipun dihadang
berbagai kesulitan.
Motivasi juga ditunjukan melalui
intensitas untuk kerja dalam melakukan suatu tugas.
Beberapa penelitian tentang prestasi belajar siswa menunjukan motivasi sebagai faktor yang banyak berpengaruh terhadap proses dan hasil belajar siswa. Tokoh–tokoh pendidikan seperti Mc Clelland (1985), Bandura (1977), Bloom (1980), Weiner (1986), Fyans dan Maerh (1987) melakukan berbagai penelitian tentang peranan motivasi belajar, dan menemukan hasil yang menarik.
Beberapa penelitian tentang prestasi belajar siswa menunjukan motivasi sebagai faktor yang banyak berpengaruh terhadap proses dan hasil belajar siswa. Tokoh–tokoh pendidikan seperti Mc Clelland (1985), Bandura (1977), Bloom (1980), Weiner (1986), Fyans dan Maerh (1987) melakukan berbagai penelitian tentang peranan motivasi belajar, dan menemukan hasil yang menarik.
B. Fungsi Motivasi
Motivasi dalam belajar sangat penting
artinya untuk mencapai tujuan proses belajar mengajar yang diharapkan, sehingga
motivasi siswa dalam belajar perlu dibangun. Menurut Nasution (1982:77)
motivasi memiliki tiga fungsi yaitu:
1.
Mendorong
manusia untuk berbuat, jadi sebagai penggerak motor yang melepas energi.
2.
Menentukan
arah perbuatan , yakni kearah tujuan yang hendak dicapai.
3.
Menyeleksi
perbuatan yang harus dikerjakan yang serasi guna mencapai tujuan, dengan
menyisihkan perbuatan-perbuatan yang tidak bermanfaat bagi tujuan tersebut.
Seseorang melakukan sesuatu usaha karena
adanya motivasi. Motivasi yang lebih baik dalam beajar akan menunjukkan hasil
yang baik, dengan kata lain bahwa dengan usaha yang tekun yang didasari adanya
motivasi, akan dapat melahirkan prestasi yang baik.
McClelland dan Atkinson dalam Sri Esti
(1989: 161) mengemukakan bahwa motivasi yang paling penting untuk psikologis
pendidikan adalah motivasi berprestasi, dimana seseorang cenderung untuk
berjuang mencapai sukses atau memilih kegiatan yang berorientasi untuk tujuan
sukses atau gagal. Intensitas motivasi siswa akan sangat menentukan tingkat
pencapaian prestasi belajar siswa tersebut.
Ada juga beberapapa jenis motivasi yaitu :
1.
Berdasarkan arahnya
a.
Motivasi tugas
Motivasi tugas adalah motivasi yang
ditimbulkan oleh tugas-tugas yang ditetapkan sama ada oleh guru, murid sendiri,
mahupun yang dirancangkan oleh guru dan murid secara bersama-sama. Pelajar yang
memiliki motivasi tugas memperlihatkan keterlibatan dan ketekunan yang tinggi
dalam menyelesaikan tugas-tugas belajar. Motivasi tugas hendaklah dibangun di
dalam diri pelajar dan ini dapat dilakukan oleh guru kalau dia mengetahui
cara-caranya.
b.
Motivasi aspirasi;
Motivasi aspirasi yang tinggi tumbuh dengan
subur kalau pelajar memiliki perasaan sukses. Perasaan gagal dapat
menghancurkan aspirasi pelajar dalam belajar. Oleh kerana itu guru jangan
menjadikan pelajar selalu gagal, walaupun ini bukan bermakna guru harus
menjadikan pelajar sukses terus menerus. Suatu konsep yang harus ditanam oleh
guru kepada pelajar agar ia memiliki aspirasi yang tinggi adalah bahawa
kesuksesan atau kegagalan ditentukan oleh 'usaha', bukan oleh kemampuan atau
kecerdasan.
c.
Motivasi persaingan;
Persaingan yang sihat dapat menjadi
motivasi yang kuat dalam belajar. Namun memupuk rasa persaingan yang
berlebih-lebihan, di kalangan pelajar dalam belajar dapat menimbulkan
persaingan yang tidak sihat, kerana pelajar bukan menjadi giat belajar, tetapi
dengan berbagai cara berusaha mengalahkan pelajar lain untuk mendapatkan
status. Membangun persaingan dengan diri sendiri pada setiap pelajar akan
menimbulkan motivasi persaingan yang sihat dan berkesan dalam belajar.
d.
Motivasi
afiliasi;
Motivasi afiliasi adalah dorongan untuk
melaksanakan kegiatan belajar dengan sebaik-baiknya, kerana ingin diterima dan
diakui oleh orang lain. Pelajar-pelajar yang masih kecil berusaha meningkatkan
usaha dan prestasi dalam belajar agar dia dapat diterima dan diakui oleh orang
dewasa, iaitu guru dan ibu bapanya. Namun para remaja lebih terdorong belajar
untuk mendapatkan penerimaan dan perakuan dari rakan sebaya.
e.
Motivasi penguatan; dan
Motivasi yang diarahkan oleh diri sendiri
sangat berkesan dalam meningkatkan motivasi pelajar dalam belajar.
Pelajar-pelajar ini menunjukkan tingkah laku yang mandiri dalam belajar dan
mempunyai sistem nilai yang baik yang melatar-belakangi tingkah laku mereka
itu. Pembentukan sistem nilai-nilai yang menjadi tanggung jawab guru pada
setiap pelajar, sehingga pelajar-pelajar memiliki motivasi yang diarahkan oleh
diri sendiri adalah sangat penting.
2.
Berdasarkan faktor pembangkit
a.
Motivasi Intrinsik
Menurut Priyitno (1989: 11) motivasi intrinsik adalah keinginan
bertindak yang disebabkan oleh faktor pendorong dari dalam diri (internal)
individu. Tingkah laku individu itu terjadi tanpa dipengaruhi oleh
faktor-faktor dari lingkungan. Tetapi individu bertingkah laku karena
mendapatkan energi dan pengaruh tingkah laku dari dalam dirinya sendiri yang
tidak bisa dilihat dari luar. Thornburgh dalam Priyitno (1989: 10) berpendapat
bahwa motivasi intrinsik adalah keinginan bertindak yang disebabkan faktor
pendorong dari dalam diri sendiri. Dari definisi di atas dapat disimpulkan
bahwa motivasi intrinsik adalah dorongan dari dalam individu, dimana dorongan
tersebut menggerakkan individu atau subyek untuk memenuhi kebutuhan,tanpa perlu
dorongan dari luar.
b.
Motivasi Ekstrinsik
Sardiman (1990: 90) memberikan definisi
motivasi ekstrisik sebagai motif-motif yang menjadi aktif dan berfungsi karena adanya
perangsang dari luar. Motivasi ekstrinsik dapat dikatakan lebih banyak
dikarenakan pengaruh dari luar yang relatif berubah-ubah. Motivasi ekstrinsik
dapat juga di katakan sebagai bentuk motivasi yang di dalamnya aktivitas
belajar di mulai dan diteruskan berdasarkan dorongan dari luar yang tidak
secara mutlak berkaitan dengan aktivitas belajar (Sardiman, 1990: 90). Dari
beberapa definisi di atas dapat disimpulkan bahwa seseorang yang bermotivasi
ekstrinsik melakukan sesuatu kegiatan bukan karena ingin mengetahui sesuatu,
tetapi ingin mendapatkan pujian, hadiah dan sebagainya.
C. Teori-teori
Motivasi Dalam Belajar
1.
Teori Hierarki Kebutuhan Maslow
Kebutuhan dapat didefinisikan sebagai
suatu kesenjangan atau pertentangan yang dialami antara satu kenyataan dengan
dorongan yang ada dalam diri. Apabila pegawai kebutuhannya tidak terpenuhi maka
pegawai tersebut akan menunjukkan perilaku kecewa. Sebaliknya, jika
kebutuhannya terpenuhi amak pegawai tersebut akan memperlihatkan perilaku yang
gembira sebagai manifestasi dari rasa puasnya.
Kebutuhan merupakan fundamen yang
mendasari perilaku pegawai. Karena tidak mungkin memahami perilaku tanpa
mengerti kebutuhannya. Abraham Maslow (Mangkunegara, 2005) mengemukakan bahwa
hierarki kebutuhan manusia adalah sebagai berikut :
a.
Kebutuhan
fisiologis, yaitu kebutuhan untuk makan, minum, perlindungan fisik, bernapas,
seksual. Kebutuhan ini merupakan kebutuhan tingkat terendah atau disebut pula
sebagai kebutuhan yang paling dasar.
b.
Kebutuhan
rasa aman, yaitu kebutuhan akan perlindungan diri dari ancaman, bahaya,
pertentangan, dan lingkungan hidup.
c.
Kebutuhan
untuk rasa memiliki (sosial), yaitu kebutuhan untuk diterima oleh kelompok,
berafiliasi, berinteraksi, dan kebutuhan untuk mencintai serta dicintai
d.
Kebutuhan
akan harga diri, yaitu kebutuhan untuk dihormati dan dihargai oleh orang lain
e.
Kebutuhan
untuk mengaktualisasikan diri, yaitu kebutuhan untuk menggunakan kemampuan,
skill dan potensi. Kebutuhan untuk berpendapat dengan mengemukakan ide-ide,
gagasan dan kritik terhadap sesuatu
2.
Teori Keadilan
Keadilan merupakan daya penggerak yang
memotivasi semangat kerja seseorang, jadi perusahaan harus bertindak adil
terhadap setiap karyawannya. Penilaian dan pengakuan mengenai perilaku karyawan
harus dilakukan secara obyektif. Teori ini melihat perbandingan seseorang
dengan orang lain sebagai referensi berdasarkan input dan juga hasil atau
kontribusi masing-masing karyawan (Robbins, 2007).
3.
Teori X dan Y
Douglas McGregor mengemukakan pandangan
nyata mengenai manusia. Pandangan pertama pada dasarnya negative disebut teori
X, dan yang kedua pada dasarnya positif disebut teori Y (Robbins, 2007).
McGregor menyimpulkan bahwa pandangan manajer mengenai sifat manusia
didasarkan atas beberapa kelompok asumsi tertentu dan bahwa mereka cenderung
membentuk perilaku mereka terhadap karyawan berdasarkan asumsi-asumsi tersebut.
4.
Teori dua Faktor Herzberg
Teori ini dikemukakan oleh Frederick
Herzberg dengan asumsi bahwa hubungan seorang individu dengan pekerjaan adalah
mendasar dan bahwa sikap individu terhadap pekerjaan bias sangat baik
menentukan keberhasilan atau kegagalan. (Robbins, 2007). Herzberg memandang
bahwa kepuasan kerja berasal dari keberadaan motivator intrinsik dan bawa
ketidakpuasan kerja berasal dari ketidakberadaan faktor-faktor ekstrinsik.
5.
Teori Kebutuhan McClelland
Teori kebutuhan McClelland dikemukakan
oleh David McClelland dan kawan-kawannya. Teori ini berfokus pada tiga
kebutuhan, yaitu (Robbins, 2007) :
a. Kebutuhan
pencapaian (need for achievement) : Dorongan untuk berprestasi dan mengungguli,
mencapai standar-standar, dan berusaha keras untuk berhasil.
b. Kebutuhan
akan kekuatan (need for pewer) : kebutuhan untuk membuat orang lain berperilaku
sedemikian rupa sehingga mereka tidak akan berperilaku sebaliknya.
c. Kebutuhan
hubungan (need for affiliation) : Hasrat untuk hubungan antar pribadi yang
ramah dan akrab.
D. Upaya Guru
Meningkatkan Motivasi Belajar Siswa
1. Memberi angka
Angka dalam hal ini sebagai simbol dari
nilai kegiatan belajarnya. Banyak siswa yang justru untuk mencapai angka/nilai
yang baik. Sehingga yang dikejar hanyalah nilai ulangan atau nilai raport yang
baik. Angka-angka yang baik itu bagi para siswa merupakan motivasi belajar yang
sangat kuat.
2. Hadiah
Hadiah dapat menjadi motivasi
belajar yang kuat, dimana siswa tertarik pada bidang tertentu yang akan
diberikan hadiah. Tidak demikian jika hadiah diberikan untuk suatu pekerjaan
yang tidak menarik menurut siswa.
3. Kompetisi
Persaingan,
baik yang individu atau kelompok, dapat menjadi sarana untuk meningkatkan
motivasi belajar. Karena terkadang jika ada saingan, siswa akan menjadi lebih
bersemangat dalam mencapai hasil yang terbaik.
4. Ego-involvement
Menumbuhkan kesadaran kepada siswa agar
merasakan pentingnya tugas dan menerimanya sebagai tantangan sehingga bekerja
keras adalah sebagai salah satu bentuk motivasi yang cukup penting. Bentuk
kerja keras siswa dapat terlibat secara kognitif yaitu dengan mencari cara
untuk dapat meningkatkan motivasi.
5. Memberi Ulangan
Para siswa akan giat belajar kalau
mengetahui akan diadakan ulangan. Tetapi ulangan jangan terlalu sering
dilakukan karena akan membosankan dan akan jadi rutinitas belaka.
6. Mengetahui Hasil
Mengetahui hasil belajar bisa dijadikan
sebagai alat motivasi belajar anak. Dengan mengetahui hasil belajarnya, siswa
akan terdorong untuk belajar lebih giat. Apalagi jika hasil belajar itu
mengalami kemajuan, siswa pasti akan berusaha mempertahankannya atau bahkan
termotivasi untuk dapat meningkatkannya.
7. Pujian
Apabila ada siswa yang berhasil
menyelesaikan tugasnya dengan baik, maka perlu diberikan pujian. Pujian adalah
bentuk reinforcement yang positif dan memberikan motivasi yang
baik bagi siswa. Pemberiannya juga harus pada waktu yang tepat, sehingga akan
memupuk suasana yang menyenangkan dan mempertinggi motivasi belajar serta
sekaligus akan membangkitkan harga diri.
8. Hukuman
Hukuman adalah bentuk reinforcement yang
negatif, tetapi jika diberikan secara tepat dan bijaksana, bisa menjadi
alat motivasi belajar anak. Oleh karena itu, guru harus memahami
prinsip-prinsip pemberian hukuman tersebut.
Tidak ada komentar:
Posting Komentar