PERTUMBUHAN DAN PERKEMBANGAN FISIK
Identitas remaja dapat
diartikan sebagai berikut :
1. Identitas
dapat diartikan sebagai suatu inti pribadi yang tetap ada walaupun mengalami
perubahan bertahap dengan pertumbuhan umur dan perubahan lingkungan.
2. Identitas
dapat diartikan sebagai tata hidup tertentu yang sudah dibentuk pada masa-maa
sebelumnya dan menentukan peran sosial yang manakah yang harus dijalankan.
3. Identitas
merupakan hasil yang diperolehnya pada masa remaja, tetapi masih akan terus
mengalami perubahan dan pembaharuan.
4. Dari
keterangan di atas dapat disimpulkan bahwa identitas merupakan suatu kesatuan.
Persatuan yang terbentuk dari asaz, cara hidup, pandangan-pandangan yang menentukan cara hidup selanjutnya. Persatuan ini merupakan inti seseorang yang menentukan cara meninjau diri sendiri dalam pergaulan diri sendiri dalam pergaulan dan tinjauan di keluar dirinya.
Persatuan yang terbentuk dari asaz, cara hidup, pandangan-pandangan yang menentukan cara hidup selanjutnya. Persatuan ini merupakan inti seseorang yang menentukan cara meninjau diri sendiri dalam pergaulan diri sendiri dalam pergaulan dan tinjauan di keluar dirinya.
Ciri-ciri remaja menurut
Hurlock (1992), antara lain :
a. Masa remaja
sebagai periode yang penting yaitu perubahan-perubahan yang dialami masa remaja
akan memberikan dampak langsung pada individu yang bersangkutan dan akan
mempengaruhi perkembangan selanjutnya.
b. Masa remaja
sebagai periode pelatihan. Disini berarti perkembangan masa kanak-kanak lagi
dan belum dapat dianggap sebagai orang dewasa. Status remaja tidak jelas,
keadaan ini memberi waktu padanya untuk mencoba gaya hidup yang berbeda dan
menentukan pola perilaku, nilai dan sifat yang paling
sesuai dengan dirinya.
c. Masa remaja
sebagai periode perubahan, yaitu perubahan pada emosi perubahan tubuh, minat
dan peran (menjadi dewasa yang mandiri), perubahan padanilai-nilai yang dianut,
serta keinginan akan kebebasan.
d. Masa remaja
sebagai masa mencari identitas diri yang dicari remaja berupa usaha untuk
menjelaskan siapa dirinya dan apa peranannya dalam masyarakat.
e. Masa remaja
sebagai masa yang menimbulkan ketakutan. Dikatakan demikian karena sulit
diatur, cenderung berperilaku yang kurang baik. Hal ini yang membuat banyak
orang tua menjadi takut.
f. Masa remaja
adalah masa yang tidak realistik. Remaja cenderung memandang kehidupan dari
kacamata berwarna merah jambu, melihat dirinya sendiridan orang lain
sebagaimana yang diinginkan dan bukan sebagaimana adanya terlebih dalam
cita-cita.
g. Masa remaja
sebagai masa dewasa. Remaja mengalami kebingungan atau kesulitan didalam usaha
meninggalkan kebiasaan pada usia sebelumnya dan didalam memberikan kesan bahwa
mereka hampir atau sudah dewasa, yaitu dengan merokok, minum-minuman keras,
menggunakan obat-obatan dan terlibat dalam perilaku seks. Mereka menganggap
bahwa perilaku ini akan memberikan citra yang mereka inginkan. Disimpulkan
adanya perubahan fisik maupun psikis pada diri remaja, kecenderungan remaja
akan mengalami masalah dalam penyesuaian diri dengan lingkungan. Hal ini
diharapkan agar remaja dapat menjalani tugas perkembangan dengan baik-baik dan
penuh tanggung jawab.
Ada beberapa perubahan
yang terjadi selama
masa remaja.
1. Peningkatan
emosional yang terjadi secara cepat pada masa remaja awal yang dikenal dengan
sebagai masa storm & stress. Peningkatan emosional ini merupakan hasil dari
perubahan fisik terutama hormon yang terjadi pada masa remaja.
2. Perubahan
yang cepat secara fisik yang juga disertai kematangan seksual. Terkadang
perubahan ini membuat remaja merasa tidak yakin akan diri dan kemampuan mereka
sendiri.
3. Perubahan
dalam hal yang menarik bagi dirinya dan hubungan dengan orang lain. Selama
masa remaja banyak hal-hal yang menarik bagi dirinya dibawa dari masa
kanak-kanak digantikan dengan hal menarik yang baru dan lebih matang.
4. Perubahan nilai,
dimana apa yang mereka anggap penting pada masa kanak-kanak menjadi kurang
penting karena sudah mendekati dewasa.
5. Kebanyakan
remaja bersikap ambivalen dalam menghadapi perubahan yang terjadi. Di satu sisi
mereka menginginkan kebebasan, tetapi di sisi lain mereka takut akan tanggung
jawab yang menyertai kebebasan tersebut, serta meragukan kemampuan mereka
sendiri untuk memikul tanggung jawab tersebut.
Ada beberapa faktor
penting dalam perkembangan identitas diri remaja adalah sebagai berikut :
1) rasa percaya diri yang telah diperoleh dan senantiasa dipupuk dan dikembangkan
2) sikap berdiri sendiri
3) keadaan keluarga dengan faktor-faktor yang menunjang terwujudnya identifikasi diri
4) kemampuan remaja itu sendiri, taraf kemampuan intelektual para remaja.
Selain faktor tersebut diatas, ada faktor lain yang tidak kalah pentingnya dalam perkembangan identitas diri remaja yaitu faktor eksperimentasi (coba-coba, berpetualang).
1) rasa percaya diri yang telah diperoleh dan senantiasa dipupuk dan dikembangkan
2) sikap berdiri sendiri
3) keadaan keluarga dengan faktor-faktor yang menunjang terwujudnya identifikasi diri
4) kemampuan remaja itu sendiri, taraf kemampuan intelektual para remaja.
Selain faktor tersebut diatas, ada faktor lain yang tidak kalah pentingnya dalam perkembangan identitas diri remaja yaitu faktor eksperimentasi (coba-coba, berpetualang).
Peranan orang tua dan sekolah sangat
penting sebab remaja ini belum siap untuk bermasyarakat. Bimbingan orang tua
dan guru sangat diperlukan agar remaja tidak salah arah, karena dimasyarakat
amat banyak pengaruh negatif yang dapat menyengsarakan masa depan remaja. Setelah
itu ajaklah mereka berdiskusi dimana pendidik dapat mendengarkan dengan sabar
segala isi hati dan keluhan mereka. Biarkan mereka bebas berkarya dan
berekspresi tapi dengan catatan mereka harus tetap dibimbing dan diawasi.
Pengaruh Televisi Terhadap Perilaku Agresif Anak. Agresi jika dipandang dari
definisi emosional adalah hasil dari proses kemarahan.
Banyak hal yang
menyebabkan perbutan agresif ini yaitu
1) Tindakan agresif disebabkan oleh naluri agresif.
2) Agresif disebabkan oleh situasi yang amat sumpek atau tertekan.
3) Perbuatan agresif karena frustasi.
4) Perbuatan agresif karena adanya unsure atau rasa balas dendam.
1) Tindakan agresif disebabkan oleh naluri agresif.
2) Agresif disebabkan oleh situasi yang amat sumpek atau tertekan.
3) Perbuatan agresif karena frustasi.
4) Perbuatan agresif karena adanya unsure atau rasa balas dendam.
Komentar :
Masa remaja adalah
masa transisi diri periode anak ke dewasa. Apabila kita perhatikan dan kita
ikuti pertumbuhan anak sejak lahir sampai besar, akan didapatilah bahwa anak
itu tumbuh secara berangsur-angsur bersamaan dengan bertambahnya umur. Demikian
pula halnya dengan pertumbuhan identitas/konsep diri juga berkembang seiring
dengan bertambahnya berbagai pengalaman dan pengetahuan yang didapatnya baik
dari pendidikan keluarga sekolah maupun dari masyarakat dimana ia tinggal.
Masa remaja tidak
hanya identik dengan perkembangan fisik remaja saja, namun juga terjadi perubahan
yang ditentukan oleh kemampuan remaja tersebut dalam berkomunikasi dengan orang
lain. Hal yang sama juga di jelaskan oleh Dunbar dalam Hurlock (1992) (dalam
buku PPD.UNP press) yang menyatajan bahwa reaksi efektif terhadap perubahan,
terutama ditentukan oleh kemampuan untuk berkomunikasi.
Sumber:
Mudjiran.dkk.2007.PPD:UNP
press
Tim Pembina mata kuliah
PPD.2007.Padang
KEBUTUHAN SOSIAL DAN PSIKOLOGIS REMAJA
Remaja memiliki kebutuhan fisik yang
relatif sama dengan orang lain yang bukan remaja. Perbedaan kebutuhan seorang
remaja dengan orang lain terletak pada jumlah atau porsinya.
Kebutuhan-kebutuhan fisik harus terpenuhi karena remaja berada dalam
pertumbuhan yang sangat pesat seperti pertumbuhan tulang, otot dan berbagai
organ tubuh lainnya. Jika kebutuhan fisik remaja tidak terpenuhi, maka bukan
saja pertumbuhannya tidak maksimal tetapi juga kesehatan fisik dan mentalnya
dapat terganggu.
Kebutuhan psikologis yang paling
menonjol pada periode remaja adalah kebutuhan mendapatkan status, kemandirian,
keakraban dan memperoleh filsafat hidup yang memuaskan untuk mengembangkan
kodrat kemanusiaannya.
Remaja membutuhkan perasaan bahwa
dirinya berguna, penting, dibutuhkan orang lain atau memiliki kebanggaan
terhadap dirinya sendiri. Perkembangan social remaja lebih mengarah kepada
kesenangan berinteraksi dengan teman sebaya dibandingkan dengan orang tua
karena memperoleh status dalam kelompok teman sebaya jauh lebih penting
daripada mendapatkan status dari orang tua. Oleh karena itu orang tua dan guru
harus mengerti keadaan remaja dan berusaha membantu remaja memperoleh prestasi
yang tinggi, memiliki kebanggaan diri dan merasa diri berguna dalam kelompok,
keluarga, maupun masyarakat.
Remaja ingin lepas dari pembatasan
atau aturan orang tua dan mencoba mengarahkan atau mendisiplinkan diri sendiri.
Remaja harus diperlakukan sebagai individu yang dewasa agar mereka bertingkah
laku yang lebih dewasa karena hal tersebut akan memenuhi kebutuhan mereka untuk
mandiri.Kebutuhan berprestasi erat kaitannya dengan kedua kebutuhan yang telah
dikemukakan di atas. Artinya kalau kebutuhan berprestasi dapat dipenuhi maka
kebutuhan mendapatkan status dan mandiri juga terpenuhi. Oleh karena itu guru
perlu menciptakan proses belajar yang menimbulkan perasaan puas dalam diri
siswa. Penilaian hasil belajar lebih ditekankan kepada usaha siswa, bukan
semata-mata menilai hasil ujian atau ulangan tanpa memperhatikan proses yang
dilakukan siswa. Hal ini akan membangkitkan motivasi belajar.
Kebutuhan untuk diakrabi bagi remaja
dimaksudkan agar orang lain memahami ide-ide, kebutuhan-kebutuhan dan
permasalahan yang dihadapinya. Jika keakraban atau penuh perhatian telah
diberikan pada remaja maka mereka akan merasa tersokong, dihargai dan bahagia.
Sebaliknya jika remaja tidak mendapat kesempatan untuk mengkomonikasikan ide,
kebutuhan dan permasalahannya, apalagi dilecehkan, ditolak atau dimusuhi maka
ia akan sangat kecewa, marah, tidak nyaman atau terancam.
Remaja mulai mempunyai keinginan
untuk mengenal apa tujuan hidup dan bagaimana kebahagiaan diperoleh. Suatu
filsafat hidup yang memuaskan adalah yang bernilai kemanusiaan. Jika filsafat
hidup telah dimiliki, maka perasaan manusiawi tumbuh subur dalam diri remaja
sehingga segenap aktivitasnya diliputi perasaan aman dan damai.
Apabila kebutuhan-kebutuhan diatas
dirasakan remaja tidak terpenuhi maka akan terjadi perasaan tidak aman,
tertekan dan tidak puas karena tidak terjadi keserasian didalam dirinya. Oleh
karena itu mereka mencari pemuasan dengan cara apa saja termasuk dengan
cara-cara yang negative atau tidak wajar. ( Elida Prayitno, 2006)
Disamping rumusan tersebut ada tujuh
jenis kebutuhan khas remaja yang dikemukakan oleh Garrison (dalam Andi
Mappiare: 1982) yaitu :
Adanya tujuh macam kebutuhan khas
remaja ini secara umum memang ada pada kebanyakan anak muda, tetapi tingkat
intensitasnya sangat dipengaruhi oleh latar belakang keluarga masing-masing.,
factor social, individual, cultural dan religius.
Apabila kebutuhan remaja tidak
terpenuhi akan timbul perasaan kecewa atau frustasi perasaan konflik dan kecewa
dapat dipastikan terjadi pada siswa remaja yang berupaya untuk mencapai dua
tujuan yang bertentangan. Misalnya remaja yang berprilaku preman dengan tujuan
ditakuti kelompoknya dan sekaligus bersikap terpelajar dengan tujuan dihormati
akan menemui kesulitan dalam hidupnya. Siswa remaja yang kebutuhan-kebutuhannya
tidak terpenuhi dapat melakukan tingkah laku mempertahankan diri seperti
tingkah laku agresif, egosentris, dan menarik diri. (Elida Prayitno, 2006)
Usaha memenuhi kebutuhan bagi remaja
tidaklah mudah, melainkan sangat rumit, kompleks dan bervariasi sebagai contoh
kebutuhan remaja yang sering kurang memperoleh kebutuhan adalah kebutuhan akan
kasih sayang dari orang tua maupun orang dewasa lainnya. Hal ini akan
mengakibatkan remaja cenderung mencari penyelesaiannya sendiri dengan cara membanci
orang tua, suka mencari perhatian orang lain, lebih betah berkumpul dengan
teman sebayanya, mencari orang lain sebagai pengganti orang tuanya, yang dapat
memenuhi kebutuhannya itu seperti gurunya, pemuka masyarakat, mencintai orang
yang lebih dewasa dsb. (Muri Yusuf, 1999).
Apabila kebutuhan social-psikologis
tidak terpenuhi maka akan mengakibatkan timbulnya rasa tidak puas, menjadi
frustasi dan terhambatnya pertumbuhan serta perkembangan sikap positif terhadap
lingkungan dan dirinya. Sebagai contoh masa remaja disebut pula sebagai masa
social hunger (kehausan sosial), yang ditandai dengan adanya keinginan untuk
bergaul dan diterima di lingkungan kelompok sebayanya (peer group). Penolakan
dari peer group dapat menimbulkan frustrasi dan menjadikan dia sebagai isolated
dan merasa rendah diri. Namun sebaliknya apabila remaja dapat diterima oleh
rekan sebayanya dan bahkan menjadi idola tentunya ia akan merasa bangga dan
memiliki kehormatan dalam dirinya. Problema perilaku sosial remaja tidak hanya
terjadi dengan kelompok sebayanya, namun juga dapat terjadi dengan orang tua
dan dewasa lainnya, termasuk dengan guru di sekolah. Hal ini disebabkan pada
masa remaja, khususnya remaja awal akan ditandai adanya keinginan yang
ambivalen, di satu sisi adanya keinginan untuk melepaskan ketergantungan dan
dapat menentukan pilihannya sendiri, namun di sisi lain dia masih membutuhkan
orang tua, terutama secara ekonomis. Pada masa remaja juga ditandai dengan
adanya keinginan untuk mencoba-coba dan menguji kemapanan norma yang ada, jika
tidak terbimbing, mungkin saja akan berkembang menjadi konflik nilai dalam
dirinya maupun dengan lingkungannya.
Masa remaja disebut juga masa untuk
menemukan identitas diri (self identity). Usaha pencarian identitas pun, banyak
dilakukan dengan menunjukkan perilaku coba-coba, perilaku imitasi atau
identifikasi. Ketika remaja gagal menemukan identitas dirinya, dia akan
mengalami krisis identitas atau identity confusion, sehingga mungkin saja akan
terbentuk sistem kepribadian yang bukan menggambarkan keadaan diri yang
sebenarnya. Reaksi-reaksi dan ekspresi emosional yang masih labil dan belum
terkendali pada masa remaja dapat berdampak pada kehidupan pribadi maupun
sosialnya. Dia menjadi sering merasa tertekan dan bermuram durja atau justru dia
menjadi orang yang berperilaku agresif. Pertengkaran dan perkelahian seringkali
terjadi akibat dari ketidakstabilan emosinya.
Selain yang telah dipaparkan di
atas, tentunya masih banyak problema keremajaan lainnya. Timbulnya problema
remaja dipengaruhi oleh berbagai faktor, baik internal maupun eksternal. Agar
remaja dapat terhindar dari berbagai kesulitan dan problema kiranya diperlukan
kearifan dari semua pihak. Upaya untuk memfasilitasi perkembangan remaja
menjadi amat penting. Dalam hal ini, peranan orang tua, sekolah, serta
masyarakat sangat diharapkan. (Diterbitkan 31 Januari 2008 psikologi
pendidikan).
Lingkungan keluarga didukung pihak
sekolah perlu melakukan berbagai usaha membantu memenuhi kebutuhan remaja, agar
tidak menimbulkan kesulitan atau permasalahan bagi remaja. Saran yang perlu
dilakukan adalah :
Semua itu dilaksanakan dengan
ketulusan, kesabaran dan konsisten dengan komitmen semata-mata demi kesuksesan
dan kebahagiaan anak masa remaja.
Sumber: www.google: David Sigalingging.blogspot.com. diakses pada tanggal 28 Maret 2012
Komentar :
Benar sekali bahwa
masa remaja adalah masa pencarian identitas, di mana remaja berusaha mencari
statusnya di dalam komunitas tertentu dan pada fase ini ramaja sanagtlah labil
dan sangat mudah sekali terpengaruh terhadap hal-hal yang negative. Perasaan kecewa
apabila tidak diterima dalam komunitas tertentu yang menjadikan remaja mencaro
komunitas lain yang lebih membutuhkan dirinya. Banyaknya kasus-kasus yang
memperlihatkan perilaku negative para remaja, sebenarnya hal ini disebabkan
karena mereka berusaha mencoba untuk memenuhi akan kebutuhan terhadap
perkembangannya, namun mereka tidak dapat memenuhi kebutuhan tersebut, maka
terjadilah yang kita namakan perilaku negative para remaja, seperti tauran
antar sekolah, ikut aktif dalam geng-geng brutal seperti geng motor ataupun
tindakan terororis.
Hal ini sesuai
dengan pernyataan Elida Prayitno (2006) (dalam buku Perkembangan Peserta
Dididk, UNP press) yang mengatakan, apabila kebutuhan remaja tidak terpenuhi
akan timbul perasaan kecewa atau frustasi perasaan konflik dan kecewa dapat
dipastikan terjadi pada siswa remaja yang berupaya untuk mencapai dua tujuan
yang bertentangan. Misalnya remaja yang berprilaku preman dengan tujuan
ditakuti kelompoknya dan sekaligus bersikap terpelajar dengan tujuan dihormati
akan menemui kesulitan dalam hidupnya. Siswa remaja yang kebutuhan-kebutuhannya
tidak terpenuhi dapat melakukan tingkah laku mempertahankan diri seperti
tingkah laku agresif, egosentris, dan menarik diri.
Peran orang tua dan
guru sangat penting pada fase ini, dimana orang tua dituntut untuk selalu
mengawasi pergaulan anak remajanya dan membimbing dengan memberikan pengarahan
dalam bergaul dan memilih teman sebaya.
Referensi:
Mudjiran.dkk.2007.PPD:UNP
press
Tim Pembina mata kuliah
PPD.2007.Padang
PERKEMBANGAN INTELEKTUAL
(KOGNITIF) REMAJA
Beberapa aspek.perkembangan intelektua pada usia kanak-kanak
1. Perkembangan Kognitif: Tahap Operasi Konkret Piaget
Menurut Piaget, kadang-kadang anak usia antara 5.- 7 tahun memasuki tahap operasi konkret (concrete operations), yaitu pada waktu anak dapat berpikir secara logis mengenai segala sesuatu. Pada umumnya mereka pada tahap ini berusia sampai kira-kira 11 tahun.
2.Berpikir Opernsionnl
Menurut Piaget pada tahap ketiga, anak-anak mampn berpikir operasional: mereka dapat mempergunakan berbagai simbol, melakukan berbagai bentuk operasional, yaitu kemampuan aktivitas mental sebagai kebalikan dari aktivitas jasmani yang merupakan dasar untuk mulai berpikir dalam aktivitasnya. Walaupun anak-anak yang preoperasional dapat membuat pernyataan mental tentang oby’sk dan kejadian-kejadian sekelipun tidak dapat dalam seketika, cara belajar mereka masih terikat pada pengalaman fisik. Anak-anak yang ada pida tahap operasional konkret lebih baik daripada anak-anak yang preoperasioial dalam mengadakan klasifikasi, bekerja dengan angka-angka. mengetahui konsep-konsep waktu dan ruang,dan dapat membedakan antara kenyataan dengan hal-hal yang bersifat fantasi.
Karena pada dewasa ini anak-anak berkurang sifat egoisnya, dan anak-anak pada tahapan operasi konkret lebih bersifat,kritis mereka lebih banyak dapat mempertimbangkan suatu siruasi daripada hanya memfokuskan pada suatu aspek, sebagairnana yang mereka lakukan pada preoperasiorial. Mereka sadar bahwa pada umumnya berbagai operas! fisiK dapat diganti. Peningkatan kemapanan mereka untuk mengeni terhadap orang lain dapat mendorong untuk berkomunikasi lebih efektif dan
dapat berpikir lebih fleksibel.
Akan tetapi anak-anak usia sekolah lebih dapat berpikir secara logik daripada waktu mereka masih muda, cara berpikir mereka’masih terikat pada kenyataan atau kejadian pada waktu sekarang, artinya terikat pada hal-hal yang sedang dihadapi saja.
Menurut Piaget kondisi semacam ini berlaku jampai pada tahap berbagai operasi formal, di mana biasanya sampai pada tahap remaja, anak-anak mampu berpikir secara abstrak, tes hipotesis, dan mengerti tentang kemungkinan (probabilitas).
3. Konservasi
Konservasi adalah salah satu kemampuan yang penting yang dapat mengembangkan berbagai operasi pada tahap konkret. Dengan kata lain konservasi adalah kemampuan untuk mengenal atau mengetahui bahwa dua bilangan yang sama akan tetap sama dalam substansi berat atau volume selama tidak ditambah atau dikurangi.
Dalam suatu tugas konservasi tertentu, Stay menunjukkan dua bola dari tana’i Mat. Dia setuju bahwa bola tersebut mem.ang sama. Dia mengatakan bahwa substansi konservasi tersebut sekalipun bola yang satu digelindingkan, keadaannya tetap tidak berubah, artinya jumlah bola tersebut tetap sama. Dalam konservasi berat, dia juga mengetahui bahwa berat bola tersebut tetap sama sekalipun dipanaskan, demikian pula apabila bola tersebut dimasukkan ke dalam air, beratnya akan tetap sama.
Anak-anak mengembangkan perbedaan berbagai tipe (bentuk) konservasi dalam waktu yang berbeda. Pada usia 6 atau 7 tahun mereka dapat mengkonservasi substansi pada usia 9 atau 10 rr.ampu mengkonservasi berat; dan pada usia 11 atau 12 mengkonservasi volume. Pada dasarnya ketiga jenis konservasi tersebut adalah identik, akan tetapi anak-anak belum mampu mentransfer apa yang mereka telah pelajari yaitu mengkonservasi satu tipe (bentuk) kepada bentuk lain yang berbeda. Dalam luibungan ini kita dapat meliha; bahwa berbagai alasan anak-anak tersebut tetap sarna dalam tahap konkret. Sebab kondisi tersebut masih tetap terikat pada situasi tertentu sehingga anak tidak dapat mengaplikasikan operasi dasar mental yang sama pada situasi yang berlainan.
4. Bagaimana konservasi dikembangkan
Pada umumnya anak-anak bergerak dengan melalui tiga tahapan dalam menguasai konservasi sebagaimana dikenukakan di atas.
Pada tahap pertama, anak-anak preoperasional gagal
mengkonservasi. Mereka memusatkan perhatian pada sntu aspek dalam sit’iasi
tertentu. Mereka belum mengerti bahwa tempat prnyimpanan bola dapat diisi
dengan bola lebih dari satu. Sebab anak-anak pr?operasional tidak mengerti
tentnng konsep perubalian, mereka tidak mengetahui dan tidak mengerti bahwa •
mereka dapat merubah sesuatu, misalnya dengan menggerakkan suatu benda (bola)
tanpa inerubah bentuknya.
Pada tahap kedua, merupakan trausisional. Anak-anak kembali pada kondisi bahwa kadang-kadang mengadakan konservasi namun kadang-kadang tidak melakukannya. Mereka lebih banyak memperhatikan berbagai ha! dan tidak terpaku pada satu aspek saja dalam situasi tertentu, seperti berat, lebar. panjang, dan tebal akan tetapi mereka gagal mengetahui sebagaimana berbagai dimensi tersebut berhubungan satu sarna lain. Pada tahap ketiga, yaitu tahap terakhir, anak-anak dapat mengkonservasi dan dapat memberikan alasan secara logis atas jawaban yang mereka berikan. Alasan-alasan tersebut mengacu pada perubahan, identitas, atau kompensasi. Jadi anak-annk pada opernsional konkret menunjukkan snatii kualitas konitif lebih lanjut daripada anak-annk preoperasional. Mereka dapat berpikir lebih luas dan peduli pada berbagai transformasi yang hanya merupakan persepsi.
Piaget menekankan bahwa perkembangan kemampuan anak-anak untuk mengkonservasi akan lebih baik apabila secara nalar telah cukup matang. Piaget berpendapat bahwa konservasi hanya sedikit sekali dapat dipengaruhi oleh pengalaman. Sekalipun demikian terdapat faktor-faktor lain dari kematangan yang dapat mempengaruhi konservasi. Anak-anak yang belajar konservasi sejak dini akan mampu mencapai tingkat yang lebih dalam hal: IQ, kemampuan verbal dan tidak didominasi oleh ibunya (Almy, Chitenden & Miller,1966; Goldsmid & Bentler, 1968).
Komentar
:
Perkembangan
intelektual anak memerlukan fase-fase yang berada pada tahap keempat yang
disebut periode operasional formal. Pada fase ini remaja telah mampu brfikir
secara abstrak dan hipotesis, mampu berpikir berbagai kemungkinan yang terjadi
pada dirinya, kelanjutan studi, jenis pekerjaan yang cocok, manfaat pengalaman
hidup, dan hubungan antara berbagai macam fakta.
Proses
perkembangan intelegensi remaja dipengaruhi oleh genetic, gizi, kematangan,
lingkungan dan budaya. Intelegensi anak akan terus berkembang bila lingkungan
di sekitar remaja tersebut mendukung.
Hal ini sesuai dengan yang dikemukan oleh
Samsunuwiyati Mar’at,1991 (dalam buku PPD, UNP press) tahap perkembangan remaja
ada empat, yang pertama disebut periode sensori motorik (0-2 tahun), tahap
kedua disebut periode pre operasional (2-7 tahun), tahap ketiga disebut
periodeoperasional konkret (7-11) tahun, dan tahap keempat disebut periode
operasional formal (11-16 tahun).
Referensi :
Mudjiran.dkk.2007.PPD:UNP
press
Tim Pembina mata kuliah
PPD.2007.Padang
PERKEMBANGAN EMOSI PADA REMAJA
Dalam literatur klasik psikologi, emosi merupakan reaksi
(kejiwaan) yang muncul lantaran adanya stimulan. Emosi yang sangat fruktuatif
(mudah berubah) terjadi pada masa remaja. Remaja sering tidak mampu memutuskan simpul-simpul
ikatan emosional kanak-kanaknya dengan orang tua secara logis dan objektif.
Dalam usaha itu mereka kadang-kadang harus menentang, berdebat, bertarung
pendapat dan mengkritik dengan pedas sikap-sikap orang tua (Thomburg, 1982).
Meskipun hal ini sulit dilakukan namun dalam upaya pencapaian kemandirian yang
optimal terhadap diri remaja maka upaya tersebut
harus ditempuh.
Fenomena ini menarik untuk dicermati, sebab perilaku anak remaja tersebut bila ditinjau dari perspektif psikologis merupakan upaya pelepasan dirinya dari keterikatan-keterikan orang tua yang dirasa terlalu membelenggu, ia berusaha mandiri secara emosi, dan tidak lagi menjadikan orang tua sebagai satu-satunya sandaran dalam pengambilan keputusan. Ia memutuskan sesuatu atas dasar kebutuhan dan kemampuan pribadi, walaupun pada suatu saat masih mempertimbangkan kepentingan dan harapan orang tua.Bagi remaja, tuntutan untuk memperoleh kemandirian secara emosional merupakan dorongan internal dalam mencari jati diri, bebas dari perintah-perintah dan kontrol orang tua. Remaja menginginkan kebebasan pribadi untuk dapat mengatur dirinya sendiri tanpa bergantung secara emosional pada orang tuanya. Bila remaja mengalami kekecewaan, kesedihan atau ketakutan, mereka ingin dapat mengatasi sendiri masalah-masalah yang dihadapinya. Meskipun remaja dapat mendiskusikan masalah-masalahnya dengan ayah atau ibunya, tetapi mereka ingin memperoleh kemandirian secara emosional dengan mengatasi sendiri masalah-masalahnya dan ingin memperoleh status yang menyatakan bahwa dirinya sudah dewasa.
Fenomena ini menarik untuk dicermati, sebab perilaku anak remaja tersebut bila ditinjau dari perspektif psikologis merupakan upaya pelepasan dirinya dari keterikatan-keterikan orang tua yang dirasa terlalu membelenggu, ia berusaha mandiri secara emosi, dan tidak lagi menjadikan orang tua sebagai satu-satunya sandaran dalam pengambilan keputusan. Ia memutuskan sesuatu atas dasar kebutuhan dan kemampuan pribadi, walaupun pada suatu saat masih mempertimbangkan kepentingan dan harapan orang tua.Bagi remaja, tuntutan untuk memperoleh kemandirian secara emosional merupakan dorongan internal dalam mencari jati diri, bebas dari perintah-perintah dan kontrol orang tua. Remaja menginginkan kebebasan pribadi untuk dapat mengatur dirinya sendiri tanpa bergantung secara emosional pada orang tuanya. Bila remaja mengalami kekecewaan, kesedihan atau ketakutan, mereka ingin dapat mengatasi sendiri masalah-masalah yang dihadapinya. Meskipun remaja dapat mendiskusikan masalah-masalahnya dengan ayah atau ibunya, tetapi mereka ingin memperoleh kemandirian secara emosional dengan mengatasi sendiri masalah-masalahnya dan ingin memperoleh status yang menyatakan bahwa dirinya sudah dewasa.
Perkembangan kemandirian emosional remaja, tidak terlepas dari penerapan pengasuhan orang tua melalui interaksi antara ibu dan ayah dengan remajanya. Orang tua merupakan lingkungan pertama yang paling berperan dalam pengasuhan anak remajanya, sehingga mempunyai pengaruh yang paling besar pada pembentukan kemandirian emosional remaja. Beberapa hasil penelitian yang telah dilakukan seperti I Nyoman Karna (2002), Miftahul Jannah (2004), Risa Panti Ariani (2004) menunjukkan bahwa gaya pengasuhan orang tua yang harmonis, hangat, penuh kasih sayang (authoritative) menunjang perkembangan kemandirian emosional remaja, namun sebaliknya gaya pengasuhan yang penuh dengan tuntutan, orang tua tidak perhatian, penuh dengan sanksi, tidak pernah melibatkan anak dalam pengambilan keputusan akan menghambat perkembangan kemandirian remaja khususnya kemandirian emosional artinya remaja tidak mampu melepaskan diri dari ketergantungan dan keterikatan secara emosional dengan orang tua.
Masa remaja merupakan masa yang penuh gejolak. Pada masa ini mood (suasana hati) bisa berubah dengan sangat cepat. Hasil penelitian di Chicago oleh Mihalyi Csikszentmihalyi dan Reed Larson (1984) menemukan bahwa remaja rata-rata memerlukan hanya 45 menit untuk berubah dari mood “senang luar biasa” ke “sedih luar biasa”, sementara orang dewasa memerlukan beberapa jam untuk hal yang sama. Perubahan mood (swing) yang drastis pada para remaja ini seringkali dikarenakan beban pekerjaan rumah, pekerjaan sekolah, atau kegiatan sehari-hari di rumah. Meski mood remaja yang mudah berubah-ubah dengan cepat, hal tersebut belum tentu merupakan gejala atau masalah psikologis.
Reaksi-reaksi dan ekspresi emosional yang masih labil dan belum terkendali pada masa remaja dapat berdampak pada kehidupan pribadi maupun sosialnya. Dia menjadi sering merasa tertekan dan bermuram durja atau justru dia menjadi orang yang berperilaku agresif. Pertengkaran dan perkelahian seringkali terjadi akibat dari ketidakstabilan emosinya.Usaha remaja untuk memperoleh kebebasan emosional sering disertai perilaku "pemberontakan" dan melawan keinginan orangtua. Bila tugas perkembangan ini sering menimbulkan pertentangan dalam keluarga dan tidak dapat diselesaikan di rumah , maka remaja akan mencari jalan keluar dan ketenangan di luar rumah. Tentu saja hal tersebut akan membuat remaja memiliki kebebasan emosional dari luar orangtua sehingga remaja justru lebih percaya pada teman-temannya yang senasib dengannya. Jika orangtua tidak menyadari akan pentingnya tugas perkembangan ini, maka remaja Anda dalam kesulitan besar.
Untuk mendapatkan kebebasan emosional, remaja mencoba merenggangkan hubungan emosionalnya dengan orang tua; ia harus dilatih dan belajar untuk memilih dan menentukan keputusannya sendiri. Usaha ini biasanya disertai tingkah laku memberontak atau membangkang. Dalam hal ini diharapkan pengertian orang tua untuk tidak melakukan tindakan yang bersifat menindas, akan tetapi berusaha membimbingnya secara bertahap. Usahakan jangan menciptakan suasana lingkungan yang lain, yang kadang-kadang menjerumuskannya. Anak menjadi nakal, pemberontak dan malah mempergunakan narkotika (menyalahgunakan obat).
Anak
memperhalus ekspresi-ekspresi kemarahannya atau emosi lain ketika ia beranjak
dari masa kanak-kanak menuju masa remaja. Mendekati berakhirnya remaja, seorang
anak telah melewati banyak badai emosional, ia mulai mengalami keadaan
emosional yang lebih tenang dan telah belajar dalam seni menyembunyikan
perasaan-perasaannya. Jadi, emosi yang ditunjukan mungkin merupakan selubung
yang disembunyikan. Contohnya, seorang yang merasa ketakutan tetapi menunjukan
kemarahan, dan seseorang yang sebenarnya hatinya terluka tetapi ia malah
tertawa, sepertinya ia merasa senang.
Para remaja semasa kanak-kanak, mereka diberitahu atau diajarkan untuk tidak menunjukan perasaan-perasaannya, entah perasaan takut ataupun sedih. Akhirnya seringkali mereka takut dan ingin menangis tetapi tidak berani menunjukan perasaan tersebut secara terang-terangan. Kondisi-kondisi kehidupan atau kulturlah yang menyebabkan mereka merasa perlu menyembunyikan perasaan-perasaannya. Tidak hanya perasaan-perasaannya terhadap orang lain saja, namun pada derajat tertentu bahkan ia dapat kehilangan atau tidak merasakan lagi.
Perbedaan Individual Dalam Perkembangan Emosi Remaja
Dengan meningkatnya usia anak, semua emosi diekspresikan secara lunak karena mereka telah mempelajari reaksi orang lain terhadap luapan emosi yang berlebihan, sekalipun emosi itu berupa kegembiraan atau emosi yang menyenangkan lainnya. Adapun karena anak-anak mengekang sebagian ekspresi emosi mereka, emosi tersebut cenderung berahan lebih lama daripada jika emosi itu diekspresikan secara lebih terbuka. Oleh kerena itu, ekspresi emosional mereka menjadi berbeda-beda. Perbedaan itu sebagian disebabkan oleh keadaan fisik anak pada saat itu dan taraf kemampuan intelektualnya. Anak yang sehat cenderung kurang emosional dibandingkan dengan anak yang kurang sehat. Jika dilihat sebagai anggota suatu kelompok, anak-anak yang pandai bereaksi lebih emosional terhadap berbagai macam rangsangan dibandingkan dengan anak yang kurang pandai bereaksi. Tetapi sebaliknya mereka lebih dapat mampu mengendalikan emosi.
Dalam sebuah keluarga, anak laki-laki lebih sering dan lebih kuat mengekspresikan emosi yang sesuai dengan jenis kelamin mereka. Rasa cemburu dan marah lebih umum terdapat di kalangan keluarga besar, sedangkan rasa iri lebih umum terdapat di kalangan keluarga kecil. Rasa cemburu dan ledakan kemarahan lebih umum dan lebih kuat di kalangan anak pertama dibandingkan dengan anak yang lahir kemudian dalam keluarga yang sama.
Hubungan Antara Emosi Dan Tingkah Laku
Rasa takut atau marah dapat menyebabkan seseorang gemetar. Dalam ketakutan, mulut menjadi kering, cepatnya jantung berdetak, derasnya aliran darah atau tekanan darah, dan sistem pencernaan mungkin berubah selama pemunculan emosi. Keadaan emosi yang menyenangkan dan relaks berfungsi sebagai alat pembantu untuk mencerna, sedangkan perasaan tidak senang akan menghambat atau mengganggu proses pencernaan.Peradangan di dalam perut atau lambung, diare, dan sembelit adalah keadaan-keadaan yang dikenal karena terjadinya berhubungan dengan gangguan emosi. Keadaan emosi yang normal sangat bermanfaat bagi kesehatan. Gangguan emosi juga dapat menjadi penyebab kesulitan dalam berbicara. Ketegangan emosional yang cukup lama mungkin menyebabkan seseorang gagap. Banyak situasi yang timbul di sekolah atau dalam suatu kelompok yang dapat menyebabkan seseorang menjadi tenang.
Seorang siswa tidak senang kepada gurunya bukan karena pribadi guru, namun bisa juga disebabkan sesuatu yang terjadi pada saat sehubungan dengan situasi kelas. Penderitaan emosional dan frustasi mempengaruhi efektivitas belajar. Anak sekolah akan belajar efektif apabila ia termotivasi, karena ia perlu belajar. Setelah hal ini ada pada dirinya, selanjutnya ia akan mengembangkan usahanya untuk dapat menguasai bahan yang ia pelajari.
Reaksi setiap pelajar tidak sama, oleh karena itu rangsangan untuk belajar yang diberikan harus berbeda-beda dan disesuaikan dengan kondisi anak. Dengan begitu, rangsangan-rangsangan yang menhasilkan perasaan yang tidak menyenangkan akan mempengaruhi hasil belajar dan demikian pula rangsangan yang menghasilkan perasaan yang menyenangkan akan mempermudah siswa dalam belajar.
Referensi :
Komentar:
Emosi pada remaja memang tidak
stabil dan mudah untuk tidak terkontrol, hal ini disebabkan pada masa remaja,
merupakan fase-fase atau tahap perkembangan emosi bagiremaja. Pada remaja
perkembangan emosi negatifnya lebih dominan bila dibandingkan dengan
perkembangan emosi positifnya, hal ini dapat terlihat pada remaja yang mudah
sekali marah karena hal yang sepele. Hal ini juga dipengaruhi oleh lingkungan
dari remaja yang bersangkutan.
Cara mendidik merupakan salah satu factor yang mempengaruhi
perkembangan emosi anak, cara mendidik yang otoriter mendorong perkembangan
emosi kecemasan dan takut, sedangkan cara mendidik yang permisif atau
demokratis mendorong berkembangnya semangat dan rasa kasih sayang. Anak-anak
dari keluarga yang berstatus sosial ekonomi rendah cenderung lebih mengembangkan
rasa takut dan cemas dibandingkan dengan anak-anak yang berasal dari keluarga
yang berstatus sosial ekonomi tinggi.
Sebagai orang tua perlu mengetahui cara-cara mendekati anak remajanya, agar
anak remaja tersebut dapat dipantau lingkungan bergaulnya.
PERKEMBANGAN MORAL REMAJA
Posted by Ivan on March 27, 2010
Masa remaja merupakan masa yang
penting dalam perkembangan individu. Pada masa tersebut terjadi
perubahan-perubahan pada fisik, interaksi sosial, kognitif, emosi, dan moral. Perkembangan
moral merupakan salah satu yang penting dalam kaitanya dengan remaja.
Perkembangan moral remaja berkaitan dengan bagimana proses perkembangan remaja
dalam memahami nilai-nilai, aturan, norma yang berlaku di masyarakat
Perkembangan moral remaja dipengaruhi oleh dua hal, yaitu, kemampuan berpikir
dan interaksi sosial. Peran keluarga dalam proses pembentukan moral remaja
dapat dilihat dari tiga elemen, yaitu kedekatan keluarga (cohesion familiy),
adaptasi, dan komunikasi.
Kelompok
sebaya (peer group) sangatlah penting bagi proses perkembangan remaja. Menurut
penelitian, remaja yang bergabung dengan kelompok informal maksudnya di luar
sekolah (tim sepakbola, band, pramuka dan sebagainya) akan memunculkan rasa
keinginan untuk memiliki dan status social (Austin, 1980). Bergabungnya remaja
pada suatu kelompok akan membuat remaja lebih banyak belajar dari orang lain,
bagaiamana bertingkahlaku, bekerjasama dengan orang lain dan memahami antar
sesama. Itu beberapa keuntungan didapati remaja ketika bergabung pada suatu
kelompok. Namun ada bebarapa dampak negatifnya. Salah satunya adalah
nilai-nilai negatif yang dianut kelompok.
Ketika
remaja bergabung dengan suatu kelompok, maka konsekuensinya remaja harus
mengikuti apa yang disepakati kelompoknya. Hal ini dilakukan karena berkaitan
dengan penerimaan sosial (social acceptance) pada kelompok. Dengan demikian
remaja lebih suka ‘mengadopsi’ nilai-nilai dari peer group daripada orangtua.
Kadang-kadang nilai-nilai yang dianut remaja dari kelompoknya bertentangan
dengan nilai yang ada di keluarga. Bahkan bisa terjadi konflik antara remaja
dengan orangtua. Benar menurut kelompoknya belum tentu benar menurut masyarakat
atau keluarga. Di sinilah peran keluarga menjadi penting. Bagaimana orangtua
dapat menanamkan nilai-nilai yang baik pada remaja. Selain itu orangtua harus
menjalin komunikasi yang positif. Dengan itu, diharapkan nilai-nilai moral yang
diajarkan orangtua kepada remaja dapat dipahami dan diterima. Lalu timbul
pertanyaan, bagaimana peran keluarga dalam perkembangan moral remaja?keluarga
yang seperti apa yang sukses dalam menyampaikan nilai-nilai moral yang baik?.
Berbicara
mengenai moral berarti berbicara benar dan salah, dosa dan tidak dosa dan
larangan dan tindakan. Menurut Suseno (dalam Multahada, 2005) moral adalah hal
yang selalu mengacu pada baik buruknya manusia. sebagai manusia, sehingga
bidang moral adalah bidang kehidupan manusia dilihat dari segi kebaikannya
sebagai manusia. Moral adalah suatu nilai-nilai yang yang berlaku di suatu
wilayah tertentu Jadi pengertian moral dapat diartikan sebagai suatu adat
istiadat, kebiasaan, peraturan atau tata cara kehidupan dalam suatu masyarakat
yang berhubungan dengan baik dan buruknya tingkah laku manusia. ( Multahada,
2005).
Nilai moral yang berkembang di suatu masyarakat tentulah berbeda-beda, susuai dengan yang telah disepakati bersama. Sesuai dengan apa yang dikatakan Hogan (dalam Haste dan Locke, 1983), ia mencoba medefinisikan nilai moral dari perspektif sosial. Ia mengatakan bahwa moral bersifat relatif Artinya, nilai moral adalah suatu nilai yang ditetapkan secara kultural maupun subkultural secara tidak pasti.. Dengan demikian setiap orang mempunyai “kebebasan” dalam memahami dan menginternalisasi nilai moral yang berkembang pada suatu masyarakat. Nilai moral yang berkembang di masyarakat dapat saja berubah karena pengaruh budaya dari luar, teknologi maupun ideologi. Hal semacam inilah yang menjadikan seorang reamaja menyimpang dari nilai-nilai moral yang ada. Lalu apa kaitan antara moral dengan remaja?bagaimana moral berkembang pada remaja?
Nilai moral yang berkembang di suatu masyarakat tentulah berbeda-beda, susuai dengan yang telah disepakati bersama. Sesuai dengan apa yang dikatakan Hogan (dalam Haste dan Locke, 1983), ia mencoba medefinisikan nilai moral dari perspektif sosial. Ia mengatakan bahwa moral bersifat relatif Artinya, nilai moral adalah suatu nilai yang ditetapkan secara kultural maupun subkultural secara tidak pasti.. Dengan demikian setiap orang mempunyai “kebebasan” dalam memahami dan menginternalisasi nilai moral yang berkembang pada suatu masyarakat. Nilai moral yang berkembang di masyarakat dapat saja berubah karena pengaruh budaya dari luar, teknologi maupun ideologi. Hal semacam inilah yang menjadikan seorang reamaja menyimpang dari nilai-nilai moral yang ada. Lalu apa kaitan antara moral dengan remaja?bagaimana moral berkembang pada remaja?
Perkembanngan moral sebenarnya telah berlangsung pada masa kanak-kanak. Namun pada saat remaja akan mengalami perubahan sesuai dengan perkembangan kemampuan kognitif dan minat sosialnya. Menurut Damon (1984) ada membedakan antara remaja dengan anak kecil, yaitu (1) remaja lebih sensitif terhadap pandangan dan harapan masyarakat. Remaja sering mementingkan ‘reputasi’ dirinya. Selain itu remaja lebih dituntut untuk mewujudkan harapan dan tanggungjawab dari lingkungan. Hal tersebut digunakan untuk mewujudkan reputasinya. Yang ujung ada keinginan dalam remaja untuk dapat diterima dan dihargai secara sosial dalam suatu lingkungan. (2), ideologi. Remaja mulai senang dengan hal-hal yang bersifat filosofi, ideology, aliran-aliran. Mereka terkadang mulai mengadopsi hal tersebut sebagai pandangan, pendapat dan kepercayaan.
Ada dua hal yang bisa mempengaruhi perkembangan moral remaja, yaitu perkembangan kognitif dan interaksi sosial. Pertama, adalah kemampuan berpikirnya. Menurut Kohlberg masa remaja masuk pada tahap pascakonvensional. Pada masa ini remaja sudah mampu berpikir secara induksi-deduksi, sudah mampu menghadapi beberapa masalah. Gallagher ( dalam Craig,1980) mengatakan remaja sudah mampu mengkombinasikan dan memecari solusi permasalahan. Perkembangan kognitif pada remaja meliputi kemampuan berpikir secara rasional dan penalaran secara efektif, sehingga remaja secara relatif telah mampu membuat keputusan sendiri.. Pada saat remaja, keinginan untuk berinteraksi dengan teman-teman sudah mulai tumbuh. Orentasinya tidak lagi ke dalam (keluarga ) tetapi lebih ke luar keluarga. Dengan berinteraksi dengan teman-teman sebaya, orang dewasa dan masyarakat, maka remaja mulai belajar banyak hal. Seperti perilaku tolong-menolong, bekerjasama, empati, saling memahami dan sebagainya. Menurut teori social learning (dalam Atkinson,1999) seseorang dapat belajar dari cara mengamati perilaku orang lain. Remaja mulai membandingkan dirinya dengan orang lain baik dalam berpikir, bersikap, dan berperilaku. Setelah itu remaja baru bisa memutuskan apa yang terbaik untuk dirinya.
Keluarga merupakan satuan terkecil dari sistem social yang ada di masyarakat. Peran keluarga sangat penting bagi perkembangan remaja. Menurut penelitian Mandara dan Murray (2000) keluarga yang berperan baik dapat meningkatkan harga diri (self-esteem) pada remaja. Tidak hanya hanya itu, keluarga juga berperan dalam hal pendidikan, khusus pendidikan pra sekolah. Pada saat masih kanak-kanak keluarga yang mengajarkan nilai-nilai moral, agama, dan bagaimana seharusnya berperilaku. Menurut Clatworthy (1980) peran keluarga sangat banyak, yaitu sosialisasi pendidikan, reproduksi, perlindungan dan keselamatan, kontrol sosial, kebutuhan psikologis, agama dan rekreasi. White (2000) dalam penelitiannya membuktikan bahwa keluarga mempnyai peran penting dalam pembentukan moral remaja.
Studi yang dilakukan White tentang peran keluarga dalam pembentukan berpikir moral (moral thaought) di lakukan di Australia. Subjek penelitian berjumlah 271 remaja (14-19 tahun) beserta orangtuanya. Pada penelitian ini, White berusaha menghubungkan proses dalam keluarga dengan berpikir moral (moral thaough)t. Dia menggunakan pendekatan sistem-keluarga pada pembentukan berpikir moral remaja. Moral remaja tidak hanya bersumber dari kelompoknya saja, tetapi peran kelurga terutama orangtua sangat penting. Kemampuan keluarga dalam proses pembentukan moral remaja dapat dilihat dari tiga elemen, yaitu kedekatan keluarga (cohesion familiy), adaptasi, dan komunikasi.
Terakhir adalah komunikasi. Remaja yang mempunyai komunikasi positif dengan keluarga terutama orangtua, akan mempunyai peran yang besar dalam pembentukan berpikir moral (moral thaought) daripada remaja yang menpunyai komunikasi negatif. Kemampuan positif dalam keluarga dapat dilihat dari kemampuan remaja untuk berkomunikasi dengan orangtuanya secara baik dan demokratis sehingga nilai-nilai moral dari orangtua dapat diinternalisasi secara baik oleh remaja. Komunikasi yang baik akan menciptakan hubungan yang baik pula, dan juga menciptakan saling memahami akan makna atau arti dari pesan yang disampaikan (Sarwono, 1999).
Referensi
Komentar
:
Remaja adalah
masa-masa transisi dari masa anak-anak ke masa dewasa awal. Pada masa itu
banyak perubahan yang terjadi pada diri remaja, mulai dari perubahan fisik,
psikologis, dan perkembangan sosial (Schuster, 1980),. Hal ini menjadi masa
remaja sering disebut masa “kritis”. Artinya masa remaja menjadi masa yang
labil, penuh gejolak; dan cenderung mudah terbawa arus. Selain itu, remaja
mulai mempertanyakan dirinya sendiri. Siapakah saya? pertanyaan seperti sering muncul karena remaja sedang mengalami masa
transisi dari anak-anak ke dewasa awal. Perubahan-perubahan yang terjadi pada
remaja menuntut mereka untuk dapat menyesuaikan diri dengan peran baru yang mereka
sandang. Bila remaja tidak dapat meyesuaikan, maka ia akan sulit menemukan
identitas dirinya. Seperti teori Erikson (dalam Hurlock, 1980), ia mengatakan
bahwa masa remaja merupakan masa pencarian identitas diri, bila remaja gagal,
maka ia akan mengalami kekaburan identitas.
Perkembangan moral
pada masa remaja tidak hanya ditentukan oleh kematangan berpikir (kognitif),
tetapi juga ditentukan oleh kematangan social. Maksudnya kemampuan berinteraksi
dengan lingkungan sosial. Keluarga merupakan salah satu lingkungan social yang
mempunyai pengaruh yang besar terhadap perkembangan moral pada remaja.
Keluarga-lah yang pertama kali memperkenalkan nilai-nilai—bagaimana seseorang
harus berperilaku terhadap orang lain. Salah satu sumber moral yang penting adalah
agama. Agama menjadi pedoman bagi orangtua untuk mengajarkan nilai-nilai baik
terhadap anaknya. Sekarang tergantung keluarga, bagaimana keluarga dapat
mensosialisasikan nilai-nilai moral secara baik kepada anaknya, sehingga anak
dapat menerima dan menginternalisasikan pada dirinya.
Pada
masa perkembangan moral remaja, peran orang tua sangat penting sekali, baik
sebagi contoh atupun mengawasi serta membimbing remajanya, hal yang sama
diungkapkan oleh Bandura (dalam buku PPD.UNP press) yang mengatakan bahwa
perkembangan moral berlangsung melalui interaksi seseorang dengan lingkungan
yang menyediakan konten moral. Dengan begitu, moral seseorang akan berkembang
dengan baik, apabila remaja tersebut sering berinteraksi dengan orang lan yang
lebih dewasa dari dia yang menunjukkan tingkah laku moral yang baik dalam
tindakan sehari-hari, seperti orang tua yang menunjukkan sikap baik di depan
ank remajanya.
Sumber : Mudjiran.dkk.2007.PPD:UNP press
Tim Pembina mata kuliah
PPD.2007.Padang
PERKEMBANGAN
SOSIAL REMAJA
Maka
tingkah laku manusia dapat dipandang sebagai reaksi terhadap berbagai tuntutan
dan tekanan lingkungan tempat ia hidup seperti cuaca dan berbagai unsur alami
lainnya. Semua mahluk hidup secara alami dibekali kemampuan untuk menolong
dirinya sendiri dengan cara menyesuaikan diri dengan keadaan lingkungan materi
dan alam agar dapat bertahan hidup. Dalam istilah psikologi, penyesuaian (adaptation dalam istilah Biologi) disebut dengan
istilah adjusment.
Aspek-aspek Penyesuaian Diri
Pada dasarnya penyesuaian diri memiliki dua aspek
yaitu: penyesuaian pribadi dan penyesuaian sosial. Untuk lebih jelasnya kedua
aspek tersebut akan diuraikan sebagai berikut :
1. Penyesuaian
Pribadi
Penyesuaian
pribadi adalah kemampuan individu untuk menerima dirinya sendiri sehingga
tercapai hubungan yang harmonis antara dirinya dengan lingkungan sekitarnya. Ia
menyadari sepenuhnya siapa dirinya sebenarnya, apa kelebihan dan kekurangannya
dan mampu bertindak obyektif sesuai dengan kondisi dirinya tersebut.
Keberhasilan penyesuaian pribadi ditandai dengan tidak adanya rasa benci, lari
dari kenyataan atau tanggungjawab, dongkol. kecewa, atau tidak percaya pada
kondisi dirinya. Kehidupan kejiwaannya ditandai dengan tidak adanya kegoncangan
atau kecemasan yang menyertai rasa bersalah, rasa cemas, rasa tidak puas, rasa
kurang dan keluhan terhadap nasib yang dialaminya.
Sebaliknya kegagalan penyesuaian pribadi ditandai
dengan keguncangan emosi, kecemasan, ketidakpuasan dan keluhan terhadap nasib
yang dialaminya, sebagai akibat adanya gap antara individu dengan tuntutan yang
diharapkan oleh lingkungan. Gap inilah yang menjadi sumber terjadinya konflik
yang kemudian terwujud dalam rasa takut dan kecemasan, sehingga untuk
meredakannya individu harus melakukan penyesuaian diri.
2. Penyesuaian Sosial
Setiap
iindividu hidup di dalam masyarakat. Di dalam masyarakat tersebut terdapat
proses saling mempengaruhi satu sama lain silih berganti. Dari proses tersebut
timbul suatu pola kebudayaan dan tingkah laku sesuai dengan sejumlah aturan,
hukum, adat dan nilai-nilai yang mereka patuhi, demi untuk mencapai
penyelesaian bagi persoalan-persoalan hidup sehari-hari. Dalam bidang ilmu
psikologi sosial, proses ini dikenal dengan proses penyesuaian sosial.
Penyesuaian sosial terjadi dalam lingkup hubungan sosial tempat individu hidup
dan berinteraksi dengan orang lain. Hubungan-hubungan tersebut mencakup
hubungan dengan masyarakat di sekitar tempat tinggalnya, keluarga, sekolah,
teman atau masyarakat luas secara umum. Dalam hal ini individu dan masyarakat sebenarnya
sama-sama memberikan dampak bagi komunitas. Individu menyerap berbagai
informasi, budaya dan adat istiadat yang ada, sementara komunitas (masyarakat)
diperkaya oleh eksistensi atau karya yang diberikan oleh sang individu.
Pembentukan Penyesuaian Diri
Penyesuaian
diri yang baik, yang selalu ingin diraih setiap orang, tidak akan dapat
tercapai, kecuali bila kehidupan orang tersebut benar-benar terhindar dari
tekanan, kegoncangan dan keteganganjiwa yang bermacam-macam, dan orang tersebut
mampu untuk menghadapi kesukaran dengan cara objektif serta berpengaruh bagi
kehidupannya, serta menikmati kehidupannya dengan stabil, tenang, merasa
senang, tertarik untuk bekerja, dan berprestasi.
Pada dasarnya penyesuaian diri melibatkan
individu dengan lingkungannya, pada penulisan ini beberapa lingkungan yang
dianggap dapat menciptakan penyesuaian diri yang cukup sehat bagi remaja,
diantaranya adalah sebagai berikut:
a. Lingkungan
Keluarga
Semua
konflik dan tekanan yang ada dapat dihindarkan atau dipecahkan bila individu
dibesarkan dalam keluarga dimana terdapat keamanan, cinta, respek, toleransi
dan kehangatan. Dengan demikian penyesuaian diri akan menjadi lebih baik bila
dalam keluarga individu merasakan bahwa kehidupannya berarti.
Rasa
dekat dengan keluarga adalah salah satu kebutuhan pokok bagi perkembangan jiwa
seorang individu. Dalam prakteknya banyak orangtua yang mengetahui hal ini
namun mengabaikannya dengan alasan mengejar karir dan mencari penghasilan yang
besar demi memenuhi kebutuhan ekonomi keluarga dan menjamin masa depan
anak-anak. Hal ini seringkali ditanggapi negatif oleh anak dengan merasa bahwa
dirinya tidak disayangi, diremehkan bahkan dibenci. Bila hal tersebut terjadi
berulang-ulang dalam jangka waktu yang cukup panjang (terutama pada masa kanak-kanak)
maka akan sangat berpengaruh terhadap kemampuan individu dalam menyesuaikan
diri di kemudian hari. Meskipun bagi remaja hal ini kurang berpengaruh, karena
remaja sudah lebih matang tingkat pemahamannya, namun tidak menutup kemungkinan
pada beberapa remaja kondisi tersebut akan membuat dirinya tertekan, cemas dan
stres.
Berdasarkan
kenyataan tersebut diatas maka pemenuhan kebutuhan anak akan rasa kekeluargaan
harus diperhatikan. Orang tua harus terus berusaha untuk meningkatkan kualitas
pengasuhan, pengawasan dan penjagaan pada anaknya; jangan semata-mata
menyerahkannya pada pembantu. Jangan sampai semua urusan makan dan pakaian
diserahkan pada orang lain karena hal demikian dapat membuat anak tidak
memiliki rasa aman.
b. Lingkungan
Teman Sebaya
Begitu
pula dalam kehidupan pertemanan, pembentukan hubungan yang erat diantara
kawan-kawan semakin penting pada masa remaja dibandingkan masa-masa lainnya.
Suatu hal yang sulit bagi remaja menjauh dari temannya, individu mencurahkan
kepada teman-temannya apa yang tersimpan di dalam hatinya, dari angan-angan,
pemikiran dan perasaan. Ia mengungkapkan kepada mereka secara bebas tentang
rencananya, cita-citanya dan dorongan-dorongannya. Dalam semua itu individu
menemukan telinga yang mau mendengarkan apa yang dikatakannya dan hati yang
terbuka untuk bersatu dengannya.
Dengan
demikian pengertian yang diterima dari temanya akan membantu dirinya dalam
penerimaan terhadap keadaan dirinya sendiri, ini sangat membantu diri individu
dalam memahami pola-pola dan ciri-ciri yang menjadikan dirinya berbeda dari
orang lain. Semakin mengerti ia akan dirinya maka individu akan semakin
meningkat kebutuhannya untuk berusaha untuk menerima dirinya dan mengetahui
kekuatan dan kelemahannya. Dengan demikian ia akan menemukan cara penyesuaian
diri yang tepat sessuai dengan potensi yang dimilikinya.
c. Lingkungan Sekolah
Sekolah
mempunyai tugas yang tidak hanya terbatas pada masalah pengetahuan dan
informasi saja, akan tetapi juga mencakup tanggungjawab pendidikan secara luas.
Demikian pula dengan guru, tugasnya tidak hanya mengajar, tetapi juga berperan
sebagai pendidik yang menjadi pembentuk masa depan, ia adalah langkah pertama
dalam pembentukan kehidupan yang menuntut individu untuk menyesuaikan dirinya
dengan lingkungan.
Pendidikan
modern menuntut guru atau pendidik untuk mengamati perkembangan individu dan
mampu menyusun sistem pendidikan sesuai dengan perkembangan tersebut. Dalam
pengertian ini berarti proses pendidikan merupakan penciptaan penyesuaian
antara individu dengan nilai-nilai yang diharuskan oleh lingkungan menurut
kepentingan perkembangan dan spiritual individu. Keberhasilan proses ini sangat
bergantung pada cara kerja dan metode yang digunakan oleh pendidik dalam
penyesuaian tersebut. Jadi disini peran guru sangat berperan penting dalam
pembentukan kemampuan penyesuaian diri individu.
Sumber:
Komentar
:
Penyesuaian
diri merupakan salah satu persyaratan penting bagi terciptanya kesehatan
jiwa/mental individu. Banyak individu yang menderita dan tidak mampu mencapai
kebahagiaan dalam hidupnya, karena ketidak-mampuannya dalam menyesuaikan diri,
baik dengan kehidupan keluarga, sekolah, pekerjaan dan dalam masyarakat pada
umumnya. Tidak jarang pula ditemui bahwa orang-orang mengalami stres dan
depresi disebabkan oleh kegagalan mereka untuk melakukan penyesaian diri dengan
kondisi yang penuh tekanan.
Berdasarkan
uraian artikel di atas dapat dikatakan bahwa penyesuaian diri merupakan suatu
proses dinamis yang bertujuan untuk mengubah perilaku individu agar terjadi
hubungan yang lebih sesuai antara diri individu dengan lingkungannya. Atas
dasar pengertian tersebut dapat diberikan batasan bahwa kemampuan manusia
sanggup untuk membuat hubungan-hubungan yang menyenangkan antara manusia dengan
lingkungannya.Hal yang sama juga sering terjadi pada
remaja, dimana mereka tidak mampu menempatkan diri mereka dengan lingkungan
sekitarnya, hal ini membuat benyak remaja yang kecewa karena mereka merasa
tidak dianggap dan tidak diterima di lingkungan mereka sendiri, kesendirian,
individualis merupakan hal yang ditimbulkan dari masalah tersebut.
Pendidikan remaja
hendaknya tidak didasarkan atas tekanan atau sejumlah bentuk kekerasan dan
paksaan, karena pola pendidikan seperti itu hanya akan membawa kepada
pertentangan antara orang dewasa dengan anak-anak sekolah. Jika para remaja
merasa bahwa mereka disayangi dan diterima sebagai teman dalam proses
pendidikan dan pengembangan mereka, maka tidak akan ada kesempatan untuk
terjadi pertentangan antar generasi.Kedua hal tersebut merupakan proses
pertumbuhan kemampuan individu dalam rangka penyesuaian sosial untuk menahan
dan mengendalikan diri. Pertumbuhan
kemampuan ketika mengalami proses penyesuaian sosial, berfungsi seperti
pengawas yang mengatur kehidupan sosial dan kejiwaan. Boleh jadi hal inilah
yang dikatakan Freud sebagai hati nurani (super ego), yang berusaha mengendalikan
kehidupan individu dari segi penerimaan dan kerelaannya terhadap beberapa pola
perilaku yang disukai dan diterima oleh masyarakat, serta menolak dan menjauhi
hal-hal yang tidak diterima oleh masyarakat.
Apa
yang diserap atau dipelajari individu dalam poroses interaksi dengan masyarakat
masih belum cukup untuk menyempurnakan penyesuaian sosial yang memungkinkan
individu untuk mencapai penyesuaian pribadi dan sosial dengan cukup baik.
Proses berikutnya yang harus dilakukan individu dalam penyesuaian sosial adalah
kemauan untuk mematuhi norma-norma dan peraturan sosial kemasyarakatan. Setiap
masyarakat biasanya memiliki aturan yang tersusun dengan sejumlah ketentuan dan
norma atau nilai-nilai tertentu yang mengatur hubungan individu dengan
kelompok. Dalam proses penyesuaian sosial individu mulai berkenalan dengan
kaidah-kaidah dan peraturan-peraturan tersebut lalu mematuhinya sehingga
menjadi bagian dari pembentukan jiwa sosial pada dirinya dan menjadi pola
tingkah laku kelompok.
Sumber :
Mudjiran.dkk.2007.PPD:UNP
press
Tim Pembina mata kuliah
PPD.2007.Padang
PERKEMBANGAN KONSEP DIRI REMAJA
Konsep diri sangat erat kaitannya dengan diri individu. Kehidupan yang sehat, baik fisik maupun psikologi salah satunya di dukung oleh konsep diri yang baik dan stabil. Konsep diri adalah hal-hal yang berkaitan dengan ide, pikiran, kepercayaan serta keyakinan yang diketahui dan dipahami oleh individu tentang dirinya. Hal ini akan mempengaruhi kemampuan individu dalam membina hubungan interpersonal.
Perkembangan
Konsep Diri
Konsep diri bukan merupakan faktor bawaan atau herediter. Konsep diri merupakan faktor bentukan dari pengalaman individu selama proses perkembangan dirinya menjadi dewasa. Proses pembentukan tidak terjadi dalam waktu singkat melainkan melalui proses interaksi secara berkesinambungan. Burns (1979) menyatakan bahwa konsep diri berkembang terus sepanjang hidup manusia, namun pada tahap tertentu, perkembangan konsep diri mulai berjalan dalam tempo yang lebih lambat. Secara bertahap individu akan mengalami sensasi dari badannya dan lingkungannya, dan individu akan mulai dapat membedakan keduanya.
Lebih lanjut Cooley (dalam Partosuwido, 1992) menyatakan bahwa konsep diri terbentuk berdasarkan proses belajar tentang nilai-nilai, sikap, peran, dan identitas dalam hubungan interaksi simbolis antara dirinya dan berbagai kelompok primer, misalnya keluarga. Hubungan tatap muka dalam kelompok primer tersebut mampu memberikan umpan balik kepada individu tentang bagaimana penilaian orang lain terhadap dirinya. Dan dalam proses perkembangannya, konsep diri individu dipengaruhi dan sekaligus terdistorsi oleh penilaian dari orang lain (Sarason, 1972). Dengan demikian bisa dikatakan bahwa proses pertumbuhan dan perkembangan individu menuju kedewasaan sangat dipengaruhi oleh lingkungan asuhnya karena seseorang belajar dari lingkungannya.
Referensi :
Masa remaja mencari identitas
Masa remaja merupakan
periode perkembangan dibentuk baik oleh terungkapnya biologi dan oleh
norma-norma sosial dan budaya dan harapan. Menurut Erickson, masa remaja
ditandai dengan berbeda ‘krisis’, mereka menghadapi beberapa titik penting
dalam mengembangkan ‘identitas’. Mereka menjawab atau setidaknya menghadapi
pertanyaan identitas tentang pandangan dunia, arah karir, kepentingan,
orientasi jenis kelamin, nilai-nilai, filsafat hidup, dan aspirasi untuk masa
depan. Seperti remaja ‘menjadi orang’ mereka menghabiskan berjam-jam di ruang
kelas dan sekolah dalam interaksi konstan dengan guru, teman sebaya, ide dan
kegiatan.
Erikson (Pajares 2001,
pp.120) menyimpulkan bahwa manusia semua memiliki kebutuhan dasar yang sama dan
bahwa setiap masyarakat harus menyediakan beberapa cara bagi kebutuhan
tersebut. Dia melihat pembangunan sebagai suatu bagian melalui serangkaian
tahap, masing-masing dengan tujuan tertentu nya, kekhawatiran, prestasi, dan
bahaya. Pada setiap tahap, ia menyarankan, individu menghadapi krisis
perkembangan (konflik antara alternatif yang positif dan alternatif yang
berpotensi tidak sehat). Cara citra diri seseorang dan pandangan masyarakat.
Resolusi tidak sehat masalah pada tahap awal dapat memiliki dampak negatif
potensial melalui hidup, meskipun kadang-kadang kerusakan dapat diperbaiki di
tahap-tahap selanjutnya.
Menurut Erikson ((Ziegler
1992pp.197), ditandai oleh tahap identitas ego vs kebingungan peran. Remaja,
fokus tahap kelima di grafik Erikson tentang siklus hidup, dianggap sebagai
sangat signifikan dalam perkembangan psikososial orang tersebut. Tidak lagi
seorang anak tapi belum dewasa (berusia antara 12 dan 20 tahun), remaja
dihadapkan dengan berbagai tuntutan sosial dan perubahan peran yang penting
untuk memenuhi tantangan yang dihadapi dewasa Tugas mereka adalah untuk
mengkonsolidasikan semua pengetahuan mereka. telah mendapatkan tentang diri
mereka sendiri dan mengintegrasikan diri ini berbagai gambar menjadi identitas
pribadi yang menunjukkan kesadaran baik masa lalu dan masa depan yang logis
dari itu. Definisi Erikson mengungkapkan tiga unsur yang terlibat dalam
pembentukan identitas. Pertama, orang muda harus memahami diri mereka sebagai
memiliki ‘kesamaan dalam dan kesinambungan’ dari waktu ke waktu. Kedua, orang
lain yang signifikan juga harus melihat suatu ‘kesamaan dan kesinambungan’
dalam pribadi, dan akhirnya, mereka harus memiliki ‘keyakinan yang masih harus
dibayar “dalam korespondensi antara garis internal dan eksternal kontinuitas .
Dalam penilaian Erikson, dasar bagi remaja sukses dan pencapaian identitas
terintegrasi berasal dari anak usia dini Kegagalan orang muda untuk
mengembangkan hasil identitas pribadi dalam apa Erikson telah disebut ‘krisis
identitas.. Krisis identitas atau kebingungan peran yang paling sering ditandai
oleh ketidakmampuan untuk memilih karir atau mengejar pendidikan lebih lanjut.
Sayangnya, sistem
pendidikan menghasilkan elit, tapi pada kali, menghasilkan banyak pecundang
juga. Sistem pendidikan di Hong Kong bisa dicirikan sebagai pemeriksaan-driven.
Dengan penekanan pada ‘tujuan kinerja’, siswa prihatin tentang mencoba untuk
menjadi yang terbaik, ada kemungkinan bahwa orientasi ini akan menghasilkan
dampak negatif yang lebih atau kecemasan, meningkatkan kemungkinan gangguan dan
pikiran yang tidak relevan dan bahwa hal ini akan mengurangi kapasitas kognitif
, tugas keterlibatan, dan kinerja. Sifat pendidikan di Hong Kong menghambat
daripada memelihara identitas yang positif antara siswa remaja.
Karena ‘seseorang
menjadi’ pekerjaan Erikson, pendekatan lain untuk pemahaman dan identitas telah
muncul. Beberapa perspektif yang paling berpengaruh dan berharga
mempertimbangkan perkembangan rasa diri adalah skema diri. Self-skema yang
abadi dari konsepsi diri yang memediasi perilaku ((Pajares 2001, pp.121). Salah
satu yang paling banyak dibahas dan diteliti skema diri adalah konsep diri.
Konsep diri umumnya mengacu pada ‘komposit ide, perasaan, dan sikap orang
tentang diri mereka sendiri “Kita dapat mempertimbangkan konsep diri menjadi
upaya kami untuk menjelaskan diri kita sendiri, untuk membangun suatu skema
yang mengatur kesan kita, perasaan dan sikap tentang diri kita sendiri.. Ini
adalah struktur kognitif (keyakinan tentang siapa kita adalah). Konsep diri dan
harga diri sering digunakan secara bergantian, meskipun mereka memiliki arti
yang berbeda Harga diri merupakan reaksi afektif.. Hal ini mempengaruhi
keputusan sehari-hari. Jika orang mengevaluasi diri positif, kita bisa
mengatakan mereka memiliki diri yang tinggi harga. Bahkan, memiliki konsep diri
positif dalam mata pelajaran tertentu merupakan faktor yang lebih besar dalam
memilih program ketika konsep diri dalam mata pelajaran lain adalah rendah.
Karena konsep diri adalah produk
dari proses sadar dan kognitif. Beberapa pengukuran dikembangkan dalam rangka
untuk mengukur penduduk konsep diri secara obyektif dan ilmiah. Studi tentang
konsep diri dapat dimasukkan ke dalam model nomotetis. Model nomotetis adalah
sebuah pendekatan untuk penjelasan di mana kita berusaha untuk mengidentifikasi
faktor-faktor kausal yang umumnya dampak beberapa kelas kondisi atau kejadian
(Babbie 2004, pp.22). Nomotetis model didasarkan pada pandangan bahwa fenomena
sosial diatur oleh keteraturan dan berada di luar individu. Psikolog pendidikan
berusaha untuk mengembangkan alat untuk menemukan hukum-hukum umum tentang
konsep-diri. Dengan gagasan mengembangkan hukum umum tentang konsep diri, psikolog
dan ilmuwan sosial mengurangi kompleksitas dari konsep diri menjadi konsep
kunci, seperti efektivitas diri, harga diri, evaluasi diri, dan semua
istilah-istilah ini dapat digunakan bergantian dengan konsep diri (Byrne 1996,
pp.2). Erikson dan psikolog lainnya berusaha membangun identitas sebagai
masalah umum di seluruh populasi dan menganggap bahwa perkembangan manusia
ditandai oleh serangkaian tahapan yang universal umat manusia. Proses dimana
tahapan ini terungkap diatur oleh prinsip epigenetik pematangan.
Sebuah kombinasi dari
metodologi kuantitatif dan kualitatif sering merupakan pilihan yang baik metode
(Newton 2001, pp.45). Pendekatan ini menggabungkan ketelitian dan ketepatan
desain kuantitatif dan data kuantitatif dengan pemahaman mendalam tentang
metode kualitatif dan data. Ada banyak cara model pencampuran. Salah satu
adalah dengan menggunakan kedua metode kuantitatif dan kualitatif dan data
untuk mempelajari fenomena yang sama dalam studi yang sama. Metode yang cocok
untuk mempelajari identitas siswa adalah dengan menggunakan metode kuantitatif
(satu set standar dari konsep diri kuesioner) untuk keluar tunggal para siswa
mengembangkan identitas positif maupun negatif selama dua tahun studi dan
mengumpulkan data kualitatif melalui studi kasus tentang maknanya dan alasan
dari berbagai jenis perkembangan identitas.
Sumber:
Komentar :
Masa emaja adalah masa yang
penuh dengan permasalahan. Statemen ini sudah dikemukakan jauh pada masa lalu
yaitu di awal abad ke-20 oleh Bapak Psikologi Remaja yaitu Stanley Hall.
Pendapat Stanley Hall pada saat itu yaitu bahwa masa remaja merupakan masa
badai dan tekanan (storm and stress) sampai sekarang masih banyak dikutip
orang. masa remaja adalah masa terjadinya krisis identitas atau pencarian
identitas diri.
Berdasarkan tinjauan teori perkembangan, usia remaja adalah masa saat
terjadinya perubahan-perubahan yang cepat, termasuk perubahan fundamental dalam
aspek kognitif, emosi, sosial dan pencapaian (Fagan, 2006). Sebagian remaja
mampu mengatasi transisi ini dengan baik, namun beberapa remaja bisa jadi
mengalami penurunan pada kondisi psikis, fisiologis, dan sosial. Beberapa
permasalahan remaja yang muncul biasanya banyak berhubungan dengan
karakteristik yang ada pada diri remaja, mereka mencoba untuk mencari identitas
diri meraka.
Hal
ini sesuai dengan yang dikemukakan oleh Epstein,1973 (dalam buku PPD,UNP press)
dimana konsp diri sebagai pendapat, perasaan atau gambaran seseorang tentang
dirinya sendiri baik yang menyangkut fisik ataupun psikis (social, emosi,
moral, dan kognitif).
Sumber:
Mudjiran.dkk.2007.PPD:UNP
press
Tim Pembina mata kuliah
PPD.2007.Padang
PERKEMBANGAN
KREATIVITAS ANAK
01-02-2011
diposkan oleh melindacare
Upaya yang
dilakukan orang tua agar anak kreatif orangtua harus menahan diri agar tidak
terlalu terlibat dalam proses kreativitas
anak. Biasanya orangtua yang terlibat dalam proses kreativitas sang anak
justru akan berkembang menjadi sebuah sikap memaksa dengan tidak memberikan
banyak pilihan pada sang anak. Biarkan anak berkembang secara alamiah dengan
sendirinya. Orangtua haruslah menghargai serta memberikan dukungan terhadap
kreativitas sang anak tanpa harus terlalu mengarahkan dan terlibat langsung.
Namun ada
hal penting yang dapat dilakukan oleh orangtua agar anaknya menjadi kreatif,
yaitu dalam memberikan mainan kepada sang anak. Agar anak menjadi kreatif,
orangtua sebaiknya memberikan mainan yang bentuknya dapat diubah-ubah seperti
lilin mainan ataupun Lego. Mainan tersebut dapat merangsang sang anak untuk
menjadi lebih kreatif dibandingkan dengan mainan berupa balok-balok yang hanya
dapat membuat bentuk persegi yang terbatas.
Selain
itu, Anda sebagai orangtua juga sebaiknya menghindari alat-alat permainan yang
dapat membatasi kreativitas
anak seperti buku mewarnai
dengan gambar-gambar yang sudah disediakan. Lebih baik Anda memberikan kertas
atau buku gambar yang polos dan biarkan sang anak menggambar sendiri apa yang
ada di pikirannya, untuk kemudian diwarnai bila perlu. Berikan pujian meskipun
apa yang anak Anda gambar tampak bodoh atau aneh di mata Anda. Hal tersebut
dilakukan sebagai penghargaan Anda terhadap usaha sang anak untuk mencoba suatu
hal yang baru sehingga akan memicu kreativitasnya untuk lebih berkembang lagi.
Sebagai
orangtua, Anda juga jangan terlalu melarang anak untuk berbuat apa yang mereka
inginkan karena hal tersebut dapat memperlambat perkembangan otak anak untuk
melakukan sesuatu yang kreatif. Perhatikan dan jaga dengan baik apa yang sedang
mereka kerjakan serta selalu beri nasehat apabila yang mereka kerjakan kurang
baik. Yang tak kalah penting, Anda sebagai orangtua pun harus kreatif dalam
mencari cara untuk mendidik anak Anda, karena orangtua yang kreatif biasanya
akan mempunyai anak-anak yang kreatif juga. Selamat mencoba.
Sumber :
|
Kreativitas adalah proses
merasakan dan mengamati adanya masalah, membuat dugaan tentang kekurangan
(masalah) ini, menilai dan mengujinya. Proses kreativitas dalam perwujudannya
memerlukan dorongan (motivasi intristik) maupun dorongan eksternal. Motivasi
intrinstik ini adalah intelegensi, memang secara historis kretivitas dan
keberbakatan diartikan sebagai mempunyai intelegensi yang tinggi, dan tes
intellejensi tradisional merupakan ciri utama untuk mengidentifikasikan anak
berbakat intelektual tetapi pada akhirnya hal inipun menjadi masalah karena
apabila kreativitas dan keberbakatan dilihat dari perspektif intelejensi
berbagai talenta khusus yang ada pada peserta didik kurang diperhatikan yang
akhirnya melestarikan dan mengembang biakkan Pendidikan tradisional
konvensional yang berorientasi dan sangat menghargai kecerdasan linguistik
dan logika matematik. Padahal, Teori psikologi pendidikan terbaru yang menghasilkan
revolusi paradigma pemikiran tentang konsep kecerdasan diajukan oleh Prof.
Gardner yang mengidentifikasikan bahwa dalam diri setiap anak apabila dirinya
terlahir dengan otak yang normal dalam arti tidak ada kerusakan pada susunan
syarafnya, maka setidaknya terdapat delapan macam kecerdasan yang dimiliki
oleh mereka.
Salah satu cara dalam
memecahkan masalah ini adalah pengelolaan pelayanan khusus bagi anak-anak
yang punya bakat dan kreativitas yang tinggi, hal ini memang telah
diamanatkan pemerintah dalam undang-undang No.20 tentang sistem pendidikan
nasional 2003, perundangan itu berbunyi ” warga negara yang memiliki kelainan
fisik, emosional, mental, intelektual, dan/atau sosial berhak memperoleh
pendidikan khusus”. Pengertian dari pendidikan khusus disini merupakan
penyelenggaraan pendidikan untuk peserta didik yang berkelainan atau peserta
didik yang memiliki kecerdasan luar biasa yang diselenggarakan secara
inklusif atau berupa satuan pendidikan-pendidikan khusus pada tingkat
pendidikan dasar dan menengah. Pada akhirnya memang diperlukan adanya suatu
usaha rasional dalam mengatur persoalan-persoalan yang timbul dari peserta
didik karena itu adanya suatu manajemen peserta didik merupakan hal yang
sangat penting untuk diperhatikan. Siswa berbakat di dalam kelas mungkin
sudah menguasai materi pokok bahasan sebelum diberikan. Mereka memiliki
kemampuan untuk belajar keterampilan dan konsep pembelajaran yang lebih maju.
Untuk menunjang kemajuan
peserta didik diperlukan modifikasi kurikulum. Kurikulum secara umum mencakup
semua pengalaman yang diperoleh peserta didik di sekolah, di rumah, dan di
dalam masyarakat dan yang membantunya mewujudkan potensi-potensi dirinya.
Jika kurikulum umum bertujuan untuk dapat memenuhi kebutuhan pendidikan pada
umumnya, maka saat ini haruslah diupayakan penyelenggaraan kurikulum yang
berdiferensi untuk memberikan pelayanan terhadap perbedaan dalam minat dan
kemampuan peserta didik. Dalam melakukan kurikulum yang berbeda terhadap
peserta didik yang mempunyai potensi keberbakatan yang tinggi, guru dapat
merencanakan dan menyiapkan materi yang lebih kompleks, menyiapkan bahan ajar
yang berbeda, atau mencari penempatan alternatif bagi siswa. Sehingga setiap
peserta didik dapat belajar menurut kecepatannya sendiri.
Dalam paradigma berpikir
masyarakat Indonesia tentang kreativitas, cukup banyak orangtua dan guru yang
mempunyai pandangan bahwa kreativitas itu memerlukan iklim keterbukaan dan
kebebasan, sehingga menimbulkan konflik dalam pembelajaran atau pengelolaan
pendidikan, karena bertentangan dengan disiplin. Cara pandang ini sangatlah
tidak tepat. Kreativitas justru menuntut disiplin agar dapat diwujudkan
menjadi produk yang nyata dan bermakna. Displin disini terdiri dari disiplin
dalam suatu bidang ilmu tertentu karena bagaimanapun kreativitas seseorang
selalu terkait dengan bidang atau domain tertentu, dan kreativitas juga
menuntut sikap disiplin internal untuk tidak hanya mempunyai gagasan tetapi
juga dapat sampai pada tahap mengembangkan dan memperinci suatu gagasan atau
tanggungjawab sampai tuntas.
Masa depan membutuhkan
generasi yang memiliki kemampuan menghadapi tantangan dan perubahan yang
terjadi dalam era yang semakin mengglobal. Tetapi penyelenggaraan pendidikan
di Indonesia saat ini belum mempersiapkan para peserta didik dengan kemampuan
berpikir dan sikap kreatif yang sangat menentukan keberhasilan mereka dalam
memecahkan masalah. Kebutuhan akan kreativitas dalam penyelenggaraan
pendidikan dewasa ini dirasakan merupakan kebutuhan setiap peserta didik.
Dalam masa pembangunan dan era yang semakin mengglobal dan penuh persaingan
ini setiap individu dituntut untuk mempersiapkan mentalnya agar mampu
menghadapi tantangan-tantangan masa depan. Oleh karena itu, pengembangan
potensi kreatif yang pada dasarnya ada pada setiap manusia terlebih pada
mereka yang memiliki kemampuan dan kecerdasan luar biasa perlu dimulai sejak
usia dini, Baik itu untuk perwujudan diri secara pribadi maupun untuk
kelangsungan kemajuan bangsa.
Dalam pengembangan bakat dan
kreativitas haruslah bertolak dari karakteristik keberbakatan dan juga
kreativitas yang perlu dioptimalkan pada peserta didik yang meliputi ranah
kognitif, afektif, dan psikomotor. Motivasi internal ditumbuhkan dengan
memperhatikan bakat dan kreativitas individu serta menciptakan iklim yang
menjamin kebebasan psikologis untuk ungkapan kreatif peserta didik di
lingkungan rumah, sekolah, dan masyarakat. Merupakan suatu tantangan bagi
penyelenggaraan pendidikan di Indonesia untuk dapat membina serta
mengembangkan secara optimal bakat, minat, dan kemampuan setiap peserta didik
sehingga dapat mewujudkan potensi diri sepenuhnya agar nantinya dapat
memberikan sumbangan yang bermakna bagi pembangunan masyarakat dan negara.
Teknik kreatif ataupun taksonomi belajar pada saat ini haruslah berfokus pada
pengembangan bakat dan kreativitas yang diterapkan secara terpadu dan
berkesinambungan pada semua mata pelajaran sesuai dengan konsep kurikulum
berdiferensi untuk siswa berbakat. Dengan demikian diharapkan nantinya akan
dihasilkan produk-produk dari kreativitas itu sendiri dalam bidang sains,
teknologi, olahraga, seni dan budaya. (by Khumaidi Tohar)
|
|
|
Komentar:
Siapa
tidak ingin memiliki anak yang kreatif? Setiap orangtua pasti menginginkan agar
putra atau putrinya menjadi anak yang kreatif agar menjadi orang yang sukses di
masa depan. Untuk itu, biasanya orangtua mengajari berbagai hal kepada
anak-anaknya dengan tujuan agar anaknya menjadi lebih kreatif dibandingkan
dengan anak-anak lain, padahal sebenarnya hal tersebut salah besar.
Sebuah
penelitian yang dilakukan di Amerika Serikat baru-baru ini ternyata
mengungkapkan bahwa anak-anak yang orangtuanya banyak terlibat dalam proses
kreativitas mereka justru kalah kreatif dibandingkan dengan anak-anak yang
orangtuanya membiarkan mereka sendirian tanpa banyak terlibat dalam proses
kreativitas mereka. Penelitian tersebut juga menunjukkan bahwa anak-anak yang
diajari berbagai macam hal oleh orangtuanya justru nantinya akan menjadi kurang
kreatif. Hal tersebut diperparah lagi dengan keterlibatan orangtua yang terlalu
berlebihan dalam proses kreativitas
anak.
Hal ini sesuai dengan yang
diungkapkan Utami Munandar,2004 (dalam buku PPD.UNPpress) yang menyatakan bahwa
perilaku kreatif tidak hanya memerlukan kemampuan untuk berpikir kreatife
(kognitif), tetapi juga memerlukan adanya sikap kreatif (afektif), pada saat
sikap kreatife dioperasikan. Bila kita ingin menjadkan suatu anak kreatif, hal
yang harus dilakukan oleh orang tua adalah membiarkan anak melakukan hal-hal
yang disukainya dan tugas orang tua adalah mengawasi seraya membimbing nak
tersebut mengembangkan kreatifitas dan imajinsinya.
Sumber:
Mudjiran.dkk.2007.PPD:UNP
press
Tim Pembina mata kuliah
PPD.2007.Padang
BAKAT KHUSUS PADA ANAK
Istilah bakat
adalah suatu karakteristik unik individu yang membuatnya mampu melakukan
aktivitas dan tugas secara mudah dan sukses. Dari keterangan ini dapat
dicontohkan bahwa burung punya bakat terbang, ikan untuk berenang, dan harimau
berlari kencang dan berburu.
Bakat ditentukan oleh banyak hal, heriditer (faktor genetik) selalu memegang peranan walaupun bukan satu-satunya yang terpenting, training (latihan)
Bakat ditentukan oleh banyak hal, heriditer (faktor genetik) selalu memegang peranan walaupun bukan satu-satunya yang terpenting, training (latihan)
Berdasarkan pendapat para
ahli tersebut ditarik kesimpulan sebagai berikut :
1. Bakat meruakan kemampuan bawaan, sebagai potensi yang masih perlu dikembangkan dan dilatih agar dapat terwujud.
2. Bakat tidaklah diturunkan semata, tetapi merupakan interaksi dari faktor keturuan dan factor lingkungan, artinya dibawa sejak lahir berupa potensi dan berkembang melalui proses belajar,dan memiliki ciri khusus..
3. Orang yang berbakat dalam bidang tertentu diperkirakan akan mampu mencapai prestasi tinggi dalam bidang itu. Jadi prestasi sebagai perwujudan bakat dan kemampuan.
4. Bakat mencakup ciri-ciri lain yang dapat memberi kondisi atau suasana memungkinkan bakat tersebut terealisasi, termasuk intelegensi, kepribadian, interes, dan keterampilan khusus. “Bakat adalah suatu kapasitas untuk belajar sesuatu” arti kapasitas adalah potensi kemampuan untuk berkembang.
Bakat khusus itu sendiri merupakan kemampuan bawaan yang dimiliki seseorang yang berupa potensis khusus yang jika dikembangkan akan membuat seseorang dapat memiliki kemampuan pada bidang tertentu.
Setiap siswa memiliki bakat khusus yang berbeda beda, sehingga seorang guru harus mengetahui bakat apa saja yang ada pada diri peserta didiknya. Untuk itu sangat penting bagi seorang guru mengetahui jenis jenis bakat khusus.
Menurut Mohammad asrori (2008) setidaknya ada lima jenis bakat khusus, baik yang masih berupa potensi maupun yang sudah terwujud, yaitu:
1. Bakat akademik khusus, bakat khusus akademik ialah kemampuan bawaan khusus yang dimiliki seseorang yang cendrung pada arah akademis, misalnya seseorang tersebut mempunyai kemampuan dalam ilmu matematika, fisika, bahasa dan lain sebagainya.
2. Bakat kreatif produktif, bila anda pernah melihat seseorang yang mampu berkarya dan menciptakan sesuatu yang baru seperti menghasilkan rancangan arsitektur atau membuat tehnologi baru, itulah orang yang memiliki bakat kreatif dan produktif.
3. bakat seni, bakat seni ialah kemampuan yang dimiliki seseorang yang cendrung ke arah hiburan atau seni. Misalnya seseorang tersebut pandai melukis, bernyanyi, bermbain musik dan lain sebagainya.
4. bakat kinestik/ promotorik, bakat kinestik atau promotorik merupakan kemampuan yang dimiliki seseorang yang cenderung pada kinerja seseorang. Misalnya seseorang tersebut pandai bermain volley, menembak, dan lain sebagainya.
5. bakat sosial, bakat sosial merupakan kemampuan seseorang yang dimiliki seseorang yang cndrung mengarah pada interaksi dengan orang orang yang ada di sekitarnya, misalnya ia pandai bergaul, pandai berkomunikasi dan lain sebagainya.
Bakat khusus sangat memerlukan pengembangan agar seseorang dapat berprestasi. Sebagai seorang guru anda bisa memberikan bimbingan kepada siswa anda seseuai dengan bakat khsusus yang dimiliki oleh masing masing siswa anda.
Sumber: Ansori Mohammad, Psikologi Pembelajaran, (Bandung: CV Wacana Prima, 2008)
1. Bakat meruakan kemampuan bawaan, sebagai potensi yang masih perlu dikembangkan dan dilatih agar dapat terwujud.
2. Bakat tidaklah diturunkan semata, tetapi merupakan interaksi dari faktor keturuan dan factor lingkungan, artinya dibawa sejak lahir berupa potensi dan berkembang melalui proses belajar,dan memiliki ciri khusus..
3. Orang yang berbakat dalam bidang tertentu diperkirakan akan mampu mencapai prestasi tinggi dalam bidang itu. Jadi prestasi sebagai perwujudan bakat dan kemampuan.
4. Bakat mencakup ciri-ciri lain yang dapat memberi kondisi atau suasana memungkinkan bakat tersebut terealisasi, termasuk intelegensi, kepribadian, interes, dan keterampilan khusus. “Bakat adalah suatu kapasitas untuk belajar sesuatu” arti kapasitas adalah potensi kemampuan untuk berkembang.
Bakat khusus itu sendiri merupakan kemampuan bawaan yang dimiliki seseorang yang berupa potensis khusus yang jika dikembangkan akan membuat seseorang dapat memiliki kemampuan pada bidang tertentu.
Setiap siswa memiliki bakat khusus yang berbeda beda, sehingga seorang guru harus mengetahui bakat apa saja yang ada pada diri peserta didiknya. Untuk itu sangat penting bagi seorang guru mengetahui jenis jenis bakat khusus.
Menurut Mohammad asrori (2008) setidaknya ada lima jenis bakat khusus, baik yang masih berupa potensi maupun yang sudah terwujud, yaitu:
1. Bakat akademik khusus, bakat khusus akademik ialah kemampuan bawaan khusus yang dimiliki seseorang yang cendrung pada arah akademis, misalnya seseorang tersebut mempunyai kemampuan dalam ilmu matematika, fisika, bahasa dan lain sebagainya.
2. Bakat kreatif produktif, bila anda pernah melihat seseorang yang mampu berkarya dan menciptakan sesuatu yang baru seperti menghasilkan rancangan arsitektur atau membuat tehnologi baru, itulah orang yang memiliki bakat kreatif dan produktif.
3. bakat seni, bakat seni ialah kemampuan yang dimiliki seseorang yang cendrung ke arah hiburan atau seni. Misalnya seseorang tersebut pandai melukis, bernyanyi, bermbain musik dan lain sebagainya.
4. bakat kinestik/ promotorik, bakat kinestik atau promotorik merupakan kemampuan yang dimiliki seseorang yang cenderung pada kinerja seseorang. Misalnya seseorang tersebut pandai bermain volley, menembak, dan lain sebagainya.
5. bakat sosial, bakat sosial merupakan kemampuan seseorang yang dimiliki seseorang yang cndrung mengarah pada interaksi dengan orang orang yang ada di sekitarnya, misalnya ia pandai bergaul, pandai berkomunikasi dan lain sebagainya.
Bakat khusus sangat memerlukan pengembangan agar seseorang dapat berprestasi. Sebagai seorang guru anda bisa memberikan bimbingan kepada siswa anda seseuai dengan bakat khsusus yang dimiliki oleh masing masing siswa anda.
Sumber: Ansori Mohammad, Psikologi Pembelajaran, (Bandung: CV Wacana Prima, 2008)
Sumber:
B. Jenis-jenis Bakat Khusus
Setiap orang memiliki kemampuan yang berbeda sesuai dengan potensi yang ada pada dirinya. Potensi yang dimiliki individu ada yang bersifat umum dan ada yang khusus. Intelegensi termasuk kemampuan umum, sedangkan kemampuan khusus mengacu kepada bakat yang dimiliki individu yang biasanya disebut dengan bakat khusus. Bakat khusus adalah seperangkat nilai yang dianggap sebagai tanda kemampuan individu untuk menerima latihan atau respon, seperti kemampuan berbahasa, musik, berhitung, mekanik, olahraga, dan sebagainya.
Raven (dalam Pali, 1995) mengelompokkan bakat khusus seseorang sebagai berikut : bakat pemahaman verbal, kemampuan numerical, skolastik, bakat kerani (kesekretariatan), pemahaman mekanik, tilikan (pandangan) ruang atau berpikir 3 dimensi, dan bakat bahasa.
Selanjutnya ditinjau dari cara berfungsinya, Ny. Moesono (1979) mengemukakan bahwa bakat dapat dikelompokkan menjadi 2 bagian, yaitu :
a. Bakat kemahiran atau kemampuan mengenai bidang pekerjaan yang khusus seperti bakat musik, bakat menari, olahraga (sepakbola, senam), dan sebagainya.
b. Bakat khusus tertentu yang diperlukan sebagai perantara untuk merealisir kemampuan tertentu, misalnya bakat melihat ruang (dimensi) yang diperlukan untuk merealisir bakat insinyur, bakat berhitung untuk merealisir bakat sebagai ahli statistik atau akuntansi, bakat verbal untuk merealisisr baakt sebagai wartawan atau penulis novel, bakat bahasa untuk merealisir bakat orator dan penceramah.
C. Hubungan Antara Bakat Khusus dengan Kreativitas
Dari hasil-hasil penelitian Keberbakatan dan Anak Berbakat, Renzulli dkk. (1981) menarik kesimpulan bahwa yang menentukan keberbakatan seseorang adalah pada hakekatnya tiga kelompok (cluster) ciri-ciri, yaitu : kemampuan di atas rata-rata, kreativitas, pengikatan diri (tanggung jawab terhadap tugas). Seseorang yang berbakat adalah seseorang yang memiliki ketiga ciri tersebut. Kreativitas sebagai kemampuan untuk menciptakan sesuatu yang baru, sebagai kemampuan untuk memberikan gagasan-gagasan baru yang dapat diterapkan dalam pemecahan masalah atau sebagai kemampuan untuk melihat hubungan-hubungan baru antara unsur-unsur yang sudah ada sebelumnya, adalah sama pentingnya.
Kreativitas merupakan salah satu ciri dari perilaku yang berbakat karena kreativitas juga merupakan manifestasi dari suatu proses pengembangan bakat. Meskipun demikian, hubungan antara kreativitas dan bakat tidak selalu menunjukkan bukti-bukti yang memuaskan. Bakat yang rendah memang diikuti oleh tingkat kreativitas yang rendah pula. Namun semakin tinggi bakat seseorang, tidak selalu diikuti tingkat kreativitas yang tinggi pula. Hal ini tergantung pada proses perkembangan bakat yang harusnya disertai dengan proses perkembangan kreativitas.
D. Hubungan Bakat Khusus dengan Prestasi Akademik
Inteligensi merupakan suatu konsep mengenai kemampuan umum individu dalam menyesuaikan diri dengan lingkungannya. Dalam kemampuan yang umum ini, terdapat kemampuan-kemampuan yang amat spesifik. Kemampuan-kemampuan yang spesifik ini memberikan pada individu suatu kondisi yang memungkinkan tercapainya pengetahuan, kecakapan, atau keterampilan tertentu setelah melalui suatu latihan. Inilah yang disebut Bakat. Karena suatu tes inteligensi tidak dirancang untuk menyingkap kemampuan-kemampuan khusus ini, maka bakat tidak dapat segera diketahui lewat tes inteligensi.
Adapun yang dimaksud dengan anak berbakat adalah mereka yang karena memiliki kemampuan-kemampuan yang unggul dan mampu memberikan prestasi yang tinggi. Anak-anak ini membutuhkan program pendidikan yang berdeferensiasi atau pelayanan yang di luar jangkauan program sekolah biasa, agar dapat mewujudkan bakat-bakat mereka secara optimal, baik bagi pengembangan diri maupun untuk dapat memberikan sumbangan yang bermakna bagi kemajuan masyarakat dan negara. Bakat-bakat tersebut baik sebagai potensi maupun yang sudah terwujud meliputi : kemampuan intelektual umum, kemampuan berpikir kreatif-produktif, kemampuan dalam salah satu bidang seni, kemampuan psikomotor, kemampuan psikososial seperti bakat kepemimpinan.
Keberbakatan itu meliputi bermacam-macam bidang, namun biasanya seseorang mempunyai bakat istimewa dalam salah satu bidang saja. Dan tidak pada semua bidang. Misalnya : Si A menonjol dalam matematika, tetapi tidak dalam bidang seni. Si B menunjukkan kemampuan memimpin, tetapi prestasi akademiknya tidak terlalu menonjol. Hal ini kadang-kadang dilupakan oleh pendidik. Mereka menganggap bahwa seseorang telah diidentifikasi sebagai berbakat harus menonjol dalam semua bidang. Selanjutnya perumusan tersebut menekankan bahwa anak berbakat mampu memberikan prestasi yang tinggi. Mampu belum tentu terwujud. Contoh, ada anak-anak yang sudah dapat mewujudkan bakat mereka yang unggul, tetapi ada pula yang belum. Bakat memerlukan pendidikan dalam latihan agar dapat terampil dalam prestasi yang unggul.
E. Usaha-usaha Guru untuk Mengembangkan Bakat Khusus
Sekolah merupakan salah satu lembaga sosial yang diharapkan dapat membantu anak-anak mencapai prestasi pendidikan yang baik. Namun disamping sekolah, orang tua memiliki peran yang sangat berarti dalam mengembangkan bakat anak. Dipercaya bahwa adanya peran pengasuhan yang baik cenderung membuka peluang lebih besar bagi anak-anak untuk mengembangkan bakatnya sesuai dengan minat anak. Peran pola asuh keluarga yang dilandasi kasih sayang, dan disertai pemberian stimulasi (perangsangan) yang cukup dan sesuai dipercaya dapat melahirkan anak-anak yang berbakat.Kerja sama antara sekolah dan orang tua sangat dibutuhkan. Para orang tua bagi anak-anak yang berprestasi tinggi memberikan pola asuh yang baik disertai kehangatan, selanjutnya para guru memberikan pelatihan yang baik.
Bakat bersifat potensial yang memerlukan pengembangan. Untuk pengembangan bakat ada sejumlah hal yang harus dilakukan oleh para guru, antara lain adalah :
Perkaya anak
dengan macam-macam pengalaman, dan membangun motivasi belajar. Dengan cara ini
anak akan dapat menemukan dimana dia berbakat.Dorong atau rangsanglah anak
untuk meluaskan kemampuannya, setelah anak mengarang, anjurkan dia untuk
mengambarkannya.Bersimpati atau bersama-sama melakukan kegiatan dengan anak.Berilah
penghargaan atau pujian atas usaha yang dilakukannya sekecil apapun usaha
tersebut.Sediakanlah sarana yang memadai untuk pengembangan bakat anak.
Namun, ada hal-hal yang Orang tua hendaknya waspada akan diri mereka apakah mereka memberikan respon sungguh terhadap kebutuhan anak ataukah hanya memberikan respon kepada bakat yang dimiliki anak. Tidak sedikit orang tua yang salah dalam hal ini, yaitu adakalanya orang tua menyadari anak mereka berbakat lantas secara menggebu-gebu memaksa anakya mengikuti latihan-latihan dengan program yang sangat ketat. Dorongan seperti ini lambat laun akan membuat anak menyadari bahwa orang tua mereka lebih berminat pada bakat yang mereka miliki daripada memperhatikan kesejahteraan dan kebahagiaan diri mereka selaku anak-anaknya.
Namun, ada hal-hal yang Orang tua hendaknya waspada akan diri mereka apakah mereka memberikan respon sungguh terhadap kebutuhan anak ataukah hanya memberikan respon kepada bakat yang dimiliki anak. Tidak sedikit orang tua yang salah dalam hal ini, yaitu adakalanya orang tua menyadari anak mereka berbakat lantas secara menggebu-gebu memaksa anakya mengikuti latihan-latihan dengan program yang sangat ketat. Dorongan seperti ini lambat laun akan membuat anak menyadari bahwa orang tua mereka lebih berminat pada bakat yang mereka miliki daripada memperhatikan kesejahteraan dan kebahagiaan diri mereka selaku anak-anaknya.
Sumber:
komentar:
Bakat
khusus merupakan suatu potensi yang memang ada sejak manusia lahir, namun bakat
khusus perlu dilatih lagi dan dikembangkan agar lebih maksimal berkembangnya
bakat tersebut. Tidak heran bila kita lihat ada ank kecil yang masih berumur 8
tahun, tetapi telah pandai memainkan alat-alat music yang anak lain belum tentu
dapat melakukannya. Setiap anak mempunyai potensi/bakat khusus yang
berbeda-beda, tergantung dari bagaimana lingkungannya merespon bakat yang
dimilii anak tersebut.
Hal
ini sesuai dengan Dyke Bingham (dalam Ny.
Moesono;1989),
yang menyatakan bahwa bakat adalah kemampuan seseorang untuk mencapai sesuatu
dengan sedikit latihan. Seseorang yang memiliki bakat khusus terhadap sesuatu,
ia akan merasa mudah untuk menguasainya bila dibandingkan dengan seseorang yang
melakukan hal yang sama namun tidak berbakat terhadap sesuatu yang ia kerjakan.
Bakat khusus seseorang akan terus
berkembang mencapai kea rah yang baik bila anak yang memiliki bakat tersebut
terus direspon oleh lingkungannya, baik dari orang tua ataupun teman-teman
sebaya, namun bakat khusus seorang anak akan terpendam dan tidak tampak apabila
lingkungan anak tersebut tidak merespon bakat yang dimiliki anak tersebut. Hal
ini juga sesuai dengan yang dikemukakan Suganda Purbakawatja (1982) dalam buku
PPD,UNP press yang menyatakan bahwa bakat sebagai benih dari suatu sifat, yang
baru akan tampak nyata, jika mendapat kesempatan atau kemugkinan untuk
berkembang.
Sumber:
Mudjiran.dkk.2007.PPD:UNP
press
Tim Pembina mata kuliah
PPD.2007.Padang
TINGLAH
LAKU MENYIMPANG PADA REMAJA
Kriminal atau (Hanya) Kenakalan Remaja?

Kenakalan pada remaja (sumber: duniaremaja99.blogspot.com)
Kasus-kasus
kenakalan anak dan remaja sering menimbulkan pro dan kontra di antara pihak
penegak hukum dan pemerhati dunia anak. Lihat saja kasus penusukan teman sebaya
yang dilakukan oleh seorang siswa SD berinisal Amn. Kasus ini mendapat
perhatian dari banyak pihak karena termasuk “sadis” untuk dikategorikan sebagai
kenakalan remaja (usia biologis Amn adalah 13 tahun). Berdasarkan keterangan
yang dihimpun Kepolisian dari pihak-pihak yang terkait dengan kasus ini, Amn
sebelumnya ternyata mencuri ponsel milik korban. Hasil penjualan ponsel
tersebut dibagi-bagi kepada dua orang teman Amn berinisial Gb dan Kf. Kf yang
mendapatkan “uang jatah” paling kecil dan merasa pembagian itu tidak adil,
akhirnya melaporkan pencurian tersebut kepada korban. Korban meminta agar Amn
mengembalikan ponsel miliknya, namun Amn menolak. Penusukan itu terjadi ketika
Amn dan korban berangkat sekolah bersama-sama (KOMPAS, 19 Februari 2012).
Melalui
kacamata hukum, bukti-bukti dan keterangan dari saksi yang memberatkan Amn
adalah pintu menuju hukuman.Tapi Amn masih dikategorikan sebagai anak di bawah
umur yang seharusnya mendapatkan pembinaan, bukan hukuman penjara.
Pertanyaannya adalah: Bagaimana Amn yang baru berusia 13 tahun bisa melakukan
tindakan yang keji bahkan untuk ukuran orang dewasa sekalipun?
Jika dilihat dari perspektif psikologi perkembangan, penyimpangan
perilaku yang terjadi pada anak-anak di bawah umur dan remaja seharusnya
dikategorikan pada kenakalan remaja (juvenile delinquency).Kenakalan
remaja ini adalah perilaku-perilaku yang secara umum tidak dibenarkan oleh
normal sosial, seperti tindak pelanggaran di rumah ataupun sekolah hingga ke
ranah kriminal. Lalu apa bedanya jika tindakan yang melanggar norma sosial
(termasuk tindak kriminal) tersebut dilakukan oleh orang dewasa? Orang dewasa
dianggap sadar sepenuhnya terhadap setiap tindakan yang ia lakukan (meskipun
tidak semuanya seperti ini). Sementara Amn adalah siswa SD berusia 13 tahun,
yang artinya ia masih dikategorikan sebagai remaja (lebih spesifik lagi fase
remaja awal). Secara umum, indikator perkembangan pada fase usia tersebut
adalah kebingungan terhadap identitas. Remaja membentuk identitas dari apa yang
ia lihat (imitasi). Amn tinggal bersama kakaknya di sebuah rumah petak.Tidak
ada lahan bermain disana.Sementara kakaknya bekerja dari pagi hingga
sore.Kemungkinan besar, Amn tidak mendapatkan perhatian dari keluarga yang
seharusnya melindunginya. Lingkungan berperan penting dalam pembentukan
karakter seseorang, apalagi jika ia masih remaja.
Pada masa-masa usia remaja awal, apapun situasi tidak menyenangkan
yang dihadapi oleh si remaja, pasti akan ditanggapi dengan berlebihan (bahasa
gaulnya: lebay). Misalnya ketika ada remaja yang diejek oleh temannya gara-gara
warna pakaiannya dianggap norak. Yakinlah, hari itu pasti akan menjadi bad day bagi
si remaja. Dia bisa saja ia menjadi malas keluar kamar dan malas makan. Oleh
karena itu, figur orang dewasa (terutama orangtua dan keluarga) sangat
diperlukan oleh remaja agar ia dapat berkeluh kesah tentang kegalauannya.
Tekanan sekecil apa pun, bagi remaja akan dianggap sebagai sebuah petaka besar.
Kasus Amn ini bermula dari pencurian ponsel.Mengapa Amn berani
mencuri ponsel kemudian menjualnya?Kemungkinan besar, Amn pernah melakukan
perilaku mencuri “kecil-kecilan” sebelum akhirnya berani mencuri ponsel.Apakah
Amn memang membutuhkan uang sehingga harus menjual ponsel?Kita tidak tahu.Satu
hal yang pasti, ada kerancuan identitas sehingga Amn akhirnya melakukan
perilaku mencuri. Bisa jadi ia kurang mendapatkan perhatian dari keluarga dan
lingkungannya. Perilaku ini berlanjut ke penusukan dengan menggunakan senjata
tajam. Bagaimana Amn bisa setega itu dan mencampakkan korban ke dalam got (korban
ditemukan bersimbah darah di dalam got)? Menurut saya, Amn melakukan imitasi
perilaku dari media massa (koran ataupun televisi). Jika kita perhatikan,
nyaris semua korban pembunuhan yang diberitakan oleh media massa ditemukan di
selokan, semak-semak, atau tempat tersembunyi lainnya. Amn merasa tertekan
karena pencuriannya diketahui oleh korban.Ia kemudian menusuk korban dengan
senjata tajam dan mencampakkan korban ke got sebagai cara untuk menghilangkan
jejak perbuatannya.
Korban sudah ada, lalu bagaimana hukuman yang pantas untuk
kenakalan remaja (bahkan yang masuk kategori sadis seperti kasus Amn ini)?
Penjara bukanlah tempat pembinaan yang tepat karena seringkali dari penjaralah
anak-anak belajar tentang kejahatan yang lain. Amn seharusnya diberikan
pembinaan dari profesional seperti psikolog atau konselor. Berani menyakiti
orang lain dengan senjata tajam menunjukkan bahwa Amn banyak belajar tentang
norma sosial yang dilanggar. Misalnya, norma sosial mengatakan bahwa berbohong
adalah perilaku yang salah. Tapi ketika pada realitanya kita melihat semua
orang pernah berbohong, masihkah kita teguh untuk tidak melakukan
kebohongan?Kasus ini adalah refleksi dari gagalnya lingkungan dan orangtua
membentuk karakter positif dari seorang anak.Amn kemungkinan pernah menyaksikan
begitu banyak normal sosial yang dilanggar (mulai dari yang sepele hingga yang
berat seperti pencurian misalnya).Anak hanyalah korban dari kegagalan
pendidikan tersebut.
Kegalauan yang terlihat berlebihan pada remaja saat ini sebenarnya
merupakan refleksi dari kebutuhan yang besar agar mereka diperhatikan.Artinya,
remaja-remaja di perkotaan banyak yang kurang mendapatkan perhatian dari
lingkungan terdekat mereka. Jika remaja bisa menemukan saluran positif bagi
energinya yang begitu besar, yakinlah mereka akan menjadi manusia kreatif. Mari
kita selamatkan generasi muda bangsa ini dari kenakalan-kenakalan yang dapat
menghancurkan masa depan mereka. Generasi muda yang hancur adalah kerugian
besar bagi sebuah negara.
http://www.sekolahindonesia.com/sidev/NewDetailArtikel.asp?iid_artikel=13&cTipe_artikel=3Web
: Perpustakaan-online.blogspot.com/…/pendidikan
kewarganegaraan.html
komentar :
Kasus
amn di atas merupakan suatu efek perilaku menyimpang remaja yang kurangnya
perhatian terhadap kebutuhan ramaja pada perkembangannya. Remaja yang
seharusnya diperhatikan, di didik dan diberikan kasih saying, namun sebaliknya
pada fase-fase perkembangannya remaja malah tidak diacuhkan dan tidak dipahami,
maka yang terjadi remaja tersebut melakukan perilaku yang mnyimpang yang
mendekati kebrutalan dan anarkisme yang menjerumuskan remaja tersebut melakukan
perilaku kriminalitas. Seperti kasus di atas, amn sebenarnya telah menyesal
telah melakukan pencurian, namun dia merasa frustasi karena merasa dikhianati
dan takut di cemooh oleh teman-temannya atas perbuatan yang ia lakukan. Oleh
sebab itu dia mencoba mempertahankan dirinya, namun cara mempertahankan dirinya
ini terlalu berlebihan dengan cara menghabisi nyawa temannya sendiri.
Hal
ini sesuai dengan menurut aliran Humanisme (dalam buku PPD.UNP press)
menyatakan bahwa terjadinya perilaku menyimpang itu disebabkan oleh, seseorang
belajar mengenai sikap penyesuaian yang salah, dan seseorang menggunakan
cara-cara mekhanisme pertahanan diri (defence mechanism) secara berlebihan.
Slavin (1976) dalam buku PPD.UNP press menyatakan bahwa remaja pada umumnya
mengalami gangguan emosianal dan hal ini dapat menimbulkan perilaku menyimpang
(delinguenncy), seperti penyalahgunaan NAPZA dan penyimpangan seksual.
Referensi:
Mudjiran.dkk.2007.PPD:UNP press


Tidak ada komentar:
Posting Komentar